Jodohku Di Tangan Duda Somplak

Jodohku Di Tangan Duda Somplak
BAB 12. Hari Yang Sial


__ADS_3

Sedangkan Ibunya, atau yang kerap di sapa Mak Ita, yang sedari sore mondar mandir hampir mirip setrika rusak, karena Dia yang pamit pada Emaknya sedari pukul 12 siang tadi, hingga sore yang telah berganti dengan malam, tetapi belum juga pulang.


Apa Dia lupa rumahnya. Ah tidak mungkin.


Atau Dia di culik, sepertinya juga tidak! Karena biar begitu Dia lihai dalam urusan jotos menjotos.


Apa mungkin kecantol di rumah temanya, dan bukan kah Dia juga harus pulang jika ingin pergi bekerja.


Yah, bisa jadi Dia, nyangkut di rumah temannya.


Kira-kira seperti itulah yang ada di pikiran Mak Ita.


Mau telepon percuma.


Mau WA pun juga percuma, kok bisa? bisa dong, karena HP dengan Merek Samsul yang di pakai Mak Ita, kuota internet kandas. Gara-gara melihat vidio klip milik Jayanti.


Hampir setengah jam, Mak Ita mondar mandir gak jelas.


"Auh, ini apaan lagi, ngapa juga kursi di sini" Mak Ita tersandung oleh kaki kursi yang berada di sebelahnya.


"Kan sakit, bener-bener ya ini kursi! Bikin kaki tersanjung" Mak Ita terus saja mengumpat.


"Apaan Mak yang tersanjung."


Dugh, auw..


"Kamu ya bener-bener bikin kepala Mak buncur." Umpat Mak Ita pada Edo.


"Lagian Mak ngapain di situ, mau cari apa?" Edo yang baru saja pulang dari rumah temannya tengah mendapati Emaknya yang berbicara sendiri, dan di saat Emaknya berucap kata tersanjung, Edo langsung bertanya.


"Ini gara-gara kursi jadinya tersanjung."


"Astaga Mak! Tersandung Mak, tersandung. Bukan tersanjung, dikira sinetron apa." Edi hanya mampu mengelus dada sambil membenarkan kosa kata yang di pakai Emaknya.


Di mana ceritanya coba, tersandung. Berubah menjadi tersanjung.🤦‍♀️


"Alah kamu kok ribet sih, orang beda huruf j sama d. Gitu saja di permasalahkan.


Ck..CK.. Terlihat dari raut wajah Edo yang sedang menahan kesal akibat salah dalam penyebutan.


Bukan tanpa alasan Edo merasa sangat emosi tatkala di setiap menyebutkan sesuatu, lidah Emaknya selalu terpeleset, dan jika di beri tahu maka ujungnya akan menjadikan mereka silat lidah.


"Ah sudah lah Mak, aku masuk dulu." Ucap Edo, karena tak mau urusannya seperti rel kereta semakin panjang. Jadi ia terpaksa masuk ke dalam kamar.


Sedangkan Mak ita, tak henti-hentinya mengumpat. Karena jam sudah menunjukkan di angka delapan lebih, tapi Dia belum juga terlihat pulang.


.


.


.


.


.


Sedangkan di resto.


"De, kamu kelihatan loyo banget." Ucap salah tatu teman kerjanya.


Tetapi Dia, hanya membatin tanpa mengatakan sesuatu pada temannya.

__ADS_1


Bisa di bilang Dia terlalu lelah karena sedari siang tadi dirinya belum istirahat, kejadian yang memalukan di tambah ucapan Ibu Rosma membuatnya semakin lemas dan pusing.


Bagaimana tidak, Bu Rosma memberikan sumpah serapah padanya jika suatu hari tak ada lelaki yang mau dengannya dan membuat tak laku, jika nanti menikah hanya dengan anaknya lha.


Bukan kah doa orang tua mujarab, begitulah yang ada di pikiran gadis yang bernama Dia.


"De!"


"Hah, eh iya, kenapa,"


"Aish kamu tuh ya, di ajak ngomong malah bengong."


"Masa sih."


Karena merasa dirinya tak ada yang mengajak nya bicara, jadilah dirinya berhalu. Dan pikirannya terngiang-ngiang sewaktu berada di rumah bos gilanya itu.


"Udah jam sembilan yuk lah kita beres-beres." Usul temannya, karena jam pulang mereka jam sepuluh jadi saat jarum menunjukkan di angka sembilan mereka semua bersiap-siap untuk beberes.


"Ok." Timpal teman lainnya.


Tak berapa lama mereka pun berada di ruangan ganti, dan menaruh seragam kerjanya di loker masing-masing.


Sedetik ketiga temannya menatap aneh pada Dia.


Bagaimana tak menatapnya dengan rasa aneh, orang pakaian yang di kenakan Dia kedodoran.


"De,"


"Aish, menyebalkan. Jangan tanya kenapa pakaian gue kedodoran! Semua ini gara-gara bos gila kalian, makanya begini jadinya."


Namun sepertinya semua temannya salah paham.


"Kalian jangan mikir mesum ya sama gue."


"Kok, bisa!"


"Eh, itu, anu, eum."


Dia menjadi salah tingkah saat dirinya kebablasan dalam berucap.


"Kita butuh penjelasan, elu gak lagi jadi sugar baby, kan."


Peletak.


"Sakit Ogeb, keluh Nindi. Karena baru saja mendapat jitakan dari Dia.


" Lagian siapa suruh itu mulut udah mirip kek rem blong." Kesal Dia.


Bisa-bisanya temannya berpikir sejauh itu, dan jika dirinya gadis seperti apa yang berada di pikiran mereka.


"Lantas."


"Kalian ingat gak beberapa waktu lalu, gue di minta buat masakin plus harus nganter itu makanan,"


"Oh iya gue Ingat."


"Nah ceritanya gini."


Dia pun menceritakan pengalaman yang baginya teramat buruk dan sangat-sangat membuat orang naik pohon. Aih, salah. Maksudnya naik pitam, iya naik pitam.


"Nah bogono ceritanya dan akhirnya kalian bisa sendiri, ini baju sama celana milik Mak nya, Mak nya kan agak gendut sedangkan gue kerempeng."

__ADS_1


Ssst..


Sssst.


Saat Dia menjelaskan kronologi tentang dirinya yang memakai baju kedodoran. Teman-temannya ada yang menoel dan ada juga yang memberi isyarat lain. Karena tanpa di sadari bosnya bersandar di papan pintu dengan menyilang kan kedua tangannya, untuk mendengar umpatan apa yang di keluarkan nya. Sesaat dan sebelumnya, Adi telah memberi isyarat dengan menempelkan telunjuknya di bibir seksi miliknya.


"Ekhem."


"Hem."


"kalian batuk ya." Tanpa ia tau siapa yang sudah berdehem, dan mengira jika itu temanya yang lagi batuk.


Aduh mampus gue, kenapa si ogeb ini ngomong terus sih, batin temannya satu.


Aish Dia, mampus sudah kau ya, batin temannya yang kedua.


Nih anak kalau uda ngomong mirip kek burung kutilang, nyerocos mulu dari tadi. Gak tau apa kalau si bos dari tadi udah hampir mau nelen orang. Batin temannya yang terakhir.


Plok.


Plok.


Plok.


"Bagus ya kalian."


"Ta..." Dia tak meneruskan perkataannya, karena mendengar seseorang bertepuk tangan.


"Ba.." Lagi-lagi terhenti, karena Adi sudah menyela terlebih dulu.


"Apa!"


Hehehe.


"Kenapa tertawa, apa ada yang lucu."


"Tidak Pak."


Semua orang menjawab dengan jawaban yang sama.


"Pinter kompak ya kalian."


"Iya dong Pak, apa lagi dalam bekerja. Di wajibkan itu mah."


"Bagus-bagus saya suka, termasuk dalam gibahin orang ya, apalagi orangnya berada di sekitar sini."


Keempat remaja itu diam seketika, dan berusaha untuk menelan ludah meski sulit.


"Apa kalian mau saya pecat."


"Jangan Pak!" ucap mereka lagi.


"Wah. Semakin kompak ya. Kalau begitu kalian saya pecat!"


Kini mereka semua tertunduk lesu, akibat ulah Dia, ketiga temannya terkena getahnya.


"Pak,"


Apa!"


"Jangan jutek, nanti tidak laku lho."

__ADS_1


"Kau... Benar-benar keterlaluan ya"


Adi mengepalkan kedua tangannya, karena merasa tingkat kesabarannya sudah tak mempunyai level, dan sekarang hanya ada umpatan serta kemarahan yang tersisa.


__ADS_2