
Hehehe...
"Pis."
"Aish menyebalkan."
"Ok ya, kita deal, dan gak ada tuh tidur peluk-pelukan atau apa lah itu."
"Yahhh, rugi dong saya menikah gak bisa ngerasain 46 46."
"Apaan tuh Pak."
"Bocil di larang keras untuk mengetahui."
"Resek."
"Biar."
Sepanjang diskusi hanya ada perdebatan di antara mereka berdua, dan tak ada yang bisa di ajak serius entah itu Dia atau pun Adi, mereka berdua sama-sama pasangan somplak, perjanjian pranikah yang sudah di sepakati hanya demi tuntutan keluarga Adi, dirinya harus terpaksa menikah. Dan pilihannya pada gadis di depannya yang menurutnya sangat menyebalkan. Di sepanjang hidupnya.
"Pak,"
"Hum."
"Kenapa Bapak menjadikan saya istri pura-pura,"
"Apa itu penting."
"Tidak!"
"Makanya jangan bertanya."
"Ish, menyebalkan."
"Kamu tahu kan usia saya sudah tak mudah, dan dari situlah keluarga saya menuntut termasuk Ibu, jadi ya sudah terpaksa saya lakukan."
"Tapi tidak dengan saya kan, Bapak gak kasian masa depan saya masih panjang, dan sekarang tiba-tiba saja saya menikah."
"Gitu saja kok bingung, anggap saya jodoh kamu, lagian nih ya saya sudah bilang berapa kali, jodoh kamu ada di tangan saya. Makanya gak ada yang mau kan sama kamu kecuali saya."
Dia terdiam, sambil melihat tingkah lelaki di depannya, umur tua tapi kelakuan kek bocah, seperti itulah yang ada di pikirannya.
Dan Dia juga terpaksa melakukannya itu karena waktu kemarin siang dirinya tiba-tiba saja di hadapkan dengan keluarga besarnya Adi. Dan mengira bahwa memang Dia lah, calon istri Adi yang saat itu di bawanya.
Apa kah itu keinginannya? Sama sekali tidak.
Dalam hatinya mengapa bisa dirinya harus terjerat dengan urusan orang dewasa, hingga dirinya ikut terseret. Menyebalkan bukan.
Di satu sisi ia ingin mengatakan jika ia bukan lah siapa-siapa dan hubungannya hanya sebatas bos dan bawahan, tapi di sisi lain dirinya juga tak mau di salahkan jika keadaan Neneknya Adi sampai kenapa napa, karena kesehatannya sedang tidak baik-baik saja.
Apa dirinya boleh egois?.
Maaf ya bocah, terpaksa saya melibatkan kamu, karena cuma kamu yang bisa,membantu saya, dan siapa tahu juga saya bisa mendapatkan cinta kamu.
Dia mengerutkan keningnya saat Adi tersenyum geli.
"Apa orang ini lagi kesurupan." lirihnya.
" Setan saja ogah mau merasuki saya,"
Eh, ternyata ini orang denger. Gumam Dia dalam hati.
"Mau ngumpat lagi,"
"PD amat, jadi manusia."
"Udah hampir sore anterin saya pulang," Dia yang tak mau jika nanti akan di interogasi sama Emaknya, lalu dirinya segera meminta untuk cepat di antar kan pulang, karena hari akan berubah menjadi sore.
"Sedikit lagi," sengaja Adi mengulur waktu, entak apa maksudnya.
"Ini udah jam tiga bodoh, kamu mau saya di buat perkedel."
"Kenapa kamu senang sekali mengatai saya."
__ADS_1
"Memang kenyataanya seperti itu."
"Bentar lagi, Emak kamu gak bakal marah deh. Percaya sama saya."
"Kok bisa gitu," Dia yang penasaran akhirnya bertanya dan tak mengerti apa yang di maksud oleh pria ini tersebut.
"Entar kan kalau kita pulang nya malam, pasti Emak kamu suruh saya cepet-cepet buat nikahin kamu."
Astoge, ini orang benar-benar ya, di otaknya yang ada cuma Nikah, dan nikah. Heran deh gue sama orang satu ini, kek nya ngebet banget minta nikah, huff....
"Enak di Bapak gak enak di saya,"
"Mau gak biar sama-sama enak."
Dia langsung mendelik kan matanya lebar-lebar.
"Apa maksud Bapak!"
"Kita mojok sambil minum ronde,"
Ais menyebalkan udah buat otak traveling, eh gak tau di ajak mojok buat minum ronde..
Netra Dia, mengikuti arah pandan Adi, yang menjurus ke pojokan Indomaret yang berada di kanan jalan.
"Bisa gak Bapak gak becanda."
Sungguh menyesal Dia, pernah tau dan mengenal sosok lelaki yang berada di hadapannya, bukan karena apa, mulutnya jika bicara akan mengundang kesalahpahaman, dan selalu saja membuat orang kesal.
...----------------...
Sedang kan di rumah Emak ita.
"Mak, gak capek ya mondar mandir mirip Tamiya,"
"Eh, dasar durhaka orang tua di samain sama mainan."
"Salah sendiri sudah buat mata ku capek,"
"Buset."
"Apa!"
"Itu tadi yang jemput adik kamu kira-kira siapa ya,"
"Iya Mak, Edo juga penasaran."
"Sepertinya nanti kita punya makanan empuk."
"Sepertinya Mak, tunggu aja sambil duduk."
Apa ya yang sedang di rencanakan mereka berdua untuk Dia, ah jadi penasaran nih.😇😇
Tak terasa jam pun sudah di angka lima, namun Dia, masih belum ada tanda-tanda akan pulang.
Padahal Emaknya mau kasih sambutan yang spesial di hari ulang tahunnya namun, dirinya belum pulang sedari pagi.
Hingga pukul delapan, Dia belum juga pulang, dan yang ada di pikirannya Emak Ita, jika Dia marah karena kemarin dirinya minta kado tapi di abaikan.
Terlihat semua rumah lampunya telah padam, tandanya malam sudah semakin larut.
sampailah di pukul 22:00.
Terdengar suara deru mobil yang suaranya bisa di pastikan menuju pelataran rumahnya.
Saat dirinya masuk, terlihat lampunya padam, dengan perlahan dirinya berjalan untuk bisa sampai ke dalam. Sedangkan Adi, Adi mengikuti langkah kaki Dia, dan posisinya sekarang di belakang Dia.
Krietttt..Suara pintunya saat di buka.
BRAK.
Allahuakbar.
"Pak suara apaan itu."
__ADS_1
"Tikus kali."
"Mak! Abang."
Dia terus menerus berteriak memanggil nama mereka.
Srek.
Srek.
Srek.
"De, itu apaan."
"Gak tau Pak."
"Bruk.
Brak.
Jedar.
Huaaaa..
" Aku takut De,"
"Bapak ini apaan sih."
Brak.
Jedar.
Bismillahirrahmanirrahim.
Bismika Allahumma ahyaa wa bismika amuut.
"Bapak! itu doa mau tidur." Teriak Dia, pada Adi.
"Jadi saya salah ya."
"Gak." Saking kesalnya udah tau salah pakai nanya pula.
Huaaa..
"Emak dimana." Dia sedikit ketakutan dan tanpa sengaja dirinya menangis.
Kreeet..
Srek.
Srek.
Glunting.
"Dia, saya takut." Adi terus saja berteriak karena ketakutan.
Allahumma baarik lanaa fiimaa rozaqtanaa wa qinaa 'adzaa bannar.
"Bapak itu sebetulnya mau ngusir setan atau mau makan sih." Ingin tertawa tapi takut dosa. Batin Dia.
Lagi-lagi Adi salah saat berdoa, bukan doa pengusir setan melain kan doa sebelum tidur dan sebelum makan.
Peluh sudah membanjiri wajah Adi, karena saking takutnya.
Dia, terus saja memanggil Emaknya, rumah yang gelap tanpa ada penerangan, di tambah suara-suara menakutkan, membuatnya sedikit berkeringat.
Kini mereka berdua sampai di ruang tengah. Dan Dia, sedikit mengumpat dan ikut-ikutan bodoh, bukan kah di gawai nya terdapat senter.
Dan saat dirinya merogoh tas, tan berhasil mengambil gawai lalu menyalakannya, tiba-tiba saja terdapat bau yang menyengat, namun semuanya coba untuk hilangkan dan fokus untuk mencari saklar.
Cetak.
Huaaaaaaaaa.
__ADS_1
Aaaaaaaaah, Bruk.
Adi tergeletak dan terjatuh di ubin, karena saking takutnya di karenakan dirinya melihat sosok berbaju putih tepat saat Dia menekan saklar, dan terlihat lah penampakan itu.