Jodohku Di Tangan Duda Somplak

Jodohku Di Tangan Duda Somplak
BAB 74. Kolor dengan gambar sepongebob.


__ADS_3

"Semakin ke sini kamu semakin gila, sudah lah. Mak gak mau berdebat sama kamu dan membuat otak Mak gesrek kek kamu," sungut Mak Ita.


"Karena kegilaan berawal dari kewarasan, Mak." Dia menimpali ucapan Mak ita sembari mencuci tangannya di wastafel.


Setelah berdebat tentang salam menyelam, kini semua menu sudah tertata rapi di meja. Tinggal memanggil penghuni rumah untuk segera sarapan.


"De, apa kamu nanti kerja?" tanya Mak Ita, tanpa menoleh ke arah lawan bicaranya.


"Iya Mak, karena sudah dua hari De tidak ke restoran." Jawab Dia datar.


"Ya sudah panggil suamimu, ini sudah siang. Apa jangan-jangan suami kamu masih tidak enak badan," ucap Mak Ita.


"Tidak Mak, sepertinya sudah baik-baik saja." Jawab De dengan datar.


Saat De akan beranjak dari duduknya, Edo pun muncul dengan wajah serius seperti akan menyampaikan sesuatu. Jadi De tidak jadi meninggalkan kursi yang ia duduki sekarang, karena jiwa kepo nya telah sudah meronta-ronta.


"Ada apa Do, sepertinya ada yang mau kamu katakan." Ujar Mak Ita, lalu netra nya memandangi wajah putra satu-satunya itu.


"Rumah 50% hampir jadi Mak, dan kata tukang mau di buatin warung. Nah untuk warungnya mau model seperti apa?" Edo rupanya memberi tahu tentang rumah yang di bangun, tepatnya Adi lah yang membangunkannya. Kalaupun Mak Ita mana lah mungkin bisa merenovasi rumah, sedangkan dirinya saja pengacara (pengangguran banyak acara)


Mak Ita ternganga menatap, kedua anak nya dengan penuh rasa syukur. Terutama pada menantunya, tanpa menantunya rumah Mak Ita tetaplah rumah dengan modelan lama.


Tanpa mereka sadari, Adi telah melihat adegan di mana antara Ibu dan anak saling berpelukan. Adi menatapnya dengan rasa haru, berharap kelak jika ia menua bisa seperti yang ada di depan mata. Mencurahkan semuanya pada istri serta anak-anak yang akan menjadi kebanggaannya.


Ekhem.


Adi sengaja berdehem, karena ia tidak mau mereka terkejut dengan suara cemprengnya yang tiba-tiba saja datang.


Ketiga orang orang itu menoleh ke sumber suara tersebut, dan.


"Mengapa kalian menatapku seperti itu," Adi berkata sembari memegang tengkuknya karena merasa salah tingkah.


"Bukannya menjawab malah mereka bertambah lekat dengan pandangannya, seolah-olah Adi adalah narapidana yang sedang di periksa.


"De, apa ada yang aneh dari wajah suami kamu ini?" tanya Adi pada Dia, dan berharap kalau istrinya sedang tidak berbohong.


"Tidak ada." Jawab Dia dengan mata masih menjurus ke arah Adi.

__ADS_1


"Mak," kini pandangan Adi beralih menatap mertuanya. Berharap kalau jawabannya tidak akan sama dengan Dia.


"Tidak juga." Jawab Mak Ita datar.


"Bang, jawab yang jujur." Kini tinggal Edo yang yang belum memberikan jawaban. Netra Adi menatap dalam-dalam ke arah abang angkatnya tersebut.


"Tidak ada yang aneh dari wajah kamu tetapi ada yang aneh dari pakaian kamu," tukas Edo menjelaskan, dan itu membuat Adi berpikir keras.


Memangnya apa yang aneh dari pakaiannya, dirinya bangun tadi langsung memakai kaos dalam. Serta celana tidur, lantas di mana aneh nya.


"Memangnya ada apa dengan pakaian yang ku kenakan Bang?" tanya Adi, biarpun beberapa barusan. Ia sudah mencari jawaban dalam pikirannya, namun ia sama sekali tidak menemukan dan tidak ada yang aneh menurutnya.


"Elu yakin," ucapan Edo membuat Adi diam dan berpikir lagi.


"Sepertinya saya yakin Bang." Jawaban Adi membuat mereka bertiga ingin sekali rasanya tertawa namun mencoba untuk menahannya. Di karenakan Adi sudah membaca gelagat semua.


"Bagaimana elu seyakin itu, hum." Ucap Edo.


"Apa maksud Abang,"


Dan seketika.


Aaaaaaaaaa..


Adi berteriak sekencang-kencangnya hingga membuat penghuni rumah lainnya menutup kuping masing-masing.


Oh, lihat lah begitu sangat lucu bukan. Kolor yang di gunakan oleh Adi berwarna kuning dan di situ terdapat gambar spongebob bersama sahabat patrick, yang sedang berlarian di bawah laut.


Setelah berteriak dan sukses telah membuat gendang telinga sakit, Adi pun berlari menaiki anak tangga.


Sesampainya di kamar, mengatai dirinya sendiri, karena benar-benar bodoh dan ceroboh tentunya.


Bagaimana bisa ia sebodoh itu, sampai-sampai tidak menyadari kalau dirinya hanya menggunakan kaus dalam serta Boxer atau kolor yang bergambar sepon kuning tersebut.


"Kenapa saya sebodoh itu sih," rutuk Adi.


"Tadi malam kan saya … ah masa sih lupa, tapi sepertinya tidak deh." Adi bergumam lagi memikirkan tentang dirinya sudah memakai setelan piyama, nyatanya sewaktu dirinya bangun hanya menggunakan kolor berwarna kuning.

__ADS_1


Setelah bersih-bersih dan menggunakan pakaian santai, Adi keluar lagi karena perutnya sudah meronta-ronta untuk meminta jatahnya.


Adi yang sudah berada di dapur segera menghampiri sang istri untuk meminta makan.


"Sayang," panggil Adi pada Dia.


"Iya kenapa." Jawab Dia.


"Lapar, mau makan." Adi berbicara layaknya bocah TK, sedang meminta makan pada Ibunya dengan suara manjanya.


"Om, jangan-banyak kalau makan. Lihat lah badan Om sedikit berubah," tukas Dia pada suaminya.


Akhir-akhir ini perubahan tubuh Adi semakin terlihat, dari perut walau masih ada bentuk cetakan tahu, tapi sedikit berisi. Badan yang mulai agak gemukan juga mulai terlihat.


"Entah kenapa, akhir-akhir ini suami kamu ini doyan ngemil sama doyan makan." Adi mencoba mengatakan akan perubahan yang memang ia juga merasakan.


"Ya sudah buruan makan, nih." Adi menyiapkan makanan di hadapan sang suami tidak lupa segelas air putih.


"Makasih sayang, oh iya. Mana Mak sama Abang?" Adi mempertanyakan keberadaan mertua serta ipar yang tidak terlihat batang hidungnya.


"Ada dibelakang mereka." Jawab Dia.


Sedangkan Adi hanya ber oh ria.


Lalu Adi menikmati makanan yang sudah disediakan oleh istrinya dan memakannya dengan hikmat.


"Om, nanti aku mau ke restoran." Ucap Dia pada Adi.


Sedetik kemudian Adi menoleh dan tidak jadi untuk memasukkan nasi yang berada di sendok.


"Kamu kan sedang hamil, apa tidak sebaiknya kamu beristirahat saja di rumah." Adi kuatir dan sangat takut kalau terjadi sesuatu dengan calon anak nya itu.


"kamu tidak perlu mengkuatirkan akan hal itu, Om. Pasti akan baik-baik saja, lagian di sana aku hanya duduk tanpa bekerja." Dia mencoba untuk membuat Adi yakin dan mengizinkan untuk dirinya bisa pergi. Di rumah Dia jenuh tanpa harus melakukan apapun itu meski di rumah ada Emak serta Abang nya.


"Ya sudah kalau begitu, tapi nanti siang aku jemput ya setelah Haikal mengantarkan mobil kesini," ujar Adi menjelaskan, pada istrinya itu.


"Eum." Hanya itu jawaban dari Dia.

__ADS_1


__ADS_2