
Dia menambah kecepatan laju motornya agar dengan cepat sampai rumah, dan tak memikirkan akan keselamatannya juga, karena ia tak mau jika sampai kedahuluan oleh suara adzan.
Tak berapa lama sampailah Dia di rumah.
Ceklek.
Assalamualaikum." Ucap salam Dia sebelum memutuskan untuk masuk.
"Waalaikumsalam." Sahut Emaknya yang ternyata sedang duduk manis sedang menunggu kepulangan Dia.
Saat Dia akan melangkah menuju kamar, namun langkahnya terhenti oleh suara tawon, eh suara Emaknya maksudnya.
"Tumben jam segini baru pulang, atau memang sudah ganti jam pulang. Sampai-sampai baru nyampe rumah jam segini," Emaknya Dia sedari tadi cerocos mulu sudah mirip petasan, dan itu membuat Dia merasa jengah.
"Ban motor bocor Mak," terpaksa Dia berbohong dan mengatakan jika ban motornya bocor, dan tak mungkin juga Dia berkata jujur kalau dirinya habis mengantarkan pria somplak itu, dan jadilah Dia pulang sampai sore.
"Kok bisa bocor," ujar Emaknya Dia.
"Elah Mak, jawaban macam apa itu, kok bisa bocor ya bisa lah, orang di pakai," sambil mengacak rambutnya secara kasar, Dia pun berjalan melewati Emaknya. Namun tanpa di duga.
"Emak belum selesai ngomong elu main nyelonong saja," ucap Emaknya yang tengah menjewer telinga milik Dia, dan sontak membuat Dia langsung berteriak.
"Aduuuh Mak! sakit." Dia terus saja meronta meminta di lepaskan.
"Makanya kalau orang tua ngomong itu jangan main nyelonong," ucap Emaknya dengan tanpa rasa kasihan Emaknya terus saja menarik kuping Dia.
"Aduh iya Mak ampun," ucap Dia memelas.
"Emak gak takut dosa ya terus nyiksa anaknya kek gini,"
Peletak..
"Aish sakit Mak!" Teriak Dia sambil mengelus keningnya.
"Yang ada kamu juga yang dosa,"
"Kok bisa," tanya Dia penasaran.
"Iya lah, lihat ke bawah,"
"Wadidau mangap Mak, ralat ulang maksudnya maaf," Dia pun dengan spontan mengangkat kakinya dari kaki Emaknya, karena telah menginjaknya.
"Nah siapa yang dosa sekarang, udah nginjek pakai ngegas pula," ucap Emaknya masih dengan raut kesalnya.
He.he..he..he..
"Pis Mak,"
"Dasar Emak singa betina." Ledek Dia sambil berlari menuju kamarnya.
Dan tiba-tiba.
Dugh..
Ahahaha..
Emak Ita tertawa puas kala melihat Dia terbentur oleh tembok kamarnya.
"Aish ngapain sih tembok berdiri di sini kan sakit," gerutunya, sambil mengelus jidatnya yang terasa sakit serta seperti melihat bintang berputaran di atas kepalanya.
__ADS_1
"Kualat kan jadinya Ha..ha..ha." Mak Ita tak berhenti untuk tertawa, karena setelah mengatai dirinya singa, yang ada Dia yang kena batunya.
Nah kan Dia dapat karma dari Emaknya, sakit gak thor, ya sakit lah. Orang terbentur gimana sih kamu thor..✌✌
Dengan memonyongkan bibirnya Dia pun masuk ke dalam kamar, dengan rasa yang bener-bener kesal.
Mimpi apa sih gue semalam bisa apes banget yah ini hari. Batin Dia, dengan terus mengelus keningnya yang lumayan sakit.
Lagian tembok diem di tabrak, sakit kan.
Tak berapa lama terdengar suara adzan di kumandangkan, lalu Dia buru-buru mandi dan sekaligus sholat.
Di kamar Dia sedang bermain gawai nya, dan berselancar di aplikasi berwarna biru. Bosan dengan apa yang di lihatnya, lantas ia memutuskan untuk keluar kamar. Dan menghampiri Emaknya yang berada di dapur.
"Mak," tegur Dia, pada Emaknya.
"Hum," respon singkat yang di berikan oleh Emaknya.
"Lagi apa Mak?" tanya Dia pada Emaknya.
"Lagi senam," jawab Emaknya.
"Hah," Dia terkekeh melihat Emaknya yang suka dengan banyolan yang di lontarkan.
"Emang senam apa yang mak lakukan,"
"Senam melenturkan tangan dan otak," tanpa menoleh Emaknya menjawab.
"Apa kamu sengaja buat Emak jadi gila, hanya meladeni mulut mu yang kagak ada benernya." Ucap Emaknya lagi.
Maka seperti itulah setiap harinya jika mereka berkumpul di rumah.
Hanya dia..Yang di antara jantung hati, tempatnya rindu, tempat bermanja tempat curahan yang damai.
"Woy elu kebangetan ya,"
"Apa sih elu kampret, teriak-teriak udah mirip kek kucing yang lagi mau kawin,"
Seketika Dia mendelik kan mata lebar-lebar, karena di bilang kucing yang sedang kawin, oleh Edo.
"Eh resek elu ya, maksudnya apa coba ngatain gue kucing kawin. Terus itu nada dering kenapa jadi lagunya pecah seribu," tukas Dia yang tak terima.
"Lha elu bagaimana sih, katanya suruh ganti. Kan udah di ganti ogeb," protes balik Edo.
"Iyah gak gitu juga kali kampret, penyanyi nya beda tapi alur nya tetep sama," ucap Dia.
"Ganti gak!" bentak Dia.
"Elu bener-bener ya."
"Apa!" tantang Dia.
"Kampret,"
"Elu yang Kampret,"
"Elu,"
"Elu."
__ADS_1
Hayo yang tau kampret cong☝☝.
Brak..Prang..
Seketika mereka terdiam, melihat Mak nya yang lagi kumat. Panci yang semula di pegang kini di lempar ke arah mereka berdua.
"Kalau mau berantem, tuh ambil satu-satu, mau ambil wajan atau panci terserah elu pada."
"Emakkkk!" ucap mereka berdua bersamaan.
"Emak gak budeg, jangan teriak-teriak." Masih dengan muka tanpa ekspresi. Mak Ita menimpali panggilan mereka berdua.
"Mak mau kita bogem-bogeman sama ini barang,"
Karena mereka tak habis pikir dengan ulah Emaknya yang membanting wajan dan juga panci.
Mereka bertiga masih heboh dengan saling adu mulut, sedang kan di lain tempat.
.
.
.
.
.
.
.
Di kediaman Adi.
"Di kamu tambah tua emang gak kebelet pengen nikah ya?" tanya Ibunya yang bernama Rosma.
"Nikah kagak kebelet Buk, yang kebelet itu kawinnya,"
Peletak.
"Auh, sakit Buk, kira-kira apa! Ini itu kelapa,"
Ibunya pun langsung mendelik ke arahnya
"Maksudnya kepala, barusan lidahnya lagi terjungkal jadi salah ucap," ujar Adi.
"Bisa gak sih kamu itu kalau bicara serius sedikit."
Ck..Ck..
Terdengar suara kesal dari Bu Rosma, karena setiap bicara dengan anak lelaki satu-satunya itu, selalu membuat dirinya selalu kesal, karena tak bisa di ajak serius.
"Alah paling-paling Ibu mau membahas soal aku yang di suruh nikah, bosen kali Bu, beda lagi kalau di suruh ngawinin," ucapan Adi seketika membuat Ibunya tersedak saat meminum secangkir kopi.
Uhuk.
Uhuk.
"Dasar Somplak." namun Adi hanya tersenyum kikuk saat dirinya menggoda Ibunya, saat ia berkata seperti itu.
__ADS_1
Bagi Adi keinginan menikah pasti ada, namun dirinya masih belum menemukan tambatan hati yang cocok dengan apa yang ia mau, bukan memilih namun dirinya hanya mencari yang sesuai untuk mengimbangi dirinya, karena saat ini statusnya bukan lagi seorang bujang. Namun statusnya seorang duda, jadi intinya dia mencari sosok yang mau menerima kekurangannya di usianya sudah menginjak yang ke 35 tahun.