Jodohku Di Tangan Duda Somplak

Jodohku Di Tangan Duda Somplak
140. MALAM PERTAMA YANG GAGAL.


__ADS_3

"Sekarang pulanglah kalian, di rumahku acaranya sudah selesai!" kata Adi pada pasangan yang bernama Indah dan Haikal.


"Kalian mengusirku," ujar Haikal dengan tangan yang berada di pinggang.


"Aku tidak mengusir kalian, lihat semua sudah tidak ada orang bukan." Haikal yang mendengar Adi berbicara. Seketika menyusuri di setiap isi ruangan. Dan benar saja jika semua para tamu sudah tidak ada lagi hanya menyisakan beberapa saudara terdekat karena memang. Acara tidak dibuat besar-besaran dan hanya mengundang sebagian saja.


"Kau selalu saja menyebalkan," gerutu Haikal pada Adi.


Sedangkan Dia tersenyum dalam hati karena gara-gara mereka berdua yang telah membuat kesal dirinya.


"Sekarang pulang lah kasian rumah kalian diangkrakin. Memangnya mau itu rumah jadi sarang demit ... Hi atut," ucap Dia yang menakut-nakuti mereka.


Keduanya juga merasa sedikit takut karena ulah dari Dia.


Tanpa pamit Keduanya berlalu meninggalkan kediaman Adi. Mereka berlari secepat kilat dan tidak memperdulikan akan dirinya yang akan, terjungkal atau tidak.


Adi dan Dia terus tertawa dengan memegangi perut. Sehingga membuat sepasang pengantin baru itu merasa penasaran dan ingin melihat, apa yang sedang terjadi pada ayah dan juga mama mereka.


"Mas, ada apa dengan mereka?" Cahaya pun mencoba bertanya pada suaminya yang belum genap satu hari tersebut.


"Sepertinya kesurupan." Jawab Riki dengan datar.


"Mana siang-siang begini kesurupan," ujar Cahaya tidak percaya.


"Lagian mana ada di siang bolong seperti ini ada setan, yang pasti mama kamu habis mengerjai orang." Riki pun membeberkan kebiasaan mertuanya.


"Eh ... Benar apa yang Mas katakan, pasti mama sedang mengerjai tante Indah dan juga om Haikal." Cahaya baru ingat kalau tadinya sang mama sedang berkumpul dengan teman lamanya yang sudah, lama tidak berjumpa.


"Biarkan saja mereka menikmati hari tuanya. Mending sekarang kita ke kamar," ucap Riki yang ingin mengajak Cahaya untuk masuk ke dalam kamar.


"Mau ngapain, mau tidur pun ini masih jam berapa coba." Cahaya menunjukkan jam yang berada di gawai nya.


"Apa kamu lupa ini hari apa," kata Riki dengan raut wajah yang tidak bisa di artikan.


"Sekarang hari saptu, memangnya kenapa?" Cahaya mengerutkan keningnya saat suami bertanya soal hari.


"Iya aku tahu ini hari saptu." Jawab Riki dengan nada yang setengah menahan sesuatu.


"Kalau Mas, sudah tahu ini hari apa? Lalu kenapa bertanya." Setelah itu dirinya meninggalkan Riki yang masih diam di tempat dengan menahan kekesalan akibat, perbuatan istri kecilnya itu.


...----------------...

__ADS_1


Tidak ada pernikahan yang mewah hanya ada acara ijab qobul dan malamnya mereka mengadakan pesta kecil-kecilan sebagai bentuk, turut berbahagia atas pernikahan Riki dan Cahaya.


Tidak banyak tamu yang di undang. Hanya ada saudara dan kerabat dekat yang mereka undang.


Malam yang melelahkan membuat Riki tidak sabar untuk segera membuka segel. Dengan raut wajah yang berbinar-binar Riki menghampiri istri kecilnya itu di depan meja rias. Karena Cahaya sedang membersihkan wajahnya dengan pembersih wajah.


Sekarang pukul sepuluh malam. Di mana semua orang sudah tidak terlihat dan pesta juga telah usai.


"Sayang, yuk tidur." Riki pun mengajak Cahaya untuk tidur namun di tolaknya karena Cahaya belum selesai, dengan peralatan kecantikannya.


"Aku belum selesai. Jadi, tidurlah." Jawab Cahaya dengan tangan yang masih memegang kapas.


Akhirnya Riki pun menuju di tempat tidur dengan cara bersandar. Lalu dirinya mencoba sabar sebentar.


Tidak berapa lama kemudian Cahaya sudah naik ke atas tempat tidur. Ada rasa aneh yang menyerbu namun Cahaya masih berusaha untuk tenang, walau rasa itu terus saja membuat dirinya tidak nyaman.


"Ay, apa bisa kita memulainya?" tanya Riki yang sudah tidak sabar dengan wajah kegirangan ia mendekat ke arah Cahaya.


"Mau ngapain," ujar Cahaya sedikit gemetar.


"Main," ucap Riki dengan senyuman yang terlukis di bibirnya.


"Malam-malam begini mau main apa?" tanya Cahaya yang masih bingung akan arah pertanyaan itu.


"Ini, ini apaan. Aku sama sekali tidak mengerti," tukas Cahaya yang menirukan apa yang dilakukan oleh Riki.


Sepertinya malam ini Riki harus gigit jari karena Cahaya tidak mengerti, dengan kode yang sudah di berikan olehnya.


"Kenapa Cahaya belum juga mengerti kalau sebenernya ini adalah malam, di mana pengantin baru akan melakukan ritual wajib." Dalam hati Riki terus mengumpat karena Cahaya belum juga paham.


"Sayang ini kan malam, malam pengantin kita masa kamu tidak mengerti." Akhirnya Riki mengatakan inti dari ucapannya tadi, agar Cahaya dengan segera menangkap apa yang di mau oleh Riki.


"Lantas apa hubungannya dengan kikuk-kikuk dengan malam pengantin kita?" Cahaya Mengerutkan keningnya karena ia benar-benar tidak mengerti dengan bahasa isyarat, yang diberikan oleh Riki lewat jemari-jemarinya.


Cahaya sedari tadi sudah mencoba berpikir keras agar segera menemukan jawabannya. Namu, semua itu nihil nyatanya ia belum juga mengerti.


"Gini nih, orang kalau sedang main bola sodok itu dimasukin nya di mana?"


"Apa itu sebuah rumus yang harus aku jawab," tandas Cahaya.


"Harus, kamu harus menjawab." Riki pun sedikit bersemangat dengan begitu dirinya akan segera merasakan indahnya surga dunia.

__ADS_1


"Setelah memilih bola yang pasti dimasukin dengan cara di sodok dong." Jawab Cahaya dengan penuh keheranan. Dalam benaknya mengapa dirinya harus menjawab, seputar itu.


"Terus jika ingin memasukkan harus lewat mana?"


"Yang pasti di tiap tempat itu mempunyai lubang lah." Jawab Cahaya.


"Nah pinter. Jadi, apa kita akan bermain bola sodok." Riki pun langsung berbinar-binar untuk menunggu jawaban dari Cahaya.


"Apa Mas sudah gila! Malam-malam begini mengajakku bermain bola sodok," seru Cahaya yang nampaknya sudah mulai jengah dengan semua rumus yang diberikan oleh sang suami.


Sedangkan Riki menghela nafas kasar karena sepertinya malam ini, dirinya tidak akan bermain bola sodok, seperti pengantin-pengantin pada umumnya.


"Ck ... Astaga Cahaya masa kamu tidak mengerti dengan apa yang aku katakan, sungguh kamu menyebalkan!" Riki berdecak kesal karena malam ini benar-benar gagal untuk membuka segel.


"Nasib punya istri bocah. Hadeuh, jadinya begini nih." Riki meratapi nasibnya dalam hati dan sedari tadi, dirinya tidak bisa berhenti untuk berdecak.


Sedangkan Cahaya menunduk dengan buliran air mata karena sudah mendapatkan kemarahan dari Riki.


"Jangan cengeng. Aku tidak suka punya istri yang hobinya nangis! Sekarang tidur lah ini sudah sangat malam aku mau merokok sebentar," ucap Riki lalu dirinya bangkit dari tempat tidur dan meraih tas untuk mengambil, barang yang menghasilkan asap.


Cahaya pun tertegun akan ucapan itu. Pasalnya Riki pernah bilang di saat dirinya sedang kesal maka cara satu-satunya, yang menghidupkan moodnya lagi adalah rokok.


"Apa mas Riki sedang kesal padaku makanya sekarang sedang keluar untuk menghisap rokok.


...----------------...


Sedangkan di kamar setelah membuat keringat, Adi dan Dia sedang memikirkan Cahaya.


" By, apa mereka sudah belah duren?" tanya nya pada sang suami.


"Bisa jadi tidak dan bisa jadi iya." Jawab Adi dengan tangan yang masih bermain-main di tempat favoritnya.


"Kenapa bisa begitu," ujar Dia dengan sesekali menahan keinginan untuk mengeluarkan suara indahnya.


"Cahaya masih polos dan ada kemungkinan mereka akan bersetru dulu," kata Adi lagi yang masih kurang sepertinya dengan permainan yang baru saja selesai.


"Sudah jangan pikirkan itu karena otakku tidak bisa berpikir jika melihat ini, ini, lalu ini." Adi dengan satu jarinya menunjuk ke tempat yang selalu membuatnya candu.


"Kamu itu sudah tua, maka kurangi olah raga kasurnya." Dia pun mengingatkan jika suaminya itu sudah tua.


"Yang tua itu orangnya, tapi fisiknya masih kuat."

__ADS_1


Belum sempat Dia berbicara lagi namun bibirnya sudah di bekap oleh Adi dan itu membuat Dia, tak bisa lagi berkutik. Karena suaminya membawanya menuju kenikmatan yang tiada tara.


Akhirnya keduanya melanjutkan ronde ke-2 untuk malam ini. Setelah pertempuran yang menggoyangkan kasur. Hingga pasangan itu terlihat kelelahan dan akhirnya tidur dengan cara berpelukan.


__ADS_2