Jodohku Di Tangan Duda Somplak

Jodohku Di Tangan Duda Somplak
131. HARI KELULUSAN CAHAYA


__ADS_3

Setelah pertengkaran dengan gadis sore tadi, entah mengapa membuat Satria tidak bisa memejamkan mata.


Bayangan wajah gadis itu kian terlihat jelas. Padahal Satria membencinya. Tapi mengapa wajah manis itu seakan-akan mengikuti ke mana saja Satria pergi.


Melihat Satria yang tersenyum sendiri membuat Cahaya menghampirinya. Penasaran akan sang kakak tengah membayangkan apa.


"Bang Sat," panggil Cahaya pada Satria.


"Eh, kamu bisa tidak jangan seperti itu!" sungut Satria dengan raut wajah kesal.


"Memangnya nama elu siapa, Bang?" Cahaya meletakkan satu jari di dagunya berharap Satria segera menjawab.


"Satria," ucap Satria yang tengah menyebutkan namanya.


"Lantas salah gue di mana?" tanya Cahaya pada Satria yang sedang menikmati hawa dingin di taman belakang bersama ikan-ikannya.


"Iya ... Iya gak gitu juga kan cara manggilnya," ucap Satria bingung akan jawaban yang akan diberikan oleh nya.


"Elu kan Kakak gue dan gue juga manggilnya Bang, kan." Jawab Cahaya membenarkan ucapannya.


"Iya gak harus pakai embel-embel 'Sat' juga kan," tukas Satria yang masih tidak terima dengan nama panggilannya yang diplesetkan menjadi 'bang Sat'.


"Kalau harus 'Bang Satria' kepanjangan. Makanya gue ngambil simpelnya doang," ucap Cahaya dengan diiringi gelak tawa.


"Eh dasar Adik laknat kamu ya!"


"Biarin, wlee."


Akhirnya mereka saling kejar-kejaran bagaikan anak kecil. Sedang para orang tua yang melihat tingkah mereka harus menggelengkan kepala, akan kelakuan anak-anaknya yang seperti bocah SD.


"Lihat lah putrimu, sebentar lagi akan menikah malah kek bocah SD saja main kejar-kejaran." Mila istri dari Edo berkata akan kelakuan ponakannya yang masih asik bermain. Namun, sebentar lagi akan menikah.


"Terserah lah, puyeng aku ngomong. Apalagi ada Satria mereka benar-benar saudara yang serasi."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Rutinitas yang di jalani Dia bersama keluarga seperti hari-hari sebelumnya.


Hari ini adalah hari kelulusan Cahaya, dengan perasaan yang berbunga-bunga Cahaya sudah bersiap dengan kebaya yang dikenakannya.


"Wah, anak Mama cantik bener sih." Dia pun memuji Cahaya karena memang gadis itu sudah cantik alami. Hasil perpaduan antara suami dan juga dirinya.


Eh, othor nih gimana sih. Di kira ayam kali ya perpaduan😏😏.


Bodoh amat lah thor🤪.

__ADS_1


"Kamu sudah siap?" tanya sang mama pada Cahaya.


"Tentu dong, Ma." Jawab Cahaya bangga.


"Ya sudah kalau begitu, Mama tinggal bentar. Mau nemuin ayah di kamar," ujar Dia pada Cahaya dan setelah itu, ia melenggang keluar dari kamar sang putri dan masuk ke kamarnya.


"By, belum siap juga?" Dia melihat sang suami terus saja bercermin dengan gaya cool nya. Meski sudah berumur pria tersebut masih terlihat tampan dan gagah.


"Eh sayang," saat Adi memutar tubuhnya agar berhadapan dengan sang istri.


"Kenapa?" tanya Dia heran karena bukannya bersiap-siap yang ada malah dirinya terus menatap pantulan tubuhnya, yang berada di cermin.


"Apa aku semakin tua," ujar Adi dengan memegang wajahnya.


"Apa kamu ingin terus muda," ucap Dia yang mendapatkan tatapan dari sang suami.


"Kalau bisa, biar terus terlihat tampan di mata kamu." Jawab Adi dengan guratan-guratan yang sudah tampak terlihat di keningnya.


"Jika kamu ingin terlihat tampan di mataku, cukup seperti ini." Dia berkata sembari mengelus wajah Adi yang di penuhi oleh bulu-bulu halus.


"Seperti yang kamu mau, aku akan terus begini dan akan tetap seperti ini." Adi berkata sembari memegang tangan sang istri yang berada di wajahnya. Mengusap lembut jemarinya dan menciumnya dengan penuh rasa cinta.


"Itu jauh berguna dari pada memperlihatkan ketampanan karena, bukan hanya aku saja yang melihat tapi semua orang termasuk wanita-wanita yang ada di luar sana." Dia menerangkan panjang lebar karena dirinya pun tidak mudah bersaing dengan, wanita berkelas yang ingin menempati kedudukannya sebagai nyonya Adi.


Jika rumah tangga tanpa adanya duri itu bohong. Nyatanya semua wanita ingin menjadi istri dari Adi. Tampan, pengusaha, begitu sangat menghargai seorang istri dan bertanggung jawab. Siapa yang tak mau semua mau karena itu impian para wanita.


"Itu kan dulu, mungkin saat ini mereka sudah lelah mengejarku." Jawab Adi dengan senyuman mengejek.


"Sekarang pun masih ada, jangan pikir aku tidak tahu ya!"


Auh.


"Sakit sayang. Iya, iya aku mengaku." Dia melepaskan cubitannya setelah sang suami mengaku.


"Ya sudah yuk, kasihan Cahaya sudah menunggu." Dia pun mengajak Adi untuk segera keluar dari kamar, untuk mengantarkan Cahaya.


"Sayang, apa calon menantu kamu tidak ikut menemani Cahaya wisuda?" Adi baru ingat kalau dirinya tidak melihat calon menantunya yaitu Riki.


"Kata Cahaya nanti dia bakal nyusul. Jadi, kita akan berangkat duluan." Jawab Dia menjelaskan perihal Riki.


Oh.


Bibir Adi hanya mengucapkan dua kata dan membentuk huruf O. Di rasa sudah waktunya maka mereka segera berangkat.


Dia pun memanggil Cahaya yang berada di kamarnya.

__ADS_1


"Cahaya! Ayo, ini sudah siang." Dia pun memanggil dengan suara yang sedikit tinggi.


"Iya, Ma. Ini sudah siap," timpal Cahaya.


Setelah itu mereka sudah berada di perjalanan untuk menuju ke temat di mana, Cahaya mengenyam pendidikan.


"Sampai juga, cepat lah turun dulu." Sang ayah menyuruh Cahaya untuk turun lebih dulu.


Tanpa menjawab Cahaya langsung turun dari dalam mobil.


Sesampainya Cahaya turun teman-temanya sudah menyambut dengan penuh bahagia karena ini, adalah momen yang sudah di tunggu-tunggu oleh semua siswa dan siswi.


"Ay, kita foto bareng yuk." Ajak teman-temannya termasuk Rury.


Akhirnya Cahaya pun berfoto dan menyimpan semua kenangan saat-saat bersama para temannya.


Puncak acara telah di mulai namun Riki belum juga terlihat, wajah yang diiringi kegelisahan berharap orang yang dicintainya bisa hadir. Namun, sepertinya sia-sia saja karena hampir satu jam lamanya, orang yang di tunggu tidak datang juga.


"Mungkin Riki sedang repot jadi kamu harus bisa memakluminya," ucap Dia yang menenangkan suasana hati Cahaya yang sedang dirundung kekecewaan.


"Tapi dia sudah janji akan datang," ujar Cahaya.


"Apa tidak bisa di hubungi," kata Adi.


"Sama sekali tidak bisa," ucap Cahaya frustasi.


...----------------...


Sedangkan di sisi lain.


Riki yang berada di mobil terhalang oleh kemacetan dan sepertinya ada, kecelakaan yang mengakibatkan akses jalan menjadi terhalang.


Argh.


"Pasti Cahaya akan merajuk kalau seperti ini," gerutu Riki yang berada di dalam mobil. Dirinya masih menunggu jalanan kembali normal. Akan tetapi, kalau begini caranya ia akan tertinggal dalam acara wisuda yang di gelar di sekolah Cahaya.


Akhirnya Riki memilih turun dari mobil dan meminta sang sopir untuk memutar balik jika keadaan sudah normal.


"Pak, apa Bapak serius mau naik ojek?" tanya sang sopir.


"Ini jauh lebih penting daripada gengsi Pak," ujar Riki pada sopirnya


"Ya sudah saya mau keluar." Akhirnya Riki keluar untuk mencari ojek dengan membawa satu buah buket.


Beberapa menit kemudian, akhirnya Cahaya harus menahan kekecewaan karena ketidak hadiran Riki. Mereka bertiga sudah menuju area parkir dan hendak meninggalkan gedung sekolah tersebut.

__ADS_1


Semua sudah siap untuk masuk ke dalam mobil namun sebuah teriakan membuat semuanya berbalik badan.


TUNGGU!


__ADS_2