
"Sayang, apa yang membuat kamu merasa keberatan?" Adi ingin tahu jawaban apa yang akan di dengarnya.
"Aku hanya belum siap untuk melepas Cahaya, hanya itu saja."
"Tugas kita merawat, menyekolahkan dan memberi apa yang ia mau. Setelah dewasa dan Cahaya bisa memilih hidupnya sendiri, maka tugas kita selesai." Adi mencoba memberi pemahaman tentang apa yang dialaminya sekarang.
Apa harus ikhlas.
Apa harus merelakan.
Tentu, sebisa kita harus bisa mengambil keputusan yang tidak akan melukai hati seorang anak.
Dia tertunduk dengan apa yang baru saja di sampikan oleh Adi, suaminya. Jika apa yang dikatakan itu adalah benar.
“Jadi, aku harus menerima Riki sebagai menantu kita?" Dia berkata pada Adi sembari memegang tangan sang suami yang tengah melingkar di perut dengan erat.
“Kenapa tidak, ingat. Kebagiaan kita adalah melihat putri kita bahagia apa lagi dengan lelaki yang baik.” Dia tidak lagi menanggaapi ucapan suaminya namun ia merasa kalau suaminya sedkit bijak dan tegas.
“By,” panggil Dia pada suaminya.
“Hum,” hanya itu respon suaminya.
“Kenapa kamu jadi pintar dan lebih bijak dalam berkata?”
“Eh, iya kah. Aku sekarang lebih pintar lagi serta bijaksana?” justru Adi malah balik bertanya dan itu membuat Dia menepuk jidatnya, ternyata pujian itu hanya sesaat yang di berikan oleh suaminya, nyatanya suaminya kembali menjadi bodoh.
“Tidak jadi aku memuji kamu, By!” seru Dia dengan mencabikkan bibirnya karena sudah mulai kesal dengan suaminya.
“Aku kan hanya bertanya, mengapa kamu kesal seperti itu.” Adi kembali Adi yang seperti hari-harinya.
“Kamu mah, bikin orang naik darah saja."
"Iya, iya maaf. Jangan cemberut gitu dong! nanti cantiknya ilang lho," goda Adi pada sang istri.
Di baliknya tubuh ramping Dia dan di peluknya dengan erat, sangat erat sampai Dia terbatuk.
Uhuk.
Uhuk.
"Apa kamu ingin membunuhku!" ucapan Dia membuat Adi langsung melepaskan pelukannya.
__ADS_1
Hehehe.
"Maaf, saking seneng dan bahagianya aku." Jawab Adi sembari terkikik karena istrinya lagi-lagi memonyongkan bibir sampai maju ke depan.
"Kamu itu sungguh menyebalkan," gerutu Dia sembari berjalan ke arah pintu kamar yang terhubung di arah balkon.
"Kamu saja yang badannya kecil, makanya pas ku peluk terlihat sesak." Adi menyahut tidak terima.
"Halo! kamu saja yang badan kek pilar, makanya sekali peluk langsung bikin orang sesak." Jawab Dia tidak terima juga.
"Sudah, sudah. Kok kita jadi berantem sih kan kasihan Cahaya di bawah," ujar Adi yang menyudahi perdebatannya hanya masalah sesak saat di peluk.
Akhirnya mereka berdua keluar dari kamar dan segera menemui Cahaya, putri satu-satunya dari Adi Dwipangga.
Mereka berdua menuruni anak tangga dan berharap kalau Cahaya masih berada di dapur.
Tidak berapa lama, Dia dan suami sudah ada di pintu untuk masuk ke dalam dapur dan dilihatlah. Cahaya ternyata masih ada di tempat seperti yang mereka suruh.
"Ay," panggil sang mama pada Cahaya.
"Iya, Ma." Cahaya menimpali panggilan dari mamanya.
"Mama akan memberikan restu untuk kalian dan Mama harap, kamu bisa menjaga apa yang selama ini kami jaga di diri kamu." Sebuah petuah diberikan oleh Dia karena ia takut kalau anaknya akan kebablas, maka dari itu Dia memberi nasehat kepadanya.
Dia dan Adi pun tidak bisa memaksa akan pernintaan sang anak yang ingin menikah muda. Cahaya berjanji setelah menikah ia akan mengambil perguruan tinggi dan akan menunda momongan, untuk beberapa saat saja.
"Ma, terimakasih Mama sudah memberi kami restu."
Kini netra teduhnya beralih menatap sang ayah dan ingin menyampaikan terimakasih juga karena, ayahnya mau menyakinkan sang mama.
"Yah, makasih untuk semuanya." Cahaya memeluk sang ayah dengan begitu erat seakan-akan dirinya tidak mau kehilangan sosok pahlawan, yang selalu membela dan selalu menuruti semua keinginannya.
"Sama-sama sayang."
Jika di kediaman rumah Dia sedang berbahagia, sedangkan di rumah Rury. Ia tidak henti-hentinya mengumpat karena telepon dan pesan singkat. Tidak di balas oleh Cahaya.
"Baru juga sam segini, ke mana sih itu anak. Gemes deh gue," gerutu Rury yang berada di dalam kamarnya.
Rury ingin tahu apa yang terjadi setelah pertemuan di restoran. Apa Cahaya sedang di lamar atau langsung di jadikan istri? Rury sangat ingin tahu namun Cahaya sulit di hubungi.
"Gue kan penasaran sama om Riki, apa kalian akan segera menikah dan kamu Cahaya, apa akan melupakan gue sebagai sahabat elu." Lagi-lagi Rury berkata lirih dengan posisi terbaring di atas tempat tidur. Ia tak mau membayangkan jika pada akhirnya akan menjadi nyata.
__ADS_1
Rury tidak mau kehilangan sahabatnya hanya karena sebuah status.
"Semoga elu tidak akan melupakan gue," batin Rury dengan diiringi satu helaan nafas panjang dan terasa berat.
"Baiklah sepertinya gue akan nyamperin itu anak di rumah," gumam Rury lagi dan setelah itu. Pandangannya mulai mengabur dan laman-laman mata itu terpejam dengan sendirinya.
Keesokan paginya pulul 8:00 pagi. Sesuai rencana Rury akan datang ke rumah Cahaya hanya ingin tahu, apa saja yang akan di rencanakan oleh Cahaya dan lelaji dewasa itu.
Dengan menaiki motor maticknya. Rury segera meluncur ke kediaman Cahaya.
Tidak berapa lama sampailah ia di rumah pagar yang cukup mewah, membuat Rury sedikit resah karena hanya Cahaya lah yang mau berteman dengannya. Sedangkan yang lain menjahuinya karena ia hanyalah anak seorang tukang sapu jalanan.
Dengan perasaan yang sedikit takut namun ia coba tepis jauh-jauh. Keluarga Cahaya bukanlah sosok orang yang memandang kasta. Yang ada Rury selalu disambut dengan hangat oleh kedua orang tua Cahaya.
Tang.
Tang.
Tang.
Suara bunyi pagar besi, Rury membenturkan gembok yang berada diantara tralis. Hingga suara terdengar cukup nyaring.
Tang.
Tang.
Tang.
Untuk kedua kalinya Rury membenturkan Gembok tersebut. Entah dirinya yang kepagian atau memang keluarga kaya itu masih belum terbangun dari mimpinya.
Tidak begitu lama terdengar suara pintu terbuka dan menampilkan sosok pria yang sudah setengah abat lebih itu masih terlihat bugar.
Rury segera memanggil hingga pemilik rumah itu pun tahu siapa yang bertamu pagi-pagi.
"Om!" teriak Rury.
"Oh, kamu toh ternyata." Sosok itu adalah Adi, setelah menimpali panggilan tersebut Adi langsung membukakan pintu gerbang untuk sahabat anaknya tersebut.
"Pagi, Om." Rury menyapa ayah Cahaya yang sepertinya setelah melakukan olah raga.
"Pagi juga, Ry. Cahaya baru saja sarapan. Kamu masuk lah," titah Adi pada Rury sahabat Cahaya.
__ADS_1
"Iya, Om." Jawab Rury di sertai anggukan.