
Bruut..
Tut. Tut.
Terdengar suara kentut membuat siapapun yang berada di dekatnya akan benar-benar mual saking baunya.
"Awas minggir kamu,"
"Ih Bapak jorok, bau tau."
Adi tak menghiraukan ocehan Dia, karena dirinya sudah tak tahan karena perutnya serasa di plintir-plintir dan panggilan alam pun tak tertahankan.
Di dalam kamar mandi.
Bruuut.
Bruttt.
Aaaah.
"Lega" gumam Adi.
"Apa saya makan sambal ikan asin plus pete, barusan. Tapi masa iya sampai segitunya sih" Adi terus saja menggerutu meski di dalam kamar mandi.
Karena selama ini dia memakan makanan pedas tak seperti ini juga.
Tak berapa lama Adi keluar, namun sayang belum sampai dirinya melangkah perutnya serasa melilit lagi dan lagi.
Brut.
Brut.
Tooot..
"Buset, Bapak jorok amat sih, lagian nih ya kalau belum selesai pup harusnya diam di tempat! Jangan menyebarkan gas beracun."
Nampaknya ocehan Dia untuk yang persekian kali tak di gubris oleh Adi, karena merasa sesuatu telah berada di ubun-ubun nya.
"Kenapa dengan perut saya, apa mungkin saya terlalu menikmati masakan bocah tengil itu, hingga saya lupa kalau gak bisa memakan makanan yang terlalu pedas, namun aku tak bisa bohong jika rasanya sangat membuat lidahku langsung jatuh hati"
Seakan Adi ingin mencari jawaban atas apa yang terjadi pada perutnya.
Sudah tak terhitung lagi dirinya keluar masuk kamar 'Lemas' itulah yang di rasakan. Dan benar-benar tak berdaya. Sedang Dia, Dia menyantap sisa makanan yang di bawa untuk bosnya, karena tadi pagi ia lupa tak sarapan dan langsung berangkat menuju rumah bosnya.
Saat Dia akan menyuapkan nasi, terdengar suara perempuan sedang mengucap salam. Dia buru-buru mencuci tangannya dan segera menghampiri arah suara itu berada.
"Assalamualaikum."
__ADS_1
"Waalaikumsalam, Bu Rosma."
"Dia, tumben ada di sini?" tanya Bu Rosma penuh selidik.
"Eh, anu, itu, Bu, tadi nganter makanan untuk bos. Karena saya mendapat hukuman,"
"Oh, rupanya begitu. Terus sekarang mana itu si Adi."
"Katanya perutnya sakit Bu, jadi sekarang berada di kamar mandi." terang Dia pada Bu Rosma.
"Ya sudah ayo masuk." Ajak Bu Rosma pada Dia.
Terlihat Adi yang sudah pucat dan badannya sudah tak memiliki kekuatan untuk tetap berjalan.
"Ibu, dari kapan Ibu datang."
"Barusan, katanya kamu tadi di bawakan makanan sama Dia, masih ada gak, Ibu dari luar lapar." Sambil mengelus perutnya serta memperlihatkan jika dirinya memang benar-benar sangat lapar.
"Ada banyak di meja Bu, Ibu makan saja."
Bruut.
Toot.
Sambil memegangi pant*tnya Adi kembali ke kamar mandi untuk menuntaskan panggilan alam lagi.
"De, itu bos kamu habis makan apa sih sumpah ya bau kentutnya sudah mirip bangkai." ujar Bu Rosma pada Dia.
"De, gak tau Bu, bukannya kalau kentut itu rata-rata emang bau bangkai ya," ucap balik Dia.
"Ah, sudah lah."
"Ibu lapar mau makan."Ucapnya lagi, sambil netra nya menelisik sesuatu yang berada di atas meja.
"Ini lho Bu, masih ada sisa ayo kita makan bareng." Ajak Dia pada Ibunya Adi.
"Boleh."
Tanpa pikir panjang kini mereka berdua menikmati masakan yang di bawa oleh Dia. Satu kata yang ada di bibir Bu Rosma 'Sangat nikmat' makanan sederhana di sulap menjadi makanan istimewa membuat Bu Rosma begitu lahap saat menyuapkan sendok demi sendok yang berisikan lauk beserta nasi.
Bu Rosma begitu puas dengan menu yang berada di hadapannya, sederhana namun nikmat tiada tandingannya.
Adi terkulai lemas, saat mereka berdua mengobrol di meja makan, setelah meyelesaikan makan mereka.
"Adi, kamu kenapa nak."
Bu Rosma sangat terkejut dan sangat kuatir dengan keadaan Adi yang sudah lemas terkapar di lantai.
__ADS_1
"Bu, bantu aku berjalan ke kamar ya." belum pingsan hanya kehabisan tenaga hingga dehidrasi membuatnya tak mampu menapakkan kakinya di lantai jadilah dirinya terkapar.
"De, tolong Ibu." Bu Rosma tak bisa sendiri jadi, dirinya meminta bantuan pada Dia.
"Eh, iya Bu." Lalu dengan perlahan mereka berdua membopong badan Adi yang padat serta berisi, membuat keduanya cukup kesusahan. Namun dengan sisa tenaga yang di miliki apalagi setelah perutnya di isi, mau tak mau mereka mengeluarkan tenaganya.
Berat.
Sangat berat, tubuh yang teramat seksi membuat siapa saja akan tergoda. Apalagi saat Dia memergoki Adi sedang bertelanjang dada terlihat bulu-bulu halus menghiasi dadanya serta perut yang sudah mirip roti sobek, membuat siapapun akan terlena saat melihatnya.
"Saya bikinkan teh hangat dulu, untuk mengurangi rasa sakit yang ada di perut Bapak."
Tanpa menjawab hanya mengangguk, membuat Dia lantas keluar ke arah dapur untuk membuatkan teh untuk bosnya itu.
Di dapur.
Dia yang memasak air, kini hatinya di selimuti oleh rasa bersalah karena sudah mengerjai bosnya.
Apa gue sangat keterlaluan telah memberikan pelajaran tapi begitu fatal, tapi kan gue kesel di kerjain mulu, tapi kenapa ada rasa bersalah ya, saat itu orang tak berdaya. Dia yang keasikan melamun tanpa sadar air yang di masaknya kini telah tiada alias hangus, karena saking lamanya air yang sudah masak namun belum juga di angkat.
"Aih, kenapa airnya bisa habis dan ini lagi, kenapa gosong sih" Dia terus saja mengumpat, karena gara-garanya ia pun harus memasak air lagi, karena ia tersadar setelah mencium bau gosong.
Di kamar.
"Di, kamu tadi habis makan apa sih, kok sampai tepar," Ibunya yang penasaran akhirnya bertanya.
"Gak tau Bu, tapi setelah melahap menu makanan yang di bawa Dia, perutku tiba-tiba saja terasa di plintir-plintir." Adi mencoba menjelaskan awal mulanya hingga berakhir seperti ini.
"Nyatanya Ibu dan Dia, tak apa-apa makan makanan yang sebelumnya kamu makan."
Adi terdiam, dan mencerna satu demi satu yang di jelaskan oleh Bu Rosma.
Jika Memang benar, kalau makanan itu di bumbui oleh pencahar, pencahar itu obat pencuci perut ya gaes. Bukanya semua juga mengalami apa yang di rasakan oleh Adi.
Apa saya yang terlalu berlebihan, nyatanya Ibu dan Dia, baik-baik saja. Tak ingin terus memikirkan Akhirnya Adi pun diam namun dalam diamnya kini dirinya mencari pelaku di balik obat pencahar, atau sewaktu tadi dirinya sedang berada di kamar Dia menaburi. Ah, entahlah.
"Pak, ini minumlah dulu agar perut Bapak agak mendingan."
tanpa protes Adi menuruti apa yang di katakan nya.
Tanpa sengaja pandangannya Dia, terarah ke arah sisi kanan tembok, sebuah jam terpajang jelas di di dinding, membuat Dia ingin segera pamit untuk bekerja.
"Pak Bu, saya pamit ya. Sudah jam dua, takut di marahi Emak."
Dia mencoba pamit dengan cara halus, karena ia tak mau jika nantinya Emaknya marah-marah akibat dirinya lupa pulang, saking asiknya main.
"Ya sudah terimakasih De." ucap Bu Rosma dengan senyuman yang terukir bahagia memandangi gadis ayu itu.
__ADS_1