
Hati Riki kian berdebar saat melihat Cahaya yang begitu sangat cantik dan terlihat anggun dengan dress berwarna pink, terlihat sangat menggemaskan dengan rambut yang diurai. Serta poni yang menambah kecantikannya.
"Om, Riki sangat tampan walau usianya sudah tidak mudah lagi." Cahaya berkata dalam hati dan memuji ketampanan yang dimiliki oleh Riki.
Saat mata mereka sama-sama tidak berkedip kala melihat perubahan yang ada di diri masing-masing.
Tanpa mereka sadari kalau di belakang mereka ada ayah dari Cahaya, yang sedang menatap tidak percaya dengan dua anak adam, yang sedang kasmaran akan pandangan pertama.
Ekhem.
Ekhem.
Untuk yang kedua kalinya mereka sama-sama tidak mendengar deheman Adi.
Hem.
Uhuk.
Uhuk.
Setelah pura-pura batuk akhirnya keduanya sama-sama tertunduk dan salah tingkah.
"Apa sudah tatap-tapannya!" Adi melirik ke arah Riki dan menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Om," sapa Riki pada Adi.
"Siapa yang kau panggil Om, lagian saya tidak pernah menikah dengan tante kamu!" gertak Adi pada Riki.
“Lantas saya memanggil dengan apa,” ujar Riki sembari menggaruk kepalanya yang di rasa tidak gatal.
Adi bingung Riki harus memanggil dengan sebutan apa? pasalnya kalau harus memanggil ayah, Riki belum menjadi menantunya.
“Saya juga tidak tahu, kamu harus memanggi saya apa.” Adi benar-benar di mode bodoh untuk saat ini.
“Baiklah saya akan memnggil anda ‘Ayah’ bagaimana? setuju atau tidak sama sekali,” celetuk Riki pada Adi calon ayah mertuanya.
“Masalahnya saya tidak pernah menikah dengan ibu kamu, mengapa kau memanggilku seperti itu.” Jawab Adi tidak terima dengan Riki yang memanggilnya ayah.
“Lantas anda mau dipanggil apa! jangan membuat saya gila dengan pembicaraan yang tidak berfaidah,” sungut Riki yang mulai kesal dengan ayah dari gadis yang akan di bawanya.
Cahaya yang melihat keduanya sudah tahan, jika terus keduanya berdebat lantas kapan ia bisa segera pergi kencan, dengan om tampannya itu.
STOP!
Mendengar Cahaya berteriak membuat keduanya langsung diam dan bungkam seketika.
“Apa kalian akan terus bertengkar! dengan perkataan yang tidak penting seperti ini,” Cahaya terpaksa memarahi kedua orang tersebut dewasa tersebut karena, itu semua membuatnya sangat muak.
“Lagian kenapa itu cucunguk memanggilku dengan sebutan ‘om’ terus di mana salah Ayah!” seru Adi pada Cahaya.
__ADS_1
“Ayah kamu di panggil semua nama tidak mau, terus mau di panggil apa! aku kan jadi bingung,”
Mereka masih berdebat soal panggilan dan itu membuat Cahaya, bertambah pusing kala mendengar.
STOP!
“Kenapa kalian jadi berantem lagi sih, apa kalian tidak capek.” Cahaya langsung melenggang keluar karena benar-benar kesal dengan dua pria dewasa, namun kelakuan bak anak kecil.
Keduanya melihat Cahaya bertambah marah akhirnya memilih diam.
Sedangkan dari arah dapur Dia yang mendengar keributan, mencoba untuk menghampiri karena ia takut kalau dua orang dewasa, akan saling adu kekuatan.
Buru-buru Dia keluar dengan langkah yang tertatih, melihat jika semuanya akan baik-baik saja.
Sesampainya di luar betapa sangat terkejutnya melihat dua orang dewasa saling berdebat hanya sebuah panggilan.
PRANGGGG.
BRAKKK.
Dia melemparkan panci ke arah kedua pria dewasa tersebut dan sukses keduanya, saling beradu pandang dan kini berganti macan tutul yang keluar.
“Apa-apaan sih kalian, kalau mau silat lidah jangan di rumah ini bikin berisik tau gak!” seru Dia pada mereka berdua.
“Om, istrimu mengapa jadi berubah menjadi macan tutul.” Ucapan Riki membuat Adi seketika menoleh ke arahnya.
“Bukannya Dia itu memang macan tutul, kalau sudah marah maka bisa saja kamu di gantung di pohon cabe,” ujar Adi menakut-nakuti Riki walaupun dirinya juga takut.
“Apa kalian sedang mengataiku, lalu menyumpahiku. Jawab!” bentak Dia.
Masih tetap keduanya diam dan tidak ada yang berani menjawab atau pun membantah. Setelah itu dirinya celingukan mencari Cahaya namun tidak ditemukan.
“Mana Cahaya?” tanya Dia pada keduanya.
Keduanya tidak ada yang menjawab, hanya mengangkat kedua bahunya karena mereka sama-sama tidak tahu.
“Dasar bodoh semua!” maki Dia.
Lalu Dia pergi keluar untuk mencari keberadaan Cahaya karena siapa tahu dia ada di depan.
Benar saja Cahaya duduk di teras depan rumah dengan wajah yang cemberut.
“Ay,” panggil Dia pada sang putri.
“Iya, Ma.” Jawab Cahaya dengan nada lesu.
“Kenapa?”
“Sebel sama om Riki dan ayah,” ucap Cahaya dengan wajah sendunya.
__ADS_1
“Mereka seperti anak kecil dan tidak ada yang mau mengalah,” tambah Cahaya lagi.
“Ayahmu jika bertemu memang seperti itu.” Ucapan Dia membuat Cahaya langsung menoleh dan menatap tajam ke arah sang mama, seakan-akan meminta penjelasan.
“Sebetulnya ayah kamu juga mengenal yang kamu panggil ‘om Riki’ itu, meski tidak terlalu dekat tapi ayah kamu kenal.” Setelah mendengar penjelasan dari sang mama, Cahaya semakin yakin kalau ia akan memantapkan hatinya pada pria dewasa tersebut.
“Lebih tepatnya kalian saling mengenal,” kata Cahaya yang semakin ingin tahu.
“Bisa dibilang begitu.” Jawab Dia dengan dilengkapi oleh sebuah anggukan.
“Ma, tolong pisah tikus dan kucing yang berada di dalam, lihat lah suara itu. Membuatku tidak jadi berkencan,” ucap Cahaya kepada sang mama, yang meminta tolong untuk memisahkan kedua orang dewasa yang berada di dalam.
“Sepertinya harus menggunakan cara kasar untuk menghentikannya.” dengan senyuman jahatnya. Dia akan membuat perhitungan dengan orang-orang yang berada di dalam sana.
Dia membisikkan sesuatu terhadap anaknya dan menyuruhnya untuk lewat garasi saja.
“Baik, Ma.” Jawab Cahaya patuh dan setuju dengan apa yang disuruh oleh sang mama.
Setelah itu Cahaya beranjak dari tempat duduknya, lalu berjalan ke pintu garasi berada.
Tidak membutuhkan waktu lama, Cahaya sudah membawa apa yang disuruh oleh mamanya. lalu memberikannya dan Dia pun memegang apa yang baru saja diberikan oleh Cahaya.
“Yuk, masuk.” Dia mengajak Cahaya masuk ke dalam.
“Apa tidak akan terjadi sesuatu pada mereka?” tanya Cahaya khawatir jika barang yang ada di tangan Dia berbahaya.
“Anak SD, juga tahu ini bahaya atau tidak. Jadi, kamu jangan khawatir.” Dia mencoba menyakinkan sang anak.
Sesampainya di dalam keduanya tetap saling tidak ada yang mau mengalah dan itu, membuat Dia dan Cahaya semakin kesal.
Saat Dia mulai akan menyalakannya ia lupa tidak membawa korek.
“Ay, teru ini mau dinyalakan pakai apa.”
“Oh iya lupa,” ujar Cahaya lalu dirinya pergi ke dapur untuk mengambil korek.
“Siap,” ucap Dia.
“Siap.” Jawab Cahaya penuh dengan semangat.
“Satu, dua, tiga.”
Kretek.
Kretek.
Kretek.
Dar … Dar … Dar.
__ADS_1
BOOOOOM!