Jodohku Di Tangan Duda Somplak

Jodohku Di Tangan Duda Somplak
113. SEPANDAI-PANDAINYA TUPAI MELOMPAT PASTI AKAN TERJATUH JUGA


__ADS_3

Dia terhenyak saat suaminya berkata kalau dirinya dengan Riki bukan hanya sekedar teman. semampunya ia mencoba menutupi akan masa lalunya namun ternyata, sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga. begitupun dengan Dia. sepintar-pintarnya ia mencoba untuk menutupi nyatanya suaminya tahu akan semua itu.


“Aku yakin kamu dan Riki pernah mempunyai masa lalu,” sindir Adi pada Dia.


“Kenapa kamu bisa berpikir sejauh itu,” ujar Dia.


“Aku hanya menduga-duga dan sedang tidak menuduh kamu.” Jawab Adi pada Dia.


“Kami hanya berteman tidak lebih, jadi kamu jangan berpikir yang macam-macam!” seru Dia yang tidak terima jika dirinya di tuduh seperti itu.


“Maaf karena sudah menuduh kamu seperti itu,” ucap Adi yang tanpa sengaja telah menyakiti hati Dia.


“Lain kali jangan mengambil kesimpulan kalau tidak mau ada yang sakit hati karena ucapan kamu!” seru Dia yang masih kesal akan ucapan sang suami.


“Aku kan sudah minta maaf, jangan marah gitu dong.” Adi mencoba untuk menhibur sang istri agar tidak marah kepadanya.


“Tetap saja aku kesal dengan kamu, By.” Diyah merajuk karena masih kesal dengan suaminya, sedangkan Adi harus berusaha untuk meluluhkan hati sang istri jika tidak. Bisa dipastikan kalau dirinya akan tidur di luar untuk beberapa hari.


“Bagaimana kalau kita ke mall, kamu boleh belanja sepuas kamu.” Adi masih berusaha untuk membujuk Dia untuk tidak merajuk lagi seperti sekarang.


“Kamu menyogokku By, ingat aku tida akan tergoda dengan bujuk rayumu mengerti!” terpaksa Dia membentak suaminya karena ia tahu akan menawarkan yang diajukan itu, hanya karena dirinya tidak mau mendapat hukuman. Jadi Dia tidak mau menerima pemberian dari sang suami.


Sesaat Dia mengabaikan suaminya dan lebih memilih untuk meninggalkannya seorang diri karena, untuk beranjak pergi ke kamar.


“Sayang mu kemana!” Adi berteriak memanggil istrinya namun Dia masih enggan untuk menyautinya.


“Stop. Jangan ikuti aku!” seru Dia pada suaminya karena Dia masih marah dengannya.


BRAK.


Terdengar suara bantingan pintu sangat keras hingga membuat Adi terperanjat.

__ADS_1


“Duh apes kan, memang ini mulut tidajk bisa diajak kompromi dan suka kelepasan kalau ngomong.” Adi berkata lirih seraya merutuki kebodohannya.


Hingga akhirnya di tidur di kamar tamu dengan hanya brertemankan bantal dan guling.


############


Hingga pukul empat pgi Adi tidak bisa tidur karena gulingnya tidak bisa bernafas, itu semua membuat Adi tidak menemukan kenyamanan pada tidur sendiri, yang bisa tidur sambil memeluk sang istri kini dirinya


hanya bisa memeluk guling.


Sedangkan Dia semalam tidur dengan sangat lelapnya, mungkin karena dirinya kali ini tidak dijadikan tempat parkir suaminya.


“Uhh … Nyaman sekali tidurku semalam,” ucap Dia pada dirinya sendiri.


Dengan mata yang masih terasa berat, Dia mau tak mau harus tetap bangun karena ia harus menjalankan sebagaimana orang muslim.


Untuk beberapa saat Dia sudah menyelesaikan shalatnya dan kini sekarang dirinya harus segera keluar, dari kamar dan menuju ke dapur untuk memasak.


Sedangkan Dia terus menikmati acara memasaknya untuk sarapan keluarga kecilnya itu.


Huf.


"Akhirnya selesai juga," ucap Dia lirih sembari mengelap peluh yang berada di keningnya. Belum sempat tangannya meraih namun seseorang sudah mengelap, keningnya dengan tissue. Siapa lagi kalau bukan Adi, suami dari Dia.


"Pasti kamu capek sayang." Adi dengan penuh kasih sayang mengelap dengan lembut peluh yang membanjiri wajah sang istri.


"Ini sudah kewajibanku, apa aku harus mengeluh capek." Memang selama Ini Adi tidak pernah mendengar sang istri mengeluh karena Dia, sosok perempuan serta istri yang kuat, serba bisa dan sangat mandiri.


"Jika kamu mengeluhpun aku siap mendengar apa yang saat ini kamu rasakan," ujar Adi karena ia ingin merasakan bagaimana di saat sang Istri mengeluh padanya, lalu dengan senang hati Adi akan memihat dan memanjakannya.


"Mana bisa begitu, aku orang dengan tipe yang anti dengan kata-kata 'mengeluh' jadi gak bisa seperti itu." Dia berkata sembari tangan yang meraih piring untuk tempat lauk.

__ADS_1


"Apa hanya aku saja yang ingin kamu mengeluh," ujar Adi dengan mengangkat kedua bahunya.


"Itu berlaku hanya untuk wanita lemah, wanita kuat tidak akan mengeluh apapun yang terjadi dan lebih memendam semuanya sendirk. Meski dengan suami sekaligus!" tekan Dia pada sang suami.


Sedangkan Adi hanya diam karena jika sudah berdebat dengan sang istri maka akan kalah.


"Sekarang jangan bicara dan segera minum kopi kamu, sebelum dingin." Ucapan Dia membuat Adi seketika diam karena ia tidak mau, jika pagi-pagi sudah membahas yang tidak penting.


"Iya terimakasih sayang," sahut Adi dan setelah itu dirinya duduk untuk menikmati secangkir kopi, buatan sang istri yang teramat nikmat tiada duanya.


Semua pekerjaan sudah selesai dan tinggal mencuci itu tugas Cahaya karena dalam satu rumah, semua penghuni mempunyai bagian sendiri-sendiri.


Sedangkan Cahaya yang masih berada di dalam kamar cukup terkejut dengan isi chat yang di kirimkan oleh Riki.


"Apa om Riki serius mau ngajakin gue jalan, tapi kan … Gue udah janji sama Rury," gumam Cahaya setelah membuka dan membaca isi pesan tersebut.


Terlihat dari layar gawai jika Riki sedang mengetik dan ia pun mengurungkan niatnya, untuk membalas.


["Bagaimana bisa tidak kamu."]


[Nanti jam empat sore aku jemput di rumah kamu."]


["Kalau iya beneran sekalian saya akan memintakan izin sama ayah dan mama kamu."]


Itulah rentetan pesan dari Riki, yang mengajak Cahaya untuk bertemu.


["Iya, mau dan sesuai janji Om. Jemput di rumahku,"]


Setelah itu pesan dikirim kepada Riki dan Cahaya mengiyakan ajakan Riki yang meminta, untuk bertemu. Entah apa yang sedang di rencanakan oleh lelaki dewasa itu hingga mengajak bertmu, sedangkan ini kali pertama sosok Riki mengirim pesan untuk Cahaya sekaligus meninta pertemuan.


Di rasa sudah tidak ada yang yang penting, Cahaya meletakkan gawai miliknya di nakas. Biarpun dirinya terlahir dari orang berada, namun didikan dari sang ayah dan mamanya. Membuat Cahaya harus mandiri tan tidak boleh bergantung pada siapapun. Orang tuanya tidak mau Cahaya menjadi anak yang manja dan pemalas karena mengandalkan kekayaan saja.

__ADS_1


Setelah merapihkan kamar ia dan cuci muka, Cahaya langsung keluar dari kamar dan menghampiri sang mama yang berada di dapur. Cucian sedikit menumpuk jadi ia harus ekstra cepat mengerjakannya.


__ADS_2