Jodohku Di Tangan Duda Somplak

Jodohku Di Tangan Duda Somplak
BAB 53. Pulang Sendiri


__ADS_3

Menunggu itu tidak sesulit memperjuangkan, jadi biar lah aku menunggumu untuk sesaat sampai kau hadir dan menyapaku.


"Lho Mbak Dia masih belum pulang?" tanya karyawan.


"Seperti yang kalian lihat." Dia melebarkan tangannya agar mereka tahu, jika Dia masih di tempat.


"Hehehe ... Maaf mbak,"


"Gak papa, ya sudah saya mau keruangan nya Bapak ya." Setelah bertegur sapa dengan karyawan, lalu Dia berjalan keruangan yang biasanya di buat istirahat oleh Adi dulu, tapi semenjak Dia menikah dan telah menjadi istri Adi, Adi pun jarang ke restoran.


Entah pekerjaan apa yang tekuni oleh Adi, karena Dia tidak tahu menahu untuk masalah yang satu itu.


"Hem... Enaknya rebahan kali ya," gumam Dia, lalu dirinya melepaskan sepatu dan segera berbaring di kasur empuk tersebut.


Dan entah sudah berapa lama Dia tertidur, hingga tidak terasa jika waktu terus berjalan dan sekarang berada di pukul tujuh malam.


Lelah karena menunggu akhirnya Dia keluar untuk pulang. Karena tidak mungkin juga De menginap di restoran.


Tanpa di ketahui oleh karyawan Dia berjalan ke arah parkiran untuk memesan ojek online untuk mengantarnya pulang. Tak membutuhkan waktu lama ojek pesanannya telah datang.


"Dengan Mbak Dia ya," ujar gojek tersebut.


"Iya Pak." Jawab Dia.


"Sesuai aplikasi ya, Mbak." Gojek itu berbicara dengan tangan yang memegang helem untuk di berikan kepada penumpangnya, yakni Dia.


Setengah jam kemudian, Dia sudah sampai berada di depan rumah besar milik Adi. Dengan helaan nafas yang besar Dia merasa ada sesuatu di dalam hatinya, entah itu rasa yang tak biasa akan kesendiriannya dan juga bisa jadi rasa kesepian yang masuk di relung hatinya. Hingga perasaan tidak nyaman itu muncul.


Dengan wajah tertekuk Dia membuka pintu, lalu duduk di antara sofa yang ada di ruang tamu.


"Sebenernya gue kenapa sih, kok rasanya ada yang aneh ya? Ah, sudah lah." Gumam Dia.


"Kemana sih itu orang, di telepon enggak di angkat, masa iya sampai jam segini masih sibuk." Dia menggerutu karena sedari tadi dirinya mencoba menghubungi suami dewasanya itu sama sekali tidak bisa. Tepat nya tidak di angkat.


Hufff..


Akhirnya Dia berdiri untuk membersihkan badan, karena rasanya sudah mirip seperti lollipop lengket sekali seluruh tubuhnya.

__ADS_1


Air yang dingin sepertinya cukup membantu Dia, yang sedang merasakan pening di kepala. Dengan segera mungkin Dia mengguyurkan air itu di kepalanya.


Tidak membutuhkan waktu lama 15menit kemudian ritual mandi telah terselesaikan, sebelum berangkat tidur Dia akan makan dulu.


Sepertinya masak mi kuah di campur telur enak, gumam Dia di hatinya.


Di dapur, Dia sudah siap dengan mie nya.Tidak membutuhkan waktu lama, mie telah siap di santap..


"Aish menyebalkan, di saat perut udah lapar. Panggilan alam pun memanggil," gerutunya.


Lalu Dia meninggalkan meja makan untuk pergi ke kamar mandi.


Setelahnya dari kamar mandi, Dia menghampiri mie yang belum sempat di makan olehnya, tetapi. Betapa terkejutnya saat melihat mangkok yang berisikan mie itu kosong.


"Siapa yang makan mie gue? Hantu kah, ah sepertinya tidak mungkin." Ujar Dia pada dirinya sendiri.


Huh, sial amat. Mie belum di makan udah ilang, sepertinya om suami yang memakan. Jika itu setan masa iya setan makan mie bukan makan bunga. Pikir Dia dalam hati.


Selera makan Dia hilang, jarinya di letakkan kan di bawah dagu untuk menopang, entah mengapa pikirannya kini tertuju di satu nama. Namun saat dirinya akan meminum teh tiba-tiba saja.


"Om, om di mana!" Dia berteriak karena tidak mungkin mie yang di masak hilang jika tidak di makan.


Huff..


Lelah mencari keberadaan suaminya, namun belum kelihatan batang hidungnya.


Akhirnya Dia memilih mengambil jus jeruk yang ada di kulkas. Akan tetapi saat dirinya hendak menutup lemari es tersebut tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya dan mengagetinya.


DOORR.


Ahh ...


"Dasar bocah tengil, lihat apa yang kamu lakukan pada muka dan bajuku." Ujar pria itu, yang tidak lain adalah Adi suami Dia.


"Salah sendiri jahil, kena batunya kan." Jawab Dia dengan di iringi sedikit senyuman.


"Dosa kamu ketawain saya seperti itu," ucap Adi dengan wajah kesalnya.

__ADS_1


Bukan salah Dia jika jus yang semula ada gelas kini berpindah tempat. Tepat di wajahnya serta bajunya jus tersebut mengenainya.


"Jangan bawa-bawa dosa, orang yang salah situ kok, jadi aku yang kena omel." Dia berkata dengan tangan membuka kulkas untuk mengambil minuman lagi, karena minuman yang sudah diambilnya tadi tumpah mengenai wajah dan tubuh Adi.


"Eh, salah lagi." Gumam Adi, namun Dia masih mendengar apa yang di katakan oleh suaminya tersebut.


"Ya salah, pertama, Om sudah lalai karena tidak menjemput aku, lalu yang kedua Om memakan mie yang aku masak. Untuk yang ketiga, Om uda bikin saya jantungan." Dia menjelaskan dengan detail akan apa yang telah diperbuat oleh suaminya.


"Sebentar." Ucap Dia lagi, lalu dirinya mengendus-endus bau badan Adi.


"Om," tegur Dia.


Hehehe.


"Sedikit." Adi berucap dengan menggaruk kepalanya yang dirasa tidak gatal.


"Jika sedikit tidak akan meninggalkan jejak, kan." Jawab Dia dengan raut wajah yang mulai berubah garang.


"Maaf, tadi di ajak teman-teman untuk menghadiri acara. Suamimu ini merasa tidak enak, makanya minum sedikit untuk menghormati." Adi mencoba menjelaskan tentang alasannya yang pulang telat hingga tidak menjemput istrinya.


"Jadi itu alasan Om suami tidak menjemputmu, dasar menyebalkan." Dia membuang muka karena sangat kesal, setidaknya memberi kabar padanya bukan malah mengabaikannya dan jadilah ia pulang sendiri.


"Maaf." Suara memelas Adi membuat Dia semakin kesal.


"Ok, aku maafin. Tetapi ada satu syarat," seru Dia.


"Apa!" Adi menjawab.


"Tidur di luar, dan jangan masuk jika aku tidak memberikan ijin." Setelah berkata Dia meninggalkan Adi yang diam mematung, karena saking tidak percayanya, akan ucapan sang istri.


Waduh gak bisa peluk dong, sambil mencuri ciuman kalau tidur di luar. Batin Adi dengan muka yang masam, bagai orang yang sehabis memakan mangga muda.


"Ingat jangan tidur di kamar sampai aku menyuruh," ucap Dia. Lalu Dia pergi meninggalkan Adi untuk menuju ke kamar.


"Gini nih, nasib kalau udah apes. Punya bini serasa enggak punya bini, tidur di luar mana enak." Gumam Adi dengan wajah frustasinya.


Sedangkan di kamar Dia tertawa karena sukses membuat Adi tidur diluar.

__ADS_1


Lagian siapa suruh pakai acara minum-minum kena hukum kan, Dia terkikik geli membayangkan.


__ADS_2