
Mencintaimu adalah hal terindah untukku. Akan tetapi cinta mu tak pernah bisa ku gapai, memujimu dalam diam itu caraku. Mencintaimu dari jauh itu lah aku. Meski bibir ini berkata rela tapi tidak dengan hati ini. Teramat sakit, sakit saat mengenang namamu di sanubari ku.
Suara bariton dari arah yang tidak jauh dari Dia dan Riki, membuat nya langsung menoleh ke sumber suara itu.
Dengan nafas yang tak beraturan, Dia mencoba setenang mungkin untuk bisa menjelaskan.
"O-om suami, se-sejak kapan Om berada di situ." Dia berkata dengan suara gemetar. Berharap kalau suaminya tidak akan salah paham dengan yang di lihatnya sekarang.
"Jangan bertanya tentang sejak kapan aku ada di sini De, yang perlu kamu tau. Sejak kapan kalian sering bertemu, bahkan mengobrol berdua?"
"Benar kan, kamu menolak ku karena ingin menjadi simpanan om-om itu De," tanpa Riki tahu seberapa besar hubungan di antara Dia dan pria itu tersebut.
"Hye kau bocah, apa saya terlihat sedang mengencani seseorang." Dengan tatapan elang nya, membuat Riki sedikit takut. Namun ia tahu kalau dirinya pun berhak untuk mendapatkan Dia, seseorang yang selalu di cintai nya dengan diam.
"Sepertinya begitu, anda harusnya sudah tau kan kalau dia itu kekasihku, tapi malah anda menawannya!" seru Riki.
Akan tetapi bukan pria itu, melainkan sekarang yang menjawab karena ucapan Riki terlalu berlebihan.
"Siapa yang elu sebut sebagai kekasih, gue. Mimpi saja sana! denger ya gue gak pernah merasa menjadi kekasih elu, elu tau semakin ke sini semakin gue muak yang terlalu melebih-lebihkan hubungan kita yang hanya sekedar teman tidak lebih."
Dia sangat marah, dengan penuturan yang di ungkapkan oleh Riki. Takut, takut jika suami nya akan bertambah salah paham.
"De, bisa di jelaskan." Bagi Dia suara yang sedikit menakutkan serta tatapan tidak seperti biasa nya. Membuatnya menelan ludahkan sedikit kasar.
"Kita hanya berteman Om, tidak lebih. Kami juga jarang ketemu," Dia mencoba berkata dengan jujur. Entah suami dewasanya itu akan percaya atau tidak. Yang penting ia sudah berkata dengan jujur.
Sedangkan pria itu yang tak tak lain adalah Adi, kini netra nya memandangi wajah sang istri. Mencoba menurunkan ego nya, agar tidak salah dalam melangkah. Mendengarkan apa yang di katakan oleh Dia, selama itu masuk akal.
Dengan perlahan Dia berjalan di mana suami nya berada, menghampiri dan menggenggam tangannya. Mungkin itu solusi yang tepat dalam benak Dia.
"Hye anak muda, kamu tahu siapa wanita yang kamu sukai itu, dan yang kamu bilang adalah tawanan ku itu. De istri saya! jadi jangan berkata macam-macam dengannya ataupun mengatainya yang tidak-tidak." Ancam Adi karena ia tidak mau kalau sang istri di bilang perempuan tidak beres.
Sedangkan Riki terdiam sambil menata nafas nya yang teramat sesak, saat seseorang yang mengaku suaminya tersebut mengatakan kalau memang betul, Dia adalah istrinya.
__ADS_1
Hancur sudah harapan Riki karena sudah tidak bisa lagi memiliki kesempatan, untuk mendapatkan cinta De, yang ia kagumi setahun ini.
"De, apa yang di katakan pria dewasa itu benar?" tanya Riki memastikan, namun bukan De lagi yang menjawab melainkan Adi suami dari Dia.
"Bahkan sekarang De, mengandung darah daging saya! jadi jangan mengganggu De lagi, karena sudah jelas bukan." Ucap Adi pada Dia.
Sedangkan Riki maupun Dia sama-sama terdiam.
"Maaf." Setelah berkata, Riki meninggalkan Dia. Riki pergi dengan membawa sejuta luka, cinta yang ia idamkan ternyata hanya bayangan semu. Mungkin saja dulu ia tak pergi dan segera mengungkapkan perasaannya, kejadian ini tidak akan pernah terjadi.
Dia menatap kepergian Riki dengan wajah yang tak bisa di artikan lagi, toh Dia juga tidak mempunyai perasaan terhadap Riki.
Selepas kepergian Riki. Dia menyusul suami keluar dan mencarinya.
"Di mana Om suami sekarang," gumam Dia.
"Sepertinya Om suami ada di mobil," Dia bergumam lagi seraya memastikan jika benar suaminya berada di mobil.
"Om, panggil Dia lagi untuk yang kedua kalinya.
Sebenarnya Adi mendengar, karena emosinya masih belum stabil. Jadi, ia tidak mau sampai marah atau membentak istrinya.
Untuk seperkian detik, Adi mencoba menetralkan segalanya yang ada di hatinya.
" Apa Om masih marah dengan kejadian tadi, tapi sungguh aku gak ada rasa sedikitpun dengan Riki." Dia berkata dengan begitu lirih, meski begitu Adi masih bisa mendengar apa yang di katakan oleh istrinya barusan.
"Jadi siapa yang kamu cintai," ujar Adi.
"Yang ku cinta itu ada ... Ada ... Lah kamu Om, maaf baru bisa mengungkapkannya."
Bahagia tentu, senang pasti, karena itu lah kata-kata yang selalu di tunggu-tunggu oleh Adi. Kata cinta yang terucap dari bibir Dia.
Adi yang mendengar akan hal itu, mengulas senyuman, karena pada akhirnya ia bisa mengambil hatinya serta meruntuhkan batu karam, yang selama ini ia coba untuk hancurkan.
__ADS_1
"Apa kamu sedang tidak bercanda," ucap Adi memastikan.
"Tidak. Aku benar-benar serius," balas Dia dengan di iringi senyuman manis.
"Kamu yakin."
"Eum." Dia menjawab sembari mengangguk.
"Terimakasih ya De," dengan senyuman yang tersungging Adi berkata.
"Iya Om."
"Tapi tidak untuk yang tadi. Selepas dari rumah aku akan memberikan hukuman untuk kamu," seru Adi. Tetap saja ia kan lelaki normal punya rasa sakit hati.
"Bukannya Om suami sudah tidak marah, tapi kenapa memberiku hukuman." Ucap Dia tidak terima, karena akan di beri hukuman. Entah apa yang akan di berikan oleh Adi setelah mereka sampai di rumah.
Dia dan Adi di dalam mobil masih berdebat, sedangkan di lain tempat.
...----------------...
DI KEDIAMAN RIKI.
Selepas dari pertemuannya dengan Dia, Riki masuk ke dalam kamar dan hingga sore menjelang.
Meski sang Ibu sudah memanggil-manggil namun rupanya panggilan itu di hiraukan oleh Riki.
Sedari siang tadi Riki murung dan hanya hisapan rokok lah yang menemaninya, serta sebotol minuman beralkohol. Riki merasa hidupnya sudah tidak berarti lagi, seseorang yang ia cintai nyatanya sudah menjadi milik orang.
Tidak bisa menerima kenyataan bahwa Dia sudah menjadi istri orang. Andaikan perasaan itu cepat di sampaikan mungkin sekarang dirinya dan Dia hidup bahagia.
De, kenapa kamu tega membuatku seperti ini, kamu tau kan kalau aku sangat mencintaimu. Namun rasa cinta yabg ku berikan padamu nyatanya kamu belas dengan cara seperti ini. Batin Riki menangis nafas riki terasa sesak mengingat saat ia mendengar bahwa Dia, tidak mencintainya.
Cinta bertepuk sebelah tangan membuat nya benar-benar hancur.
__ADS_1