
Yah yang ada di pikiran Adi sekarang adalah memakan risoles dan kopi hitam, entah mengapa ia ingin sekali makan jajanan pasar tersebut.
"Om, bayangin apa sampai-sampai gitu amat yah mukanya." Gumam Dia, dengan mengerutkan keningnya ia melewati suaminya tanpa ingin menegurnya. Biarlah Adi membayangkan sesuatu entah apa yang ada di otaknya, karena kepala menghadap ke atas serta mulut yang menganga. Ya, semoga saja tidak ada lalat masuk ke dalam mulutnya itu.
Setelah melewati Adi Dia beranjak dari kamarnya, dan kembali turun ke bawah.
DI DAPUR.
"De, suami kamu belum bangun?" tanya Edo, dengan mulut di penuhi oleh kue.
"Masih ngelamun. Entar kalau udah selesai ngebayangin bakal turun juga itu orang," seru Dia.
"Awas lho laki elu ngebayangin yang tidak-tidak," ujar Edo memberi tahu.
Sedetik Dia langsung memikirkan Adi yang ada di kamar, saat bayangan itu tiba-tiba datang.
Semoga saja, Om suami gak ngebayangin yang tidak-tidak. Melihat ekspresinya sih kek orang yang membayangkan yang indah-indah. Ucap Dia dalam hati.
"De, ngapa elu." Tegur Edo.
"Kagak apa-apa," jawab Dia.
Sedangkan Mak ita, tidak menghiraukan kedua anak nya yang berada di meja makan, karena ia asik dengan kreasinya. Membuat cemilan yang bernama risoles.
"De," panggil Mak Ita dengan posisi masih berada di depan kompor.
"Iya Mak." Jawab Dia, lalu dirinya menoleh ke arah sumber suara tersebut.
"Bangunkan suami kamu, ini cemilan mumpung masih hangat." Ujar Mak Ita, lalu menyuruh Dia untuk memanggil suaminya.
"Iya Mak. Ini di panggil," tukas Dia. Lalu ia berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah kamarnya yang ada di lantai dua.
Sesampainya di kamar, Dia melihat suaminya tidak lagi bengong seperti tadi, saat dirinya masuk ke dalam kamar. Saat ini suaminya tertidur dengan wajah teduhnya, saking memandangi wajah suaminya yang sangat tampan itu. Sampai-sampai ia lupa akan tujuannya ke kamar.
"Om, bangun. Om suami buruan bangun!" teriak Dia.
"Risol, saya pengen risol." Dengan posisi mata mata masih terpejam Adi berucap, dan rupanya suami Dia itu sedang mengigau karena menyebutkan nama jajanan pasar.
"Om, bangun! Ini risol nya mumpung masih hangat." Kata Dia sambil menepuk-nepuk wajah wajah yang sangat tampan meski keadaan tidur sekalipun.
__ADS_1
Adi menggeliatkan tubuhnya, karena merasa tidurnya terusik.
"Om, bangun." Untuk yang ketiga kalinya Dia membangunkan suaminya, dan yang ketiga kalinya juga baru berhasil.
Adi mulai membuka matanya secara perlahan dan mengumpulkan nyawanya.
"De," panggil Adi dengan posisi kedua tangannya tengah mengucek matanya.
"Hem." Jawab dari Dia membuat Adi langsung memandangi wajah sang istri.
"Saya pengen makan risoles, bisakah kamu membelikannya." Ucap Adi dengan wajah memelas.
"Gak usah beli, di dapur Mak buat banyak." Jawaban dari Dia membuat mata Adi berbinar-binar, karena kue itu lah yang ia ingin makan, sampai-sampai terbawa di alam mimpi.
"Kamu tidak lagi bercanda kan," manik Adi menatap wajah istrinya berharap apa yang di katakan oleh Dia benar-benar Ada.
"Memangnya keliatan tampang bohongnya ya," sungut Dia dengan menahan kekesalannya.
"Oh ya, satu lagi. Bisakah Om suami tidak berkata dengan nada formal, seperti 'saya' contohnya dan bisa menyebut kamu itu aku kan." Dia sengaja mengutarakannya, karena jujur dirinya merasa tidak nyaman seperti itu.
"Eum ... Baik lah saya, eh aku akan segera turun." Ujar Adi berkata dengan menyibakkan selimut yang masih melekat di tubuhnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
PUKUL 06:00 PAGI.
Adi sudah selesai bersih-bersih dan ia segera turun untuk menghampiri orang-orang yang berada di dapur. Dengan rasa tidak sabar dirinya berlari kecil untuk bisa cepat sampai di lantai satu dan menuju dapur, karena sudah tak sabar untuk menikmati kue sampai-sampai membuatnya terbayang-bayang.
"Pagi Mak, pagi Bang." Sesampainya di dapur Adi mengucapkan selamat pagi untuk mertuanya serta Abang iparnya.
"Pagi juga." Jawab mereka berbarengan.
"Ini kue buruan makan." Ujar Mak Ita menyodorkan sepiring risol dan kopi hitam.
Beberapa saat kemudian Adi sudah menghabiskan enam kue, dan secangkir kopi hitam lalu dirinya berpamitan untuk berangkat seperti hari kemarin.
"Sayang suamimu ini mau berangkat, pulang seperti tempo hari." Adi menjelaskan.
"Eum. Berhati-hati lah dalam bekerja," Dia menjawab sembari memberikan sisa kue.
__ADS_1
"Ya sudah aku berangkat," ucap Adi.
"De, suamimu sudah berangkat."
"Allahuakbar, Mak." Dia terkejut karena tiba-tiba saja suara Mak nya membuatnya terlonjak kaget.
"Maaf," tukas Mak Ita, karena memang kedatangannya seperti jelangkung.
"Mak tadi bilang apa," Dia mengulang tentang Mak nya yang berkata entah apa itu.
"Tidak jadi, karena yang di tanya sudah hilang dari pandangan." Mak Ita berkata sembari langkah kakinya masuk ke dalam lagi. Tidak begitu lama Dia mengikuti langkah Mak nya untuk masuk ke dalam dan menutup pintu.
DI RUANG KELUARGA.
Mak Ita mengajak Dia duduk dan beliau ingin sekali mengobrol, dan bertanya pada sang putri.
"De, Mak boleh tanya." Mak ita memandangi wajah Dia dengan seksama.
"Apa yang mau Mak tanyakan?" tanya Dia pada Emak nya.
"Sebenarnya suami kamu kerja apa," Mak Ita dihantui oleh rasa penasaran akhirnya memutuskan untuk bertanya.
"De, juga enggak tahu mak." Jawab Dia datar.
"Harusnya kamu kan tahu De," ucap Mak Ita, karena dalam pikirannya manalah seorang istri tidak tahu tentang pekerjaannya.
"Beneran De tidak tahu Mak." Dia masih bersikeras jika dirinya memang tidak tahu soal itu.
"Memangnya kamu tidak bertanya tentang pekerjaannya, dan bagaimana ia mendapatkan uang banyak sampai bisa merenovasi rumah kita! hum." Mak Ita sudah tidak bisa mengendalikan emosinya, pasalnya mengapa bisa dirinya tidak tahu menahu dengan dunia pekerjaan suaminya.
Dia tidak menjawab dan hanya tertunduk, untuk sekedar mengangkat kepalanya ia takut.
"Jawab De, jangan hanya bisa diam dan menunduk." Sambung Mak Ita lagi.
"Kemarin De tanya, bukan jawaban yang di berikan malah suami De bilang kalau aku tidak boleh kuatir." Ucap Dia dengan suara gemetar.
"Mengapa bisa begitu?" tanya Mak Ita, karena beliau tidak mau berburuk sangka tentang menantunya itu.
"Pekerjaan halal, dan juga uang halal yang di berikan oleh De. Jadi suami De bilang kalau ada kerjaan lain selain pemilik restoran." Ujar De menjelaskan, karena ia tidak mau kalau Emak nya berpikiran buruk tentang suaminya itu. Jadi apa yang ia dengar dari mulut suaminya itulah yang di sampaikan kepada Emak nya.
__ADS_1