Jodohku Di Tangan Duda Somplak

Jodohku Di Tangan Duda Somplak
92 . DETIK-DETIK PERJUANGAN MENJADI SEORANG IBU


__ADS_3

Hingga pukul lima pagi, wajah gusar Dia semakin terlihat. Perutnya tidak sakit, namun perasaan gelisah terus hadir menemaninya.


Merasa dirinya tidak sedang mengompol lantas dalam hati Dia terus bertanya-tanya, yang membasahi dasternya hingga tembus di tempat tidur itu air apa?.


Dia pun bergegas membersihkan badan dan setelah itu akan membersihkan seprei yang terkena oleh bahasan air tersebut.


Sedangkan Adi yang mendengar suara gemericik air, langsung membuka mata.


"Sayang, kamu sedang apa!" Adi berteriak di balik pintu guna ingin tahu istrinya itu sedang apa.


Dia yang mendengarkan suaminya yang berada di luar akhirnya menyahuti, karena posisi Dia sekarang sedang menggosok badannya dengan sabun.


"Mandi By! sepertinya aku ngompol." Jawab Dia di dalam kamar mandi.


Adi pun bernafas lega, dan rencananya ia akan menghubungi sang Ibu, untuk menemani istrinya di rumah.


Dia sudah keluar dari kamar mandi, lalu dirinya celingukan mencari sosok suaminya, namun tidak terlihat di sekeliling kamar. Akhirnya Dia memutuskan untuk mencarinya di bawah dan lekas keluar kamar dan bergegas menuruni anak tangga satu persatu.


Sesampainya di ruang tengah Dia mencari ke semua sudut ruangan. Dia melihat suaminya dari arah pintu luar sembari tangan yang memegang ponsel.


Adi melihat Dia di ujung ruangan, membuatnya langsung mengulas senyuman yang begitu menawan.


"Sayang, bau mu harum sekali." Adi menggoda Indah dengan sebuah ucapan.


"Ya jelas harum, orang habis mandi." Jawab Dia datar.


Ck ... Ck.


Adi berdecik karena seperti itulah jika Adi sedang memuji atau menggoda, bukannya terpancing malah Dia terlihat acuh.


"Dari mana?" tanya Dia pada suaminya.


Adi terdiam karena ia tidak mau di marahi oleh sang istri karena diam-diam telah menghubungi Bu Rosma.


"Ah, itu tadi ada telepon dari Haikal." Jawab Adi bohong.


"Oh." Hanya itu yang keluar dari mulutnya.


"Sayang kamu sakit?" Adi berbalik bertanya karena melihat Dia yang sangat pucat.


"Perutku rasa begah, apa aku masuk angin ya." Jawab Dia pada suaminya.


"De," panggil Adi.


"Kenapa." Jawab Dia.


"Sebaiknya kita ke rumah sakit ya," ucap Adi memberi saran.


"Nanti kalau perutku memang sakitnya gak ilang, aku mau." Jawab Dia dengan di barengi helaan nafas.


"Ya sudah."

__ADS_1


Adi merasa tidak tenang karena melihat wajah istrinya yang semakin pucat.


Adi melengos meninggalkan Dia yang masih mematung di ruang keluarga. Sedangkan Adi pergi ke dapur untuk membuat menu sarapan untuknya dan juga istrinya.


Dia yang kini sedang berada di taman, menyirami bunga di halaman belakang. Tiba-tiba saja merasakan sakit di perutnya 'mulas' seperti orang yang sedang BAB.


"Duh perut gue kenapa ya?" ucap Dia yang tengah berbicara sendiri.


"Eh, kok hilang lagi." Dia berkata lagi.


Namun lama kelamaan rasa mulas itu kian tak beraturan.


Yang tadinya 30 menit, kini berubah menjadi 15 menit. Lalu jarak yang semakin dekat, kisaran 10 menit yang ia rasakan sekarang.


"Apa gue mau lahiran ya? di buku KIA. HPL gue kan masih dua hari lagi.


HPL itu singkatan dari ( hari perkiraan lahir) ya gaes.


Untuk beberapa saat Dia masih bisa menahan rasa sakit di perutnya.


Namun dua jam telah berlalu rasa itu semakin tidak beraturan, dan sekarang menjadi lima menit. Rasa itu tiba-tiba hilang dan tiba-tiba muncul.


Sedangkan Adi gusar karena istrinya tidak mau di bawah ke rumah sakit, dan sekarang ia menunggu kedatangan Mak Ita dan Bu Rosma.


Di dapur Adi sudah membuat sarapan dan berniat memanggil istrinya yang berada di halaman rumah.


Begitu sampai di tengah pintu, Adi melihat Dia yang berjalan sembari memegang perut buncitnya tersebut.


"Iya, By. Pinggangku sakit," ucap Dia yang saat ini sudah berada di pelukan sang suami.


Melihat istrinya kesakitan, ada rasa nyeri yang ikut di rasakan oleh Adi.


Bikinnya begitu terasa nikmat, namun kalau melihat Dia merasakan sakit seperti ini. Berasa ngilu semua gigiku, gumam Adi dalam hati.


"Ibu sama Mak, sebentar lagi sampai kamu tahan ya." Adi berkata sembari mengelus punggung istrinya dan mencoba menenangkannya, walau begitu dirinya harus mendapat kemarahan Dia.


"Kamu ini gimana sih, orang sakit malah di suruh tahan!" Dia kesal karena rasa sakit yang kian menjadi malah suaminya suruh menahan, apa dia pikir orang melahirkan bisa di tahan. Mirip seperti orang buang air besar.


Huaaaa..


Dia berteriak menahan sakit, dan itu membuat Adi menjadi bingung.


"Mak, sakit!" teriak Dia lagi, karena untuk yang sekarang dirinya sudah tidak mampu lagi menahan sakit yang luar biasa di punggung, perut, serta di area sensitifnya.


Tepat saat Dia berteriak terlihat Mak serta mertuanya tengah menghampiri mereka berdua di taman belakang. Dengan langkah tergesa-gesa kedua paruh baya itu mendekati Dia dan Adi.


"De, apa kamu mau melahirkan?" tanya Mak Ita dengan nafas tersengal-sengal akibat berlari.


"Iya Di, sepertinya istri kamu akan melahirkan." Bu Rosma ikut menimpali dan berkata pada Adi.


"Aku gak tahu Bu, yang merasakan Dia. Lantas mengapa Ibu bertanya kepadaku," ujar Adi dengan tampang bodoh nya.

__ADS_1


"Hye, Stop. Kalian kenapa jadi berantem!" gertak Mak Ita karena jengah melihat tingkah ibu dan anak tersebut.


Seketika semua diam, dan keadaan menjadi hening.


"Sekarang siapkan mobil, dan kita segera berangkat ke rumah sakit." Mak Ita segera menyuruh menantunya untuk cepat-cepat menyiapkan mobil, agar Dia bisa segera di bawah ke rumah sakit.


Semua berhamburan dan melupakan sosok Dia yang masih mematung.


Sedangkan di mobil mereka bertiga saling diam karena merasa ada yang ketinggalan.


DIA!


Semua memanggil nama 'Dia' karena mereka bertiga melupakan istri Adi yang sedang merasakan kontraksi.


Akhirnya mereka bertiga keluar mobil dan segera menghampiri Dia yang berada di taman belakang.


"Maaf sayang aku lupa," ucap Adi dan segera menggendong istrinya keluar dan menuju ke mobil.


Di dalam mobil.


"Kalian benar-benar tega ya, melupakan aku!" seru Dia dengan menahan rasa sakit.


Aaaaaa..


"Mak, sakit!" Dia terus berteriak di dalam mobil.


"Sayang, tari nafas dalam-dalam. Lalu keluarkan perlahan," ucap Mak Ita menguatkan sang anak.


Hu.


Hu.


Hu.


"Sakit." Mendengar Dia merintih berteriak kesakitan, membuat semua orang yang berada di mobil ikut berteriak.


Aaaaa.


"Sakit!"


Bu Rosma tak kalah keras dalam berteriak, dan itu membuat Mak Ita ikut pusing.


"Besan, yang mau lahiran itu anakku. Mengapa Bu besan ikut berteriak," ucap Mak Ita.


Aaaa.


"Sakit bodoh!" Bu Rosma malah berteriak dan memaki.


"Mak! Lihat kelakuan anakmu," ucap Bu Rosma lagi.


Sedangkan Mak Ita, yang melihat hanya mampu menelan ludah, karena kalau dirinya yang ada di posisinya bisa di pastikan mulutnya tidak dapat berhenti untuk tidak berteriak.

__ADS_1


__ADS_2