
Bahagia itu sederhana, cukup syukuri, jalani, dan nikmati. Ikuti semua prosesnya pada akhirnya indah pada akhirnya.
DI KEDIAMAN RUMAH ADI.
"Sayang, kamu cantik sekali." Adi memuji sang istri karena menurutnya semakin hari semakin mempesona, aura yang di perlihatkan menambah kekaguman.
Bagi Adi rasanya tak ingin pergi, dan ingin menghabiskan malam hanya ada di dalam kamar berdua saja.
Tidak ingin kecantikan sang istri di lihat banyak orang, membuat Adi enggan untuk menghadiri acara pernikahan Haikal dan Indah.
"Aku memang cantik dari sononya, jadi pujian kamu itu sudah biasa, By." Jawab Dia dengan wajah jutek.
"Ah, rasanya aku tidak mau pergi." Ucapan Adi sontak membuat Dia mencabik kan bibirnya.
"Apa kamu ingin mengingkari janjimu By, soal kado itu?" tanya Dia dengan mengangkat satu alisnya.
"Bukan masalah itu sayang, kenapa kamu jadi salah paham." Kata Adi menjelaskan.
"Lantas," ucap Dia menimpali.
"Aku tidak ingin pergi, kerena ingin berduaan denganmu di kamar. Setelah itu kita olah raga sore di atas ranjang," ucap Adi menjelaskan.
"Dasar otak mesum, yang ada di kepala kamu cuma kasur dan kasur." Jawab Dia dengan nada kesal. Lalu ia berjalan meninggal Adi yang berada di bawah tangga, sedangkan Dia sudah berlalu pergi.
"Ish, kebiasaan! selalu di tinggal," gerutu Adi.
Setelah itu, langkah Adi di percepat agar istrinya tidak bertambah kesal padanya.
Dia datang berdua hanya dengan suaminya saja, karena Cahaya di tinggal dengan suster Ella. Takut kalau akan pulang malam, jadi mereka berdua meninggalkannya di rumah bersama pengasuhnya.
Adi berjalan cukup cepat, hingga bisa menyamai langkah Dia, yang sama-sama sudah berada di mobil.
Dengan segera Adi membuka pintu mobil untuk Dia. Setelah itu dirinya juga masuk.
"Sayang, nanti pulang kita dinner yuk." Ajak Adi pada Dia.
"Dalam rangka apa nih?" tanya Dia penasaran.
"Tidak ada, hanya saja ingin pacaran sama kamu. Kita kan tidak pernah melewati yang namanya pacaran," ujar Adi.
Sengaja ia berbohong, karena hari ini adalah di mana hari anniversary yang kedua tahun pernikahan mereka.
Dalam hati Adi merasa sedih karena istrinya sama sekali tidak mengingat hari jadi usia pernikahannya. Apa Dia masih belum sepenuhnya memberikan hatinya serta cinta untuknya? karena hari bahagia serta momen yang ia tunggu-tunggu ternyata Dia melupakan itu semua.
Adi diam sejenak, nyatanya Dia tidak bertanya lagi.
Mereka berdua saling diam, dan tidak ada yang memulai membuka percakapan. Keadaan hening dan sunyi, seperti layaknya sosok yang tak saling kenal.
__ADS_1
Tidak terasa setengah jam perjalanan yang mereka tempuh, akhirnya sampai di gedung di mana Haikal menyewa untuk acara pernikahan mereka yang ia gelar dengan sangat mewah.
Adi turun terlebih dulu, dan setelah itu ia membukakan pintu mobil unt sang istri.
Acara yang cukup ramai, membuat Adi bertambah malas. Adi memang dari dulu tidak suka dengan keramaian dan itu mengapa setiap kali teman-temannya mengajak reuni ia tak sekalipun datang, walau hanya sekedar penghormatan.
Adi menggandeng tangan Dia, serta memegang erat jemari-jemari lentik milik istrinya.
Saat mereka berdua saling berpegangan, banyak pasang mata yang menatap ke arah mereka berdua.
Dalam benak semua orang.
Apa itu istri atau kekasih Adi, jikapun mereka sepasang suami istri kapan mereka menikah?
Tidak ada undangan bagi orang yang mengenalnya.
Apa sosok Adi menyewa seseorang untuk ikut menemaninya?
Seperti itu lah isi hati mereka jika di ungkapkan nya. Lalu tiba-tiba saja orang yang sangat di kenalnya, langsung menghampiri serta bertanya hanya untuk mengurangi rasa penasarannya.
"Pak Adi, apa kabar!" salah seorang bertegur sap hanya sekedar bertanya kabar.
"Baik Pak, Bapak sendiri apa kabarnya. Lama tidak bertemu," ucap Adi dengan lelaki yang bernama pak Wahyu.
"Baik juga Pak, oh iya. Ini siapa Bapak?" tanya Pak Wahyu pada Adi.
"Wah, Bapak diam-diam menyimpan bidadari ya." Kata Pak Wahyu sambil tersenyum.
"Bapak tahu saja, ya sudah saya mau ke depan dulu." Adi pamit pada Pak Wahyu untuk ke depan, karena ia belum memberikan selamat pada Haikal.
"Oh, iya Pak. Silahkan," ucap Pak Wahyu mempersilahkan.
Setelah itu mereka berdua berjalan maju ke depan untuk memberikan kado pada para mempelai.
"Kal, selamat atas pernikahan kamu. Sekarang kamu sudah tidak menjadi jomblo sejati," ucap Adi dengan merangkul pundak Haikal.
"Ah kamu bos, suka sekali mengejekku." Jawab Haikal kesal.
"Kalian tidak memberiku kado, hanya ucapan selamat saja?" tanya Haikal yang masih sempat-sempatnya meminta kado.
"Elu kalau urusan kado semangat ya." Sindir Dia.
"Istrinya bos, sesekali belajar matre." Haikal menjawab sindiran yang di lontarkan oleh Dia.
"Sudah-sudah, kalian kalau sudah ketemu mirip tikus sama kucing! berantem mulu." Sergah Adi pada mereka berdua.
"Kal, nih kado dari saya." Lalu Adi memberikan kotak kecil pada Haikal.
__ADS_1
Haikal pun yang penasaran akhirnya bertanya.
"Ini apa?" tanya Haikal sambil mengolak-alik kota kecil tersebut. Sedangkan Dia masih mengobrol dengan Indah.
"Akhirnya awak mu keturutan due bojo wong sogeh yo," (akhirnya kamu keturutan punya suami orang kaya juga ya) ucap Dia sambil tersenyum. Membayangkan kalau jodoh memang rahasia tuhan.
"Iyo, aku ra nyongko lho." (iya aku tidak nyangka lho)
Melihat dua perempuan yang tertawa terbahak-bahak. Membuat dua lelaki yang berada di sebelahnya mengerutkan kening, karena Adi ataupun Haikal tidak mengerti bahasa jawa.
"bos, mereka berdua berkata apa?" tanya Haikal.
"Iya, sebenarnya mereka ngomong apa?" Adi balik bertanya.
Akhirnya mereka berdua sama-sama mengangkat bahu, tanda jika mereka sama-sama tidak tahu dan tidak mengerti.
Pukul sembilan malam. Adi dan Dia memutuskan untuk pulang, karena Adi sudah berjanji untuk mengajak Dia makan malam.
"Sayang yuk," ajak Adi pada Dia.
Sedangkan Dia hanya tersenyum menanggapi ajakan sang suami.
Di restoran yang cukup terkenal, kini mereka duduk berdua. Setangkai bunga mawar berada di tengah meja menambah suana menjadi sedikit romantis.
Tidak terlalu banyak pengunjung hanya ada satu, tiga orang yang berada di tempat.
"Sayang, terimakasih sudah bersedia menjadi istriku. Walau sebetulnya kamu menerimanya dengan keadaan terpaksa, terimakasih sudah menemani ku selama dua tahun ini. Dan terimakasih kamu telah memberiku kado terindah dengan menghadirkan Cahaya di tengah-tengah." Adi memegang kedua tangan Dia dan menyampaikan isi hatinya, karena baginya ini adalah momen yang pas untuk mengungkapkannya.
"Maaf jika aku belum bisa menjadi suami serta lelaki yang kamu impikan, tetapi aku berusaha menjadi seperti yang kamu mau. Berusaha menjadi suami serta Ayah yang baik." Adi mengutarakan isi hatinya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Tidak By, semua itu sudah lebih dari cukup. Kamu sudah menjadi sosok suami yang baik serta Ayah yang bisa di jadikan panutan bagi semua orang. Terimakasih sudah memilihku untuk kamu jadikan teman hidupmu, dan terimakasih juga telah menerima aku yang hanya gadis biasa. Padahal di luar sana banyak wanita yang mengejar-ngejar kamu," ucap Dia lirih dan netra nya yang menatap lekat ke arah sang suami.
"Aku yang harusnya berterimakasih sama kamu, karena kamu mau menerimaku yang sudah duda dan sudah berumur." Jawab Adi dengan wajah sendunya.
Selang berapa menit Adi mengeluarkan kota bludru berwarna merah, dan menghadapkannya ke arah sang istri
"Apa ini?" tanya Dia bingung.
"Happy anniversary yang ke-2 tahun sayang."
Dia membuka kotak yang merah pemberian dari sang suami.
"Kalung." Lirih Dia.
"Iya sayang kamu suka," ucap Adi.
"Suka By, ini kalung yang aku pengen kenapa kamu bisa tahu." Dengan wajah yang berbinar-binar Dia berkata.
__ADS_1
Kalung dengan liontin huruf D, terlihat sangat istimewa dan sangat mahal pastinya. Dia tidak percaya kalau suaminya akan memberikan kado hari jadi pernikahannya dengan kalung yang ia inginkan.