Jodohku Di Tangan Duda Somplak

Jodohku Di Tangan Duda Somplak
BAB 37. Tarzan (Betina)


__ADS_3

Mak Ita yang sudah pulang di antar oleh Adi, sedang kan Bu Rosma pulang di jemput sopirnya. Dua hari telah berlalu semenjak para orang tua itu menginap di kediaman Adi. Semua berjalan dengan bagus, tak ada kata saling menyindir saling meremehkan kekurangan masing-masing. Mengingat keluarga Dia bukan lah dari keluarga berada, nyatanya keluarga Dia dari kalangan yang tidak kaya dan tidak miskin juga, seperti kelas menengah mungkin bisa di bilang seperti itu.


PAGI INI.


Adi yang bingung mencari Dia yang hampir frustasi, sejak pukul 9:00 tak melihat istri kecilnya itu.


Apa mungkin istrinya marah karena di larang untuk bekerja sewaktu pagi tadi?


Duh bocah kamu di mana sih, uda mirip kek jin saja, tiba-tiba muncul, tiba-tiba hilang. Gerutu Adi dalam hatinya.


Lelah mencari istri kecilnya itu, hingga ia melupakan sarapan, di tambah lagi suara gawai terus menerus bunyi.


Akhirnya Adi pun memutuskan untuk mengangkat telepon terlebih dulu, sebelum ia melanjutkan sarapannya, tentunya masih mencari istri kecilnya.


DI TELEPON.


["Iya Halo, ada apa sih kamu bikin orang sakit kepala saja!"] Adi kesal pasalnya karena bunyi gawai membuatnya bertambah pusing.


[" Pak, ada klien yang datang katanya sudah membuat janji dengan Bapak."]


Agh sial, kenapa pula saya melupakan tentang kerja sama dengan orang yang kemarin telepon ya. Gumam Adi di dalam hatinya.


["Halo Pak, Bapak masih mendengar saya."] Seru Haikal selaku orang kepercayaan sekaligus teman Adi.


["Kalau bicara jangan seperti itu, muak rasanya dengan kamu yang berbicara terlalu kaku,"] sungut Adi pada Haikal yang selalu saja berkata formal kepadanya.


["Ok baik lah, terus ini gimana?"] tanya Haikal pada Adi.


["Ya sudah kamu handel karena aku masih ada urusan yang lebih penting." Ucap Adi pada Haikal, untuk mengatur sarat kerja sama yang akan di lakukan siang ini.


["Jangan bilang kalau urusan cewek,"] ujar Haikal.


["Sudah lah jangan kepo dengan urusan orang."] Setelah itu Adi menutup sambungan telepon.


"Dasar, udah duda menyebalkan pula." Di sisi lain Haikal mengumpat bosnya, karena setiap di telepon jika membicarakan soal perempuan maka sambungan telepon pun di tutup secara sepihak.


Sedangkan Adi menaruh gawai di meja, lalu dengan langkah cepat, ia segera menuju ke dapur untuk sarapan karena cacing di perutnya sudah berontak untuk segera minta di isi.


Adi sudah mengambil sepiring nasi dengan lauk telor balado dan tumis kangkung kesukaannya, dengan lahap ia makan karena perutnya memang benar-benar lapar, dan melupakan soal istrinya sejenak.

__ADS_1


Dan tak berapa lama ia telah menyelesaikan acara sarapan paginya.


"Huff, musti di cari lagi nih, pantang menyerah sebelum menemukan." Ujar Adi yang tengah menyemangati dirinya sendiri.


Tapi sebelumnya itu, ia teringat kalau ikan-ikannya belum di beri makan.


Ck..ck..


"Ada saja yang lupa." Gerutunya sambil membawa toples yang berisikan makanan ikan.


Pluk.


"Eh apaan ini, kok ada kulit pisang udah gitu jatuh kena kepalaku." Ujar nya heran, karena ada kulit pisang yang mengenai kepalanya.


Plung.


Lagi-lagi di lempar di kolam ikannya kulit pisang itu.


"Masa pagi-pagi ada setan jahil sih." Gumam Adi yang merasa merinding plus takut, karena sudah dua kali kulit pisang jatuh dan sempat ada yang mengenai kepalanya.


Sedikit takut, namun mencoba menghilangkannya.


"Jawab dong, kenapa kalian diem." Ujarnya lagi.


Duh Adi-adi, mau kamu ngajak ngomong sampai bangkotan pun tidak akan di jawab, iya kali di dunia dongeng. Ini mah dunia nyata! Sadar dong Adi dari tingkat kewarasan mu, hingga ngebuat kamu kek orang gila.🙄


"Aduh kalian ini gimana sih, bisu kali ya kalian. Awas saja nanti tidak saya beri makan kalian lagi." Adi terus saja mengajak ikan-ikan itu berbicara, tapi tiba-tiba ada suara yang menimpali hingga membuat ia takut.


"Saya lihat orang gila. Hi hi hi." Terdengar suara yang menyeramkan di tambah suara tawa yang membuat kengerian.


Dan adi pun mendengar suara itu berasal dari pohon mangga, yang berada tepat sebelahnya.


"Tolong, Mbak kunti jangan nakut-nakutin saya." Dengan suara gemetar Adi berbicara.


"Saya ingin daging kamu. Hi hi hi." Terdengar suara dari pohon mangga membuat Adi banjir oleh peluh.


"Aduh jangan dong Mbak kunti daging saya rasanya kek empedu." Adi berkata dengan tergagap.


"Buat makan peliharaan saya bodoh! bukan buat saya! Kalau saya sukanya daging sapi, sama ayam."

__ADS_1


Hantu kok suka makan ikan ya? Bukannya setan itu suka sama bunga. Adi sedang berpikir keras tentang suara yang ada di pohon mangga tersebut.


Lalu dengan perlahan, kepala Adi mendongak keatas, dan netra nya mencari sosok tersebut, dan setelah melihat siapa yang berada di pohon mangga tersebut, membuat muka Adi langsung memerah dan..


"Dasar bocah tengil! kau berani-beraninya mengerjai saya ya, awas kalau kamu turun!" Betapa kesalnya Adi saat tau ternyata yang berada di atas pohon mangga adalah istri kecilnya yang ia cari-cari.


"Turun gak kamu tarzan, ayo turun cepat!" Adi berteriak memanggil Dia, hingga tenggorokannya sakit, namun tarzan tersebut masih asik menikmati pisangnya.


Dasar tarzan betina bikin orang naik darah saja, uda keringetan eh, ujungnya bikin ngeselin. Umpat Adi dalam hatinya.


Dia yang tanpa berucap apapun langsung turun dengan lihainya.


"Tarzan awas jatuh, saya gak mau ya ngerawat kamu kalau sampai terjatuh dan."


Hap.


"Berisik."


Karena Dia langung melompat bak tupai, dan tanpa ada yang terluka sedikit pun. Mendengar suaminya terus saja mengoceh akhirnya pisang yang tinggal satu buah itu di masukkan ke dalam mulut Adi, karena saking gregetnya.


Nyatanya tak sesuai ekspetasinya, dan jauh berbeda dengan keadaan yang sekarang saat dirinya mendapat gelar istri.


Adi yang terkenal dingin dan sombong, nyatanya saat mereka berkumpul bak mulut Mak-mak yang belum mendapat jatah bulanan, sungguh sifat yang membingungkan pikir Dia.


"Kamu itu perempuan, ngapa juga sih harus jadi tarzan bergelantungan di atas pohon, cewek tapi tingkah seperti cowok." Setelah menghabiskan pisang tadi, Adi pun memarahi Dia, karena terlalu bar-bar menurutnya.


"Udah deh Om duda, om suami, jangan brisik, baru saja turun di omelin lagi, naik lagi nih ya saya." Sungut Dia.


"Aduh kesayangan Om duda, istrinya Om suami, jangan naik lagi ya, udah cukup main tarzan-tarzan nya. Mending sekarang kamu masuk mandi terus ikut saya," dengan suara lembut dan sebisanya jangan sampai Dia marah lagi, pikir Adi.


"Kemana?" tanya Dia.


"Ngabisin duit Om suami, dong." Jawab Adi.


"Dadi menungso kok sombong eram." (Jadi manusia kok sombong banget)


"Kamu bilang apa barusan?" tanya balik Adi.


"Sedang memuji kekayaan Om suami."

__ADS_1


Lalu Dia dengan langkah yang malas akhirnya meninggalkan taman.


__ADS_2