Jodohku Di Tangan Duda Somplak

Jodohku Di Tangan Duda Somplak
BAB 62. Perjuangan Adi ( Mencari makanan untuk Dia )


__ADS_3

Engkau bagaikan air yang membuatku dingin, di kala aku marah, di kalah aku resah. Engkau penyemangat hidup ku di kalah aku bersedih, di kala aku menangis. Engkau penyemangat hidupku yang membuatku bahagia. Tetaplah seperti ini hingga nanti. Menjadi lentera untuk ku untuk kita.


Bisakah sekarang Om suami berangkat untuk membelinya," ucap Dia dengan perasaan tidak sabar.


"Baiklah kalau begitu, suamimu ini akan membelikannya untuk istriku tercinta." Adi berkata dengan di iringi gelak tawa.


"Jangan lupa bubur ayam, cilok ada di depan sekolahan SD, sama gado-gado." Ujar Dia memberi tahu apa saja yang di pesan olehnya.


Seketika Adi berhenti melangkah, lalu memutar balik tubuh nya untuk menatap wajah sang istri.


Apakah itu normal untuk ukuran perut seorang perempuan, lalu bagaimana cara istrinya memakan jika semua di minta? semua tak bisa terpikir dalam benak Adi, karena sungguh tidak logis menurutnya.


"mengapa Om, menatapku seperti itu." Ujar Dia karena suami dewasanya itu menatapnya tanpa berkedip.


"Apa yang kamu ucapkan itu serius," ucap Adi merasa tidak yakin akhirnya ia bertanya sekali lagi.


"Memangnya ada tampang bohong, di wajahku." Dia menatap ke arah suaminya dengan tatapan jengah karena tidak kunjung berangkat untuk membeli, malah diam dan terlalu banyak tanya.


"Sedikit, tidak banyak." Jawab Adi.


"Jika kamu bertanya terus kapan berangkatnya, apa menunggu aku akan benar-benar kelaparan," sungut Dia.


"Jadi sekarang, bisakah kamu segera berangkat!" tambah Dia lagi, karena merasa kepulan asap yang ada di telinganya sudah mulai keluar.


"I-iya ini berangkat. Satu, dua, tiga, Berangkattt."


Puf..


Dia menghela nafas lega akhirnya dirinya tidak jadi mengeluarkan asap tebal.


Sedangkan Adi sudah hilang dari pandangan Dia. Di kamar sekarang hanya ada dirinya sendiri merasakan badannya sudah mirip permen nano-nano, apalagi di perutnya.


"perasaan gue kagak telat makan, tapi perut gue berasa begah banget ya." Gumam Dia sambil memegangi perutnya.


SEDANGKAN DI LAIN TEMPAT.


Adi mencari penjual bubur ayam terlebih dulu, setelah itu ia akan mencari cilok dan gado-gado.


"Akhirnya ketemu juga," ucap Adi pada dirinya sendiri.


Setelah mendapatkan bubur ayam, kini giliran mencari gado-gado. Adi tidak lupa untuk melirik ke arah kiri dan kanan, agar tahu jika ada penjual gado-gado.


"Ish menyebalkan, ini badan sudah wangi dan rapi tapi harus mencari makanan di pagi hari." Adi tidak henti-hentinya menggerutu karena dirinya dari sebelumnya tidak pernah melakukan hal seperti ini, tapi sekarang dirinya harus rela berpeluh keringat demi sang istri.

__ADS_1


Kalau bukan untuk istri tercintaku, rasanya tak sudi saya melakukan ini semua. Apalagi ini pagi panas banget padahal baru jam setengah sembilan. Gumam Adi di sepanjang jalan, karena dirinya belum juga menemukan penjual gado-gado.


"Eh, ada sekolahan di ujung sana. Coba kesitu dulu sepertinya," lalu Adi melajukan mobil nya untuk menuju ke sekolah dasar, karena jajanan cilok sering kali menjajakan dagangannya di sekolah-sekolah itu tersebut.


Sesampainya di depan sekolah, Adi memarkirkan mobilnya.


"Pak, cilok seporsi berapa?" tanya Adi pada penjual cilok tersebut.


"Bapak mau berapa?" penjual cilok tersebut bertanya kembali pada Adi. Adi bingung karena selama ini dirinya tidak pernah beli jajanan di pinggir jalan.


"Terserah Bapak mau berapa," ucap Adi pasrah, karena jika salah ucap maka dirinya merasa tak enak hati untuk menyebut berapa ribu yang ia mau.


"Baik lah Pa," ujar penjual tersebut.


"Oh iya, ini memangnya untuk siapa Pak, kalaupun untuk diri sendiri rasanya kok tidak mungkin ya. Ujar penjual tersebut, karena penasaran untuk jawaban yang akan di berikan oleh Adi nantinya.


" Ini untuk istri saya Pak, istri saya ingin makan cilok." Jawab Adi dengan senyuman yang tersungging.


"Jadi istri Bapak lagi ngidam ya?" tanya penjual cilok tersebut, ucapan penjual itu sontak membuat Adi bingung.


"Tapi istri saya sedang tidak hamil Pak," timpal Adi. Walau sebenarnya dirinya sangat ingin.


"Lagian istri saya tidak muntah-muntah, jadi saya rasa tidak." sanggah Adi lagi.


"enggak harus muntah-muntah Pak, kalau menurut saya istri Bapak sedang hamil. Makanya pengen makan yang aneh-aneh," tukas penjual cilok menjelaskan seputar kehamilan.


"Cuma 5000 ribu Pak." Jawab Bapak penjual cilok.


Lalu Adi merogoh saku dan mengambil uang 20 ribu untuk membayar cilok.


"Ini Pak, kembaliannya ambil saja." Adi membayar dengan uang 20 ribu dan untuk kembalian ia berikan pada sang penjual.


Betapa bahagia Bapak penjual itu, yang tengah menerima uang dari Adi. Sedikit namun sangat berarti untuknya.


"Alhamdulillah Ya Allah masih saja ada orang yang baik, mau memberi kami yang membutuhkan." Bapak penjual cilok itu berdoa dan sangat bersyukur.


"Ya sudah Pak, saya pamit ya." Sudah tidak ada lagi yang ia butuhkan di tempat itu, lalu dirinya buru-buru untuk mencari gado-gado.


"Iya Pak, hati-hati."


Adi tidak menjawab hanya di balas dengan senyuman.


Adi melajukan mobilnya lagi untuk mencari satu pesanan lagi, yakni gado-gado.

__ADS_1


Tidak berapa lama kemudian, akhirnya Adi mendapatkan makanan yang bernama gado-gado.


"Pak satu, di bungkus ya." Adi berkata pada penjual gado-gado tersebut, karena tidak begitu mengantri jadi dirinya juga tidak perlu menunggu lama.


"Baik Mas, silahkan di tunggu." Jawab penjual itu dengan ramah.


Tak begitu lama gado-gado tersebut sudah di tangan Adi, lalu dengan gegas dirinya membayar dan langsung menuju ke arah mobil.


Di dalam mobil Adi masih terngiang-ngiang akan ucapan penjual cilok tadi.


Apakah benar yang di katakan oleh orang itu, bahwa istrinya sedang hamil. Jika itu benar betapa senangnya Adi, karena dirinya akan menjadi seorang ayah.


Semoga saja benar. Gumam Adi dalam hatinya.


Sekitar hampir satu jam, Adi baru sampai di pelataran rumah, dan sekarang dirinya sudah masuk ke dalam dengan kresek yang di tenteng nya


Adi meletakkan semua pesanan istrinya di dapur, lalu dirinya memanggil sang istri untuk segera memakan apa yang ia pesan tadi.


DI KAMAR.


"Sayang, kamu di mana!" teriak Adi karena di kamar dirinya tidak menemukan Dia.


"De," panggil Adi lagi.


"Gak harus teriak kenapa sih," sungut Dia. Setelah keluar dari dari kamar mandi.


"Pesanan kamu di bawah, cepetan turun terus di makan." Dia menurut dan mengikuti suaminya keluar dari kamar dan menuruni tangga.


Sesampainya di dapur Dia mempersilahkan Adi untuk duduk.


"Sayang," panggil Dia dengan suara manjanya.


Sedangkan Adi merasa heran, pada sang istri.


"Kenapa." Jawab Adi.


"Sekarang makan lah, aku tahu kalau suamiku ini sedang lapar." Ujar Dia dengan wajah yang di buat semanis mungkin.


"Kamu kan yang minta di belikan, kenapa harus suamimu ini yang harus makan." Ucap Adi dengan menelan ludahnya secara kasar.


"Istrimu ini sedang ingin melihat, suaminya makan, makanan ini! jangan lupa di habiskan ya, anak pintar."


"Apa kau sengaja ingin mengerjai suamimu ini," ucap Di dengan wajah pucat.

__ADS_1


"Jangan banyak bicara. Lekas makan dan habiskan!" seru Dia.


GLEK.


__ADS_2