
Dia sudah merasa agak tenang, saat dirinya melepaskan beban yang ada di hatinya dengan Indah. Rupanya ia juga harus melakukan seperti apa yang di sarankan oleh Indah. Bersikap manis dan mengurangi tingkahnya yang sedikit bar-bar.
PUKUL 5 SORE.
Dia sudah berada di rumah dan siap untuk menyambut kepulangan sang suami.
Dia duduk termenung di teras depan rumahnya agar saat suaminya pulang, supaya memudahkan dirinya untuk menghampiri suami dewasanya itu. Akan tetapi hingga pukul setengah enam, Adi belum juga pulang. Sehingga membuat Dia sedikit gelisah karenanya.
"Kok tumben ya jam segini belum pulang," gumam Dia. Nampak kuatir jika seseorang yang ditungguinya tidak akan pulang, harapan Dia semoga itu tidak akan terjadi.
Tak berapa lama kemudian. Suara azan dikumandangkan dari arah masjid, tetap saja belum ada tanda-tanda jika suaminya itu pulang. Satu jam sudah dirinya berada di teras, rupanya semua itu sia-sia hingga akhirnya Dia memilih masuk untuk menjalankan tugasnya sebagai orang muslim.
SESAAT KEMUDIAN
Apa gue Wa ya, supaya tahu sekarang dia lagi apa? tapi kalau gue kirim pesan yang ada dia ngerasa gue baper dong. Batin Dia berkata.
Coba deh tunggu beberapa menit lagi, Batin Dia lagi.
Tidak terasa jam yang bertengger di dinding sudah menunjukkan di angka pukul tujuh malam.
Tak berselang lama suara deru mobil terdengar di telinga Dia. Lalu Dia buru-buru untuk berjalan ke arah pintu keluar untuk menyambutnya, karena sudah lebih dari dua jam dirinya menunggu kepulangan Adi, suaminya.
Ceklek. Suara pintu di buka oleh Dia, terlihat Adi baru saja turun dari mobil.
"Om," sapa Dia. Lalu tangannya meraih tangan Adi untuk di ciumnya.
Sesaat mata Adi seakan-akan ingin loncat dari tempatnya, dikarenakan Dia tengah menyambutnya. Itu karena istrinya sebelumnya tidak pernah berlaku seperti hari ini, karena itu Adi merasa heran dan aneh dengan Dia.
Tumben ini bocah, apa habis jatuh dari atas pohon mangga. Atau habis di datangi malaikat? Untuk bersikap manis kepada suaminya. Dalam pikirannya Adi bertanya-tanya.
"Om, kenapa ngelamun?" tanya Dia.
"Tidak, sepertinya kamu habis jatuh dari pohon mangga ya." Ujar Adi pada Dia, karena perubahan sikap sang istri hingga membuat Adi tidak kuat untuk mendiamkannya.
"Om doain aku supaya jatuh gitu. Ish menyebalkan," sungut Dia pada Adi.
"Eh, bukan gitu. Aneh saja dengan sikap kamu," kata Adi sembari masuk kedalam rumah.
__ADS_1
"Kan aku mau jadi istri yang baik buat Om duda."
Uhuk.
Uhuk.
Adi yang sedang meminum air putih untuk melepas dahaga, nyatanya bukan rasa segar yang di rasakan melainkan rasa tercekat saat mendengar penuturan dari sang istri.
"Oh, jadi kamu sudah bisa merasakan jika kamu itu bukan istri yang baik ya. Selama ini," sungut Adi sembari meletakkan gelas kotor bekas minumnya di wastafel.
"Sedikit." Ucap Dia.
"Apa Om masih marah kepadaku." Ucap Dia lagi, memastikan jika suami dewasanya itu tidak akan marah lagi dan membentaknya seperti pagi tadi.
"Jika kamu mau menjadi istri penurut, maka suamimu ini tidak akan marah lagi." Adi menjelaskan dengan langkah menuju Sofa yang berada di ruang keluarga, sedangkan Dia mengekori langkah kaki suaminya tersebut.
"Contohnya," Dia berkata dengan penuh hati-hati.
"Kamu bisa melakukan kewajiban kamu sebagai seorang muslim bukan, dan seharusnya kamu juga bisa melakukan kewajiban kamu sebagai seorang istri tentunya." Adi sedikit tersenyum saat berbicara, namun bukan senyuman tak biasa yang di berikan oleh adi.
"Kan sudah, Om." Dia menghitung jemarinya kewajiban apa saja yang dilakukannya.
"Masak sudah, nyapu ngepel juga sudah, membersihkan rumah pun sudah, terus apa lagi." Ujar Dia, sedangkan Adi sudah merasakan asap tebal berada di ubun-ubunnya, ternyata gadis yang dinikahinya ternyata masih polos.
"Ada yang kurang bodoh!" sungut Adi menjelaskan.
"Apa memangnya?" tanya Dia penasaran.
"Itu," adi memicingkan sebelah matanya berharap Dia mengerti apa yang di maksud Adi.
"Itu apa? ngomong yang jelas." Ucap Dia.
"Ini nih." Adi menjelaskan dengan menggunakan kode.
"Ini apa!" Dia yang tidak mengerti mengikuti gerakan jemarinya seperti yang di lakukan Adi sekarang.
"Masa kamu gak ngerti juga sih." Ucap Adi frustasi.
__ADS_1
"Yeah, orang kamu enggak menjelaskan dengan detail mana aku tahu." Jawab Dia sewot, karena Adi tak kunjung menjelaskan apa yang ia maksud itu.
"Harusnya kamu tahu dong, dengan kode yang kuberikan." Lagi-lagi Adi masih enggan untuk berkata apa yang ia inginkan, jadilah mereka berdua berantem.
"Kalau Om, enggak memberi tahu mana saya tahu. Aku gak tuli jadi gak paham dengan kode itu, serta bahasa planet yang Om berikan."
Adi mengusap kasar wajahnya karena sungguh benar-benar merasa frustasi.
Masa iya saya harus mengatakannya sih, dasar istri engga peka. Batin Adi dengan lava yang sudah siap untuk disemburkan.
Sedangkan Dia, Masih berpikir keras untuk memecahkan misteri yang dibuat oleh Adi.
Apa maksudnya coba, cuma jemarinya yang di bentuk, kalau dia nya kagak ngomong mana gue tahu. Dasar suami bodoh! Di kira gue para normal apa yang bisa tau sama kode yang diberikan," sungut Dia dalam hatinya. Mengumpat habis serta mengatai suaminya.
"Ah, sudahlah. Suamimu ini mau mandi," ucap Adi.
"Om belum memberi tahu salah satu untuk menjadi istri yang baik itu seperti apa." Dia berkata sembari menarik lengan Adi.
"Nantilah, mending sekarang kamu siapin saya makan. Jadi setelah makan kamu bisa praktekin buat jadi istri yang baik serta penurut," tukas Adi. Lalu dirinya masuk ke dalam kamar untuk menyegarkan badan serta otaknya yang hampir meledak.
"Baik." Jawab Dia, setelah Itu dirinya berjalan ke arah dapur untuk menyiapkan makan malam.
"Eh, bentar. Apa yang di maksud suamiku? kalau mau menjadi istri yang baik dan nurut setelah makan 'praktekin' apa maksud dari ucapannya ya?" lagi-lagi Dia berpikir keras untuk bisa menemukan jawabannya.
"Sudah lah, lebih baik gue masak." Gumam Dia.
Menu sederhana untuk pengantar tidur, ia lah Ayam goreng sambal bawang serta udang goreng, tak lupa kerupuk sebagai pelengkapnya.
Beberapa menit kemudian, mereka berdua sudah menikmati menu makan malamnya dengan hikmat.
Tidak membutuhkan waktu lama mereka berdua sudah selesai dengan makanya. Sedangkan Dia masih penasaran hingga membahas soal tadi yang di sebutkan oleh Adi.
"Aku sudah selesai dengan makan ku, bisakah aku memulai praktek menjadi istri baik." Ujar Dia dengan senyuman yang mengembang.
"Bisa, yuk mulai." jawab Adi dengan tidak sabar.
Huuuuuaaaaaa..
__ADS_1