
Mendengar seseorang berteriak membuat mereka terkejut, dengan segera Adi langsung berdiri dan membenarkan baju yang di rasa berantakan dan sedikit basah yang terdapat dari pakaian yang melekat di tubuh Dia.
"Ibu! Sejak kapan Ibu berada di sini," Adi yang merasa seperti narapidana yang sedang di interogasi , hanya memasang wajah melasnya. Dan berharap jika Ibunya tak akan salah paham.
"Gak penting pertanyaan itu, yang Ibu pengen denger, sejak kapan kalian melakukan hal yang memalukan seperti itu, jawab Adi!"
Adi yang mendapat serangan dari Ibunya, mencoba menjelaskan. Sedangkan Dia, Dia tak berani menatap perempuan paruh bayah itu, dan sedari tadi hanya menunduk dengan muka serta pakaian yang amburadul.
"Memangnya apa yang kami lakukan Bu, kami tidak melakukan apa-apa." Bela Adi.
"Omong kosong, kamu lelaki dewasa mana mungkin gak ngelakuin apa-apa," ucap Ibunya Adi yang terus saja mendesak supaya anaknya mau mengakui, nyatanya beliau melihat dengan jelas apa yang sedang terjadi barusan, dan Ibunya tak mempercayainya dengan begitu saja karena melihat Adi yang menindih perempuan yang belum pernah ia lihat.
"Kalau tidak percaya tanya saja sama Dia, iya kan De, kita gak ngelakuin apa-apa," sambil memberi isyarat supaya Dia mau ikut dengan permainannya.
"Bapak tadi mengambil Bibir saya yang masih ting-ting." Terang Dia, dan berkata jujur apa yang sedang di alaminya barusan.
Alamak mampus saya sebentar lagi. Batin Adi, dengan keringat yang sudah membasahi seluruh badannya.
"Nah kan, masih mu menyangkal kamu."
"Adi! sini kamu," Ibunya memanggil namun terlihat dari sorot matanya yang teramat tajam sedang merencanakan sesuatu.
Dengan langkah yang tak rela, akhirnya Adi mendekati Ibunya.
Dan...
"Auh, sakit Bu, sakit. Lepaskan bisa copot nanti."
"Sukurin, ini belum seberapa, mau Ibu sunat lagi huh, dasar anak hobinya bikin ulah saja."
"Aduh sakit, nanti kalau di sunat habis dong." Protes Adi.
Peletak.
"Aih, sakit Bu! udah di jewer masih juga di sentil," ucap Adi sambil mengelus keningnya dan kupingnya.
Kini Adi sudah mirip kucing kecil saat Ibunya ada.
"Hye kau!"
"Saya Bu," sambil menunjuk diri Dia menimpali.
"Bukan, lalu kalau bukan kamu siapa lagi,"
Hehehehe.
Sambil menggaruk kepalanya Dia tertawa tipis seperti seorang yang habis terpergok.
"Nama kamu siapa?" tanya Ibunya Adi yang bernama, Bu Nana.
"Dia lestari Bu,"
"Huh," Bu Rosma sedikit terkejut saat Dia memperkenalkan namanya.
"Kenapa Bu," karena Dia juga ikut terkejut jadilah dirinya bertanya.
"Nama kamu lucu,"
Dia yang tak mengerti hanya menggaruk-garuk kepalanya, karena Bu Nana berkata jika namanya lucu.
__ADS_1
Maksudnya apa coba dengan berkata kalau nama gue lucu, gerutu Dia dalam hati.
"Pengen tau gak, lucunya di mana," ujar Bu Rosma lagi.
"Ibu ini apaan sih." Sungut Adi pada Ibunya.
Hehehe.
"Emang di mana Bu," timpal Dia.
"Tunggu."
"Nah, ini dengerin."
Hanya Dia..Dia..Dia..Dia..Dia..Dia..Dia..
Buset kenapa nama gue buat lagu. Aku terus mengumpat saat Bu Rosma membuka aplikasi YouTube demi memperlihatkan apa yang di bilang lucu.
Ha..ha..ha..
Si*lan muka udah mirip kepiting rebus malah si bos somplak menertawakan gue, bener-bener ya. Dia terus saja mengumpat dalam hatinya dan memberi sumpah serapah pada mereka.
"Udah puas belum ketawanya." Seketika Ibu dan anak itu langsung diam.
"Saya mau pulang, terus bagaimana caranya agar saya cepat pulang, dan lihat lah karena ulah Bapak, saya sudah mirip monster seperti yang Bapak katakan tadi." Dia yang terus saja berceloteh panjang lebar karena merasa kesal dan malu.
Hehehehe..
"Maaf ya Dia, Ibu becanda jangan di masukin hati." Enak bener ini orang setelah menertawakan hanya karena nama, sekarang minta maaf, gumam Dia dalam hati.
"Iya Bu gak papa." ucap Dia lirih.
"Iya Bu, itu bibir masih perawan pula, tapi anak Ibu mengambilnya dengan cara kotor,"
"Berarti jika saya meminta bakal kamu kasih dong." Seseorang menyahuti perkataan Dia.
"Eh, ya gak gitu juga Pak, memangnya saya cewek apaan." Sungut Dia yang terlihat sangat kesal.
"Sudah-sudah. Kenapa jadi berantem sih! Lagian kamu Adi, ini anak orang kalau kenapa-kenapa mau kamu tanggung jawab." Seru Bu Rosma pada Adi.
Nampaknya Adi hanya diam setelah Ibunya memarahinya.
"Tunggu-tunggu, ada yang gak beres sepertinya." Bu Rosma baru menyadari akan perubahan Adi, jika biasanya yang dingin kini menjadi lebih hangat.
Nampaknya Dia telah membawa pengaruh yang sangat baik bagi putranya.
"Ini beneran kamu kan Di," Karena Bu Nana masih belum percaya sepenuhnya jika anaknya benar-benar telah kembali seperti dulu lagi.
"Masa iya demit Bu, ada-ada saja kalau bertanya." Timpal Adi yang berada di sampingnya.
Dan untuk Dia, Dia masih bingung dengan keadaan yang sekarang, menurutnya ini adalah bagian dari bola yang teramat ruwet, jika di pikir.
"Ah, syukurlah kalau gitu." Sembari mengelus dadanya Bu Rosma tersenyum bahagia.
"Dia," panggil Bu Rosma.
"Bu, boleh saya numpang mandi."
" boleh, setelah ini Ibu ambilkan ganti ya. Ya sudah kalau gitu saya masuk dulu," pamit Bu Rosma.
__ADS_1
Sepeninggal Bu Rosma, Adi dan Dia lagi-lagi adu mulut.
"Apa Bapak lihat-lihat, dasar mesum." Dia menatap sinis ke arah Adi.
"Apa kamu bilang, sa...."
"Alah gak usah ngelak, nyatanya Bapak berani mengambil ciuman pertama saya!" potong Dia, jika teringat betapa marahnya dirinya, kalau saja Ibunya tak tak datang, udah di buat perkedel itu orang.
"Apa benar yang kamu katakan," ucap Adi yang masih tidak percaya.
"Apa ada tampang saya sedang bohong," sungut Adi.
Adi pun seakan mencari kebenaran dan menelisik guna mencari kebohongan, nyatanya memang tak ada.
"Salah sendiri bibir di monyongin,"
"Kok jadi nyalahin saya, Bapak."
"Dasar bar-bar,"
"Somplak."
"Gesrek."
"Songong."
"Gila."
STOP..
"Apa kalian mau saya kawinin, dari tadi berantem saja."
"Kamu sih."
"Kamu."
"Kamu."
"Kamu."
"Diaaaam."
"Adi! Umur kamu berapa sekarang."
"35 Bu."
"Kamu! Umur berapa sekarang."
"17 tahun Bu."
"Ok, sebentar lagi kalian saya nikah kan."
"Ogah." Ucap mereka berdua berbarengan.
Kenapa jadi bawa-bawa nikah segala sih, sepertinya ini orang kagak waras, umpat Dia dalam hati.
Lha bagaimana ceritanya tiba-tiba saya menikahi bocah ingusan, Ibu nih ada-ada saja. Huff. Dengus Adi dalam hati.
Di sisi lain Adi sama halnya dengan Dia, sama-sama mengumpat, dan sekarang dalam benak Adi tidak mungkin dirinya suka apalagi menikahi Dia, yang terlihat bar-bar.
__ADS_1
"Hii, amit-amit." Tanpa sadar Dia menggelengkan kepalanya dan dia juga berkata seakan-akan melihat sesuatu yang menjijikkan.