
Seminggu sudah pertemuan antara Cahaya dan Riki berlangsung, semenjak itu juga. Cahaya menjadi rajin membantu sang mama dalam melakukan tugas rumah, seperti saat ini.
"Ma, aku bantu masak ya." Cahaya menghampiri sang mama dan ingin membantu masak untuk makan malam mereka.
"Apa kamu tadi habis kejedot. Makanya kamu beberapa hari ini bersikap aneh," ucap Dia pada putrinya karena merasa heran, akan perubahan Cahaya.
"Enak saja kejedot, apa salahnya sih mau bantuin!" seru Cahaya pada sang mama.
"Bukan begitu, kalau mau niat bantu kenapa gak dari dulu saja." Jawab Dia pada Cahaya.
"Dulu khilaf, Ma. Sekarang sudah tobat dan ingin menjadi wanita idaman," ujar Cahaya menjelaskan dan itu membuat Dia langsung tertawa.
Hahahaha.
"Roman-romannya ada yang lagi jatuh cinta nih," goda Dia pada Cahaya dan seketika wajah Cahaya seperti tomat.
"Mama sok tahu, mana ada gitu." Jawab Cahaya tidak terima.
"Kalau tidak! mana mungkin itu muka merah merekah mirip tomat," ujar Dia sambil menggelengkan kepala.
"Masa sih," ucap Cahaya tidak percaya pada ucapan mamanya.
"Memangnya Mama sedang ngelawak apa!" sungut Dia pada putrinya karena memang benar, kalau wajahnya merah dan Dia yakin kalau putrinya sedang kasmaran.
Sedangkan dari balik pintu terlihat Adi sedang berkacak pinggang sambil menggelengkan kepala, melihat tingkah anak dan istrinya membuat dirinya langsung menghela nafas. Kedua wanita yang sangat di cintainya tengah bercanda ria bak bocah TK.
Dengan perlahan Adi menghampiri keduanya yang belum sadar akan, kedatangan Adi.
Ekhem.
Sengaja Adi berdehem agar dua wanita itu menghentikan candaannya.
Benar saja kalau keduanya langsung menoleh ke arah Adi.
"Eh, By. Sudah lama di situ?" tanya Dia pada suaminya.
"Baru saja, melihat kalian bercanda jadi ingin ikut." Jawab Adi dengan tangan yang bersindakap di dada.
"Tuh anak kamu sedang jatuh cinta," ucap Dia pada suaminya, sedangkan Cahaya mengerucutkan bibirnya karena telah membongkar rahasianya.
__ADS_1
"Aduh anak Ayah sudah dewasa ternyata dan sudah mulai mengenal laki-laki," ujar Adi kepada Cahaya setelah mendengar istrinya berkata.
"Tidak ayah, jangan percaya sama mama. Mama sedang berbohong," timpal Cahaya kepada sang ayah.
"Hey bocah jujur saja! kita juga pernah muda jadi tahu kalau orang yang sedang kasmaran itu seperti apa," sahut Dia yang tidak terima dikatakan bebohong.
Hehehe.
Hanya tawa dan garukan dikepala yang dilakukan oleh Cahaya. Ia juga sudah tidak bisa mengelak kalau memang yang dikatakan sang mama, adalah benar adanya.
"Nah benarkan By, anak kamu sedang lagi sekonyong-konyong koder." Dia beralih menatap sang suami dan membenarkan ucapannya.
Oh iya sekonyong-konyong koder itu sama dengan seseorang yang sedang (kasmaran)
"Sebentar lagi akan menimang cucu dong sayang," ucap Adi dengan menimang-nimang seakan yang ada ditangannya itu ada bayi.
Dia bukan setuju dengan apa yang dikatakan suaminya malah menolak keras karena, biar bagaimana pun Cahaya harus sekolah setinggi mungkin. Apalagi sebentar ia akan lulus dan berharap sang anak mau melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.
Adi yang mendapatkan tatapan elang seketika tertunduk, nyatanya Adi adalah sosok suami takut istri.
Sedangkan Cahaya tertawa dalan hati dan tidak mau terkena amukan kalau sampai mengeluarkan suara.
"Pacaran boleh tapi kalau untuk nikah jangan dulu," tandas Dia pada Cahaya putri semata wayangnya.
"Memangnya siapa pacar kamu, atau lelaki yang kamu suka?" Adi ikut menimpali karena ia juga perlu tahu itu semua.
"Ada pokoknya Ma, Yah." Jawab Cahaya sembari berjalan keluar dari dapur.
Sekarang di dapur hanya ada sepasang suami istri itu saja karena anak satu-satunya, memilih pergi dan kembali kehabitatnya yaitu kamar.
"Sayang ga terasa anak kita sudah dewasa," ucap Adi pada sang istri, dengan tangan yang dilingkarkan di perut Dia. Adi berkata.
"Iya By, perasaan baru kemarin jadi orok. Eh, sekarang malah uda gede." Jawab Dia yang tak menyangka karena putrinya saat ini tumbuh menjadi sosok yang cantik.
"Iya."
"Terimakasih ya sayang karena kamu sudah mau menemaniku hingga aku menua," ucap Adi dengan suara sendu.
"Itu kan sudah kewajibanku By, setelah mak tiada cuma kamu sandaran hidupku. Sedangkan bang Edo sudah bahagia dengan anak istrinya, apa mungkin aku masih menyusahkannya. Jawab Dia dengan hati yang pilu karena teringat dengan mak nya.
__ADS_1
" Maaf sayang, aku tidak bermaksud mengingatkanmu sama emak." Adi meminta maaf pada sang istri karena tanpa ia sadari, kalau ucapannya mengingatkannya pada sosok yang sangat berarti untuknya.
"Tidak By, mak tiada sudah kehendak yang di atas. Hanya saja sebelum aku bisa membahagiakannya, beliau sudah menghadap sang khaliq."
"Kamu sudah memberikan kebahagian pada emak. Jadi, kamu jangan bersedih." Dia seketika membalikkan badan dan memeluk erat sang suami.
"Terimakasih ya sayang, selama ini kamu sudah setia denganku."
"Kamu cinta pertamaku By. Jadi, kamu juga suami terakhirku." Dia semakin mengeratkan pelukannya, namun suasana nostalgia itu hancur seketika karena, adanya Cahaya yang tiba-tiba datang ke dapur lagi.
"Cie … Cie … Mama sama Ayah lagi mesra-mesraan nih ye," Cahaya terus saja menggoda mama dan ayahnya dan itu, membuat Cahaya sangat terharu dengan obrolan orang tuanya.
"Kenapa di lepas, kan aku gak bisa lihat lagi." Cahaya berkata lagi karena saat Cahaya muncul, tiba-tiba keduanya melepaskan pelukannya.
"Kau ini mengganggu kemesraan kami saja!" sungut Adi pada Cahaya.
"Memangnya tempat yang seharusnya di mana?" Cahaya bertanya.
"Di kamar." Jawab Adi.
"Terus gunanya dapur apa," ucap Cahaya.
"Buat masak yang pasti," ujar Adi
"Terus yang salah tempat siapa coba?"
"Ayah." Jawab Adi dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali. Sedangkan Dia tersenyum kala melihat suaminya kalah telak, pada sang putri.
"Nah kan ngaku," ucap Cahaya.
Hehehe.
Adi tertawa karena ternyata dirinya kalah dari sang putri.
"Ya sudah kalau begini terus kapan masaknya, ini sudah jam lima lebih." Dia berkata sembari mendorong suaminya untuk menjauh, agar memudahkannya yang akan beraksi dengan alat tempur yang ada di dapur.
Cahaya yang melihat pemandangan seperti itu, membuatnya sangat bahagia dan juga ingin mencari sosok lelaki yang seperti ayahnya.
"Ayah, aku ingin sekali kelak mempunyai suami seperti Ayah." Adi langsung menatap sang putri saat Cahaya berkata demikian.
__ADS_1
"Ayah sama Mama selalu mendoakan kamu sayang, semoga kelak kamu mendapatkan lelaki yang kamu impikan." Adi berkata dengan diiringi sejuta senyuman pada sang putri.
"tapi sekarang kamu fokus belajar dulu ya, ingat kamu sebentar lagi akan lulus."