
"Eum, sudah sampai ya?" tanya Dia pada suaminya.
"Iya yuk, turun." Ajak Adi.
Akhirnya mereka berdua turun dari mobil, dan segera memesan rujak dua porsi.
"Bu, rujak dua porsi gak usah terlalu pedas ya." Ucap Adi pada penjual tersebut.
"Di rantosi rien nggeh." ( di tunggu sebentar ya) Adi yang tak mengerti akhirnya tetap berdiri.
Sedang Ibu penjual itu baru menyadari kalau pelanggan yang satu ini, tidak bisa menggunakan bahasa jawa.
Saat penjual itu untuk mengulang ucapannya dengan bahasa yang di mengerti, namun seorang perempuan menghampiri.
"By, kenapa berdiri bukannya kembali dudu," ucap Dia heran.
"Ibu tadi bilang, tapi aku gak tau artinya karena pakai bahasa jawa sepertinya." Pungkas Adi menjelaskan.
"Ya sudah lah By. Jangan bikin malu," sungut Dia. Lalu ia mengajak suaminya untuk kembali duduk di tempat asalnya.
Tidak lama kemudian, Ibu itu membawa dua piring rujak yang di pesan oleh Adi.
"Ngapunten nggeh, dangu jenengan ngerantos." (maaf lama kalian menunggunya) Ujar penjual itu. Lagi-lagi Adi hanya celingukan karena tidak tahu orang itu berkata apa.
"Mboten nopo-nopo Bu." Balas Dia dengan di iringi senyuman. ( tidak apa-apa Bu )
Setelah kepergian Ibu pemilik warung tersebut, Dia menyodorkan rujak di hadapan suaminya.
"Kenapa di sodorkan di depan ku sayang," ucap Adi dengan rasa heran.
"Untuk kamu makan By." Jawab Dia dengan santai.
"Apa kau serius De," ucap Adi dengan mengerutkan keningnya.
"Mana ada aku bercanda, aku mau kamu menghabiskan ini." Ujar De dengan santai tanpa berdosa sedikitpun.
"De,"
"Hum." Jawab Dia.
"Jangan gila dengan menyuruhku memakan semua ini. Ini perut bukan karung beras," sungut Adi dengan wajah yang sulit di artikan.
"Aku mau By, makan ini semua. Jika tidak mau anak kamu ileran maka cepat makan jangan membuang waktu," crocos De pada suaminya.
"Tentu tidak, baiklah aku akan memakan ini. Lagian aku tidak mau jika anakku lahir sampai ileran," tukas Adi dengan hati berbunga-bunga.
__ADS_1
Adi memakan rujak dengan sesekali tersenyum ke arah istrinya. Sedangkan Dia menikmati pemandangan yang berada di sisinya. Ada rasa kepuasan tersendiri yang di rasakan oleh Dia, saat memandangi suaminya dengan lahap memakan rujak.
"Sayang udah ya, suamimu ini sudah tidak mampu untuk melanjutkan lagi." Rengek Adi karena ia sudah tidak mampu mengabiskan dua porsi sekaligus.
"Baik lah, yang penting aku sudah puas melihatmu By." Ucap Dia dengan bibir yang tersungging puas.
Beberapa saat kemudian mereka sudah berada di perjalanan untuk pulang, dan sekarang mereka sedang berada dalam mobil.
Sedari tadi tidak ada percakapan di antara suami istri tersebut, karena lagi-lagi Dia tertidur pulas berada di mobil.
"Dasar kebo, di mana kamu berada. Di situ kamu pergi ke alam mimpi. Aku kan yang kekenyangan, kenapa pula mulut cabe itu yang tidur." Gerutu Adi selama perjalanan.
Hingga tidak terasa kalau mobil yang di kendarai oleh Adi sudah berada di halaman rumah.
Melihat istrinya tertidur dengan sangat pulas, membuat lelaki itu tidak tega untuk membangunkannya. Dengan pelan-pelan ia membopong tubuh istrinya untuk masuk ke dalam rumah.
Sesampainya di kamar Adi meletakkan tubuh istrinya dan memakaikan selimut, lalu ia juga ikut tidur bersama sang istri.
...----------------...
Kehamilan Dia sudah semakin terlihat, di usia empat bulan. Bu Rosma dan Mak Ita berencana untuk mengadakan syukuran kehamilan yang anak menantu satu-satunya itu.
Di rumah yang megah, milik Adi Dwipangga keluarga besar sudah berkumpul untuk membahas rangaian acara empat bulanan tersebut.
"De, kita akan merencanakan kehamilan kamu yang ke empat bulan. Kamu maunya seperti apa," ucap Bu Rosma.
"Contohnya." Bu Rosma menatap lekat wajah Dia.
"Mengundang anak yatim piatu, dan orang-orang yang kurang mampu." Ucap De dengan wajah sendu.
"Apa kamu serius, De?" tanya Bu Rosma untuk menyakinkannya sekali lagi.
Dia hanya mengangguk, tanda jika yang di katakan itu adalah benar.
"Baiklah kalau begitu." Bu Rosma pasrah dengan keputusan yang De berikan, mengundang anak panti serta orang-orang yang membutuhkan bantuan mereka.
Sedangkan Mak Ita yang baru keluar dari arah dapur pun bertanya, tentang acara tersebut.
"Jadi bagaimana?" tanya Mak Ita.
"Anak kamu meminta untuk mengundang anak panti, serta orang yang berada jalanan besan." Bu Rosma menyahuti pertanyaan yang di ajukan oleh Mak Ita.
"Begitu juga baik, nanti tinggal nunggu Adi pulang untuk membahasnya lagi." Kata Mak Ita sembari meletakkan bokongnya di sofa.
Tidak lama kemudian sosok yang di tunggu sudah datang. Adi pulang tidak terlalu sore, membuat istrinya mempertanyakan akal hal itu.
__ADS_1
"By, tumben jam tiga sudah pulang?" tanya Dia.
"Iya, karena aku kangen istri kecilku." Bisik Adi di telinga Dia, itu membuat Dia salah tingkah.
"Kenapa kalian berdua senyum-senyum begitu," ujar Mak Ita dan Bu Rosma.
"Memangnya kami kenapa?" tanya Adi dan Dia karena melihat Mak serta mertuanya aneh.
"Itu tadi," celetuk Bu Rosma.
"Kalian para orang tua jangan kepo deh, ah." Setelah Adi berujar, Adi langsung membawa Dia berjalan ke arah anak tangga.
"Hey, kami belum selesai berbicara, kenapa kalian pergi begitu saja!" sungut Mak Ita dengan hati yang dongkol.
"Dasar anak dan menantu gak ada akhlak, main pergi saja! gerutu Mak Ita, sedangkan Bu Rosma tidak peduli dan memilih menikmati secangkir teh.
Jika para orang tua itu berada bawa merencanakan berapa orang yang akan di hadirkan dalam acara tasyakuran. Sedangkan Adi dan Dia yang berada di kamar sedang bercanda.
" Sayang," panggil Adi.
"Kenapa?" tanya Dia.
"Mau nengok dedek boleh gak," ucap Adi meninta persetujuan sang istri.
"Ini baru jam tiga, kenapa kamu udah mesum saja By." Dia menatap wajah suaminya dengan kesal.
"Gak boleh Ya," ucap Adi memelas.
"Kagak! kira-kira saja belum juga malam udah minta jatah," sungut Dia dengan cemberut.
"Kalau pegang tempat favoritku boleh kan sambil tidur, aku ngantuk." Pinta Adi dengan mimik muka yang di buat sedih.
Huff.
Dia menghela nafas dalam-dalam, kelakuan suaminya bukan seperti para suami yang lain. Sifat manja yang terus menjadi.
"Ayo sayang," rengek Adi layaknya bocah TK yang meminta jajan namun belum terbeli kan.
"Baik lah." Akhirnya Dia pun menyetujuinya.
Lalu dengan perlahan ia naik ke atas tempat Tidur.
"De, ini punyaku." Ucap Adi.
"Sejak kapan kamu memilikinya. By!" tanya Dia.
__ADS_1
"Sejak dulu." Jawab Adi.
"Ini punyaku sejak aku lahir sudah memilikinya. Kenapa kamu mengaku kalau ini punyamu," sungut Dia.