Jodohku Di Tangan Duda Somplak

Jodohku Di Tangan Duda Somplak
117. CINCIN DARI OM RIKI


__ADS_3

Mengganggu saja!" umpat Riki dalam hati.


"Pas romantis-romantisnya kenapa ini bocah datang sih!" sungut Cahaya dalam hati. Merasa sudah diganggu jadi Cahaya sedikit kesal dengan sahabatnya itu.


Sedangkan Rury tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya antara keduanya karena yang ia lihat dari kejauhan, hanya terlihat sebuah kotak kecil.


"Kau mengganggu saja," ucap Riki dan Cahaya berbarengan.


"Wah, wah … Kalian kompak ya," ujar Rury dengan diiringi sebuah tawa kecil.


Seketika Cahaya dan Riki diam karena sangat kesal, dengan orang yang bernama Rury yang tak lain adalah sahabat dari Cahaya. Wanita yang saat ini telah resmi menjadi kekasihnya.


"Kenapa elu tiba-tiba ada di sini, apa elu sengaja memata-matai gue." Ucapan Cahaya sontak membuat Rury mendelik kan netra nya lebar-lebar. Kenapa malah dirinya yang dituduh mengintai Cahaya, bukankah dirinya juga ada janji dengan kekasihnya juga?


PELETAK.


"Auh." Cahaya merintih kesakitan karena kepalanya telah menjadi landasan jemari Rury.


"Dasar bodoh! kenapa juga gue harus ngintilin elu. Kek gak ada kerjaan saja," sungut Rury yang tidak terima jika dirinya dituduh.


"Terus kenapa elu ada di sini?" tanya Cahaya pada Rury.


"Yang pasti makan," ujar Rury.


"Dasar bodoh!"


"Maksud gue elu ke sini ada acara apa!" seru Cahaya lagi.


"Janjian sama cowok gue." Jawab Rury santai.


"Terus mana orangnya?" tanya Cahaya yang mulai penasaran.


"Ada di kamar mandi, tadi dia izin katanya kebelet. Terus gue gak sengaja liat kalian berdua," ucap Rury menjelaskan kenapa ia bisa tahu keberadaan Cahaya dan om tampannya tersebut.


"Ya sudah gue balik ya, cowok gue udah balik. Jangan lama-lama cus buruan nikah," ucap Ruri dan setelah itu dirinya pamit untuk kembali ke meja, di mana dirinya berada tadi.


Setelah kepergian Rury, Riki pun mengeluarkan kotak kecil yang sempat ia masukkan ke dalam saku.

__ADS_1


“Ini untukku?”


“Iya, pakailah.” Riki memberikan sebuah cincin kepada Cahaya.


“Cantik. Pasti mahal,” ucap Cahaya.


“Kamu suka?” tanya Riki karena ia sempat takut kalau Cahaya tidak menyukainya.


“Aku sangat suka karena ini benar-benar sangat cantik.” Cahaya langsung memakainya dan di bolak-balik lah cincin itu, terlihat sangat cantik dan ia suka dengan desainnya.


“Syukurlah kalau kamu suka,” ucap Riki tersenyum lega.


“Ya sudah buruan makan. Itu sudah hampir dingin, jika sudah benar-benar dingin maka rasanya akan berubah.” Mendengar ucapan Riki membuat Cahaya langsung memakan spaghetti yang ia pesan tadi.


Akhirnya mereka berdua makan dengan nikmat dan untuk sesaat suasana hening karena, di antara mereka masih menikmati sajian yang mereka pesan tadi.


Tidak membutuhkan waktu lama. Mereka berdua sudah menyelesaikan makanan yang berada di piring.


“Ay, kita ke taman yuk.” Riki mengajak Cahaya untuk pergi ke taman karena hari juga belum terlihat gelap.


Setelah membayar semua makanan yang Riki pesan, ia langsung mengajak pergi Cahaya tanpa menoleh ke arah teman-teman Riki yang masih, duduk di tempat yang sama saat mereka berjumpa sewaktu tadi.


Sesampainya diparkiran Riki membukakan pintu untuk Cahaya dan setelah itu dirinya ikut, masuk ke dalam mobil dan segera menyalakan mesin mobil.


Entah mengapa belum sampai di tempat tujuan Cahaya merasakan kantuk, yang luar biasa yang sedang melandanya. Riki yang melihat Cahaya terus menguap tersenyum tipis karena sebetulnya, gadis yang berada di sampingnya hampir saja terjungkal akibat menahan kantuk.


“Ay, kalau kamu ngantuk tidur saja dulu. nanti kalau sudah sampai di tempat saya akan membangunkan kamu,” ujar Riki yang tidak tega melihat perempuan yang baru saja, telah resmi menjadi kekasihnya itu.


“Sebetulnya memang aku sedang ngantuk. kalau begitu aku tidur dulu ya,” timpal Cahaya dan setelah itu hanya ada suara dengkuran halus yang memenuhi isi mobil.


“Ck … Ck … Cantik-cantik dengkur,” gerutu Riki saat gendang telinganya dipenuhi oleh sebuah dengkuran dari arah sampingnya.


Riki tidak henti-hentinya tersenyum saat melihat wajah damai itu sedang terlelap dengan indah, wajah yang sedang memancarkan aura kebahagiaan.


“Tidak dapat mak nya, anaknya pun jadi,” gumam Riki dalam hati dan tersenyum bahagia dan juga tidak menyangka bahwa, takdir Tuhan begitu sulit di tebak.


Kurang lebih satu jam. Mereka berdua sudah berada di taman, cukup ramai dan ada beberapa anak kecil sedang bermain sepak bola, semakin yakin dirinya untuk menikahi Cahaya agar kelak, dirinya bisa bermain dengan anak-anaknya nanti.

__ADS_1


Dengan sebuah tepukan pelan Riki membangunkan Cahaya yang sudah sangat pulas dan sepertinya, ia sudah sangat menikmati alam mimpinya sampai-sampai dengan keadaan tidur pun, ia masih bisa tersenyum.


“Ay, bangun.” Riki mencoba membangunkan Cahaya untuk yang kedua kalinya.


“Ay, apa kamu tidak ingin bangun dan merasa nyaman berada di dunia mimpi?” untuk yang ketiga kalinya, Riki menepuk bahu Cahaya namun belum juga bangun.


Pada akhirnya Riki pun menyerah dan ikut tertidur di dalam mobil, ternyata selain tukang ngorok Cahaya juga sulit bangun. sepertinya ia sangat menikmati taman surga yang berada di alam bawa sadar.


Entah sudah berapa lama Cahaya tidur hingga akhirnya ia menggeliat dan, membuka matanya secara perlahan. Lalu di liriknya Riki yang ikut tertidur dengan begitu pulas. Wajah damainya mampu membuat Cahaya tenang dan tidak mengurangi ketampanan dari laki-laki yang saat ini, telah menjadi kekasihnya.


Lalu ia beralih menatap jemarinya dan dipandanginya cincin yang tersemat indah di jari manisnya. Cahaya tidak percaya dengan ini semua, seperti mimpi di siang bolong hingga ia tidak sanggup membayangkan bahwa ini nyata.


Lama dipandangi cincin tersebut sampai-sampai ia tersenyum sendiri mungkin saking bahagianya. Sedangkan Riki yang sudah sedari tadi terbangun, melihat tingkah menggemaskan sosok yang berada di sampingnya hingga, Riki memilih untuk tetap memejamkan matanya supaya tetap, bisa melihat Cahaya.


"Dasar bocah, sebegitu bahagianya dia sampai-sampai tidak mau memalingkan wajahnya dari jemarinya." Dalam hati Riki membatin tertawa akan tingkah Cahaya, namun siapa sangka niat ingin mengerjainya malah ia dikagetkan, oleh suara dering telepon yang berada di sakunya.


Dakh.


Argh..


"Sial!" umpat Riki sembari mengelus dahinya yang terbentur bagian dari mobil.


Sedangkan Cahaya tidak bisa menahan tawanya karena menurutnya itu sangat lucu.


"Apa kamu sudah puas menertawakan saya!" seru Riki dan seketika Cahaya terdiam.


"Memangnya tidak sakit apa terbentur itu, iya kali terbentur bantal ini mah mentahan." Riki menggerutu hingga Cahaya tidak bisa menahan untuk tidak tertawa.


"Kualat kan jadinya," ujar Cahaya tiba-tiba.


"Memangnya saya sedang melakukan kesalahan." Jawab Riki tidak mengerti.


"Iya karena Om, pura-pura tidur padahal sudah sedari tadi bangun."


Slep.


Riki terhenyak karena Cahaya mengetahuinya.

__ADS_1


__ADS_2