Jodohku Di Tangan Duda Somplak

Jodohku Di Tangan Duda Somplak
BAB 46. Di begal


__ADS_3

"Berapa Pak?" tanya Dia, setelah pesannya selesai dan ingin membayar.


"60ribu, Mbak." Kata si penjual itu.


Lalu Dia memberikan uang pas dan segera beranjak dari tempat penjual lalapan tersebut.


"Kenapa gak minta anter saja, kamu kan perempuan. Gak baik jam segini keluar sendiri." Ternyata Riki masih mengikuti Dia.


"Emangnya kenapa kalau gue perempuan," masih dengan suara ketusnya, Dia menjawab ucapan Riki.


"Gimana kalau ada yang mau jahatin kamu, dan ada yang ingin merampok kamu?" ujar Riki.


"Kalau itu bisa, bakal gue kasih."


Saat ini pukul sembilan malam, entah mengapa malam ini tidak seperti malam-malam biasanya. Terlihat sepi dan agak mencekam, apalagi jalan yang di lewati Dia cukup gelap. Karena lampu jalanan sepertinya rusak.


Saat Dia dan Riki melewati jalanan sepi, terlihat ada empat orang dengan badan besar serta ada yang mempunyai codet di pipinya. Dan ada pula yang bertato rata. Seperti indomie beragam rasa.


"Berhenti kalian!" teriak salah satu dari ketiga orang yang berbadan dempal.


"Kenapa kalian menghalangi jalanku, menyebalkan." Sungut Dia.


"Serahkan semua itu pada kami," ujar pria bercodet.


"Kalau ini gue serahin, nanti gue makan apa bodoh." Dia berkata dengan santai, sedangkan Riki Sudah bercucuran keringat.


"Bocah, serahin atau kalian berakhir di sini," Dengan wajah yang di buat seseram mungkin pria bertato itu berkata.


"Enak aja." Ujar Dia yang tak punya rasa takut sama sekali.


"Hye, apa kita akan selamat." Riki menyikut lengan Dia, berharap ia akan selamat dari para begal tersebut.


"Serahkan, motor itu. Maka kalian selamat." Ancam pria bertato lagi.


"Kalau kalian pengen motor, kerja kali. Jangan bisanya cuma begal." Sergah Dia.


"Kau ini masih bocah, jangan mengajari kami yang lebih tua." Ucap pria yang berkepala botak.


Lalu pria bercodet itu mendekati Dia dan Riki.


"Kalian kalau masih bandel, ku cubit ya ginjal kalian." Ucap Dia yang sudah mulai tertantang.


"Banyak cingcong." Pria bercodet itu semakin marah.


"Pegang yang laki, biar yang ini bagian saya." Titah pria bercodet itu lagi.


Sekarang Riki sudah berada di genggaman preman tersebut.


"Lepasin gak temen gue," Dia mulai terbawa emosi.


"Boleh, asalkan kita akan bermain-main sebentar." Ujar Muka bercodet itu, dan tangannya memegang dagu milik Dia, dan itu membuatnya bertambah marah.


"Bedebah."


Bugh.

__ADS_1


"Kau berani sekali bocah!" Pria bercodet itu mendapat bogeman dari Dia. Hingga membuat Pria itu sedikit meringis kesakitan.


"Jangan ada yang mendekat, kalau berani satu lawan satu jangan seperti anak kecil bisanya main keroyokan." Sergah Dia, pada semua preman.


Akhirnya ke dua preman itu diam.


Aaaaaa...


"Apa kau masih ingin bermain-main dengan bocah sepertiku."


Pria bercodet yang hendak akan menampar Dia, tapi Dia berhasil mencekal tangannya lalu Dia berbutar untuk mengunci kedua tangan pria bercodet itu dari belakang.


Hyaaa.


Bruk.


Untung matanya bisa di ajak kerjasama, sehingga ia tak lengah jika pria bertato itu akan menyerangnya, namun Dia bisa melumpuhkan kan pria tersebut dengan cara menendang di bagian perut.


"Bocah lepaskan gue," Pria yang ada di tangannya sekarang agar melepaskannya.


"Enak aja, nih rasain."


Kraak.


Aaaaaa..


"Dasar bocah bedebah." Maki Pria bercodet itu, karena tangannya di patahkan oleh Dia.


"Ayo, siapa lagi yang mau main-main sama gue." Dia menantang ketiga preman tersebut, untuk segera maju menghadapinya.


Lalu pria berkepala botak itu mengeluarkan belati, untuk menyerang Dia.


"Rasakan ini." Pria botak.sudah siap dengan belatinya untuk menghunuskan pada bagian tubuh Dia.


Hiyaaa..


Bugh.


Pakh.


Bugh.


"Ampun bocah, ampun."


"Kapok gak kowe."


(Kapok gak kamu)


Dia sudah melumpuhkan ke empat preman tersebut, dengan keahlian seni bela diri yang ia miliki. Karena sewaku SMP dulu, ia mengikuti persatuan pencak silat di desanya.


"Nyengreh ra kowe kabeh."


(Pergi gak kalian)


Dia memberi peringatan lagi agar mereka meninggalkan jalanan tersebut.

__ADS_1


Alhasil ke empat pria dengan wajah yang menyeramkan itu terbirit-burit.


Huff.. Dia menghela nafas dalam-dalam karena merasa badannya remuk semua, menghadapi empat preman sekaligus.


"Kamu gak papa kan, apa ada yang terluka?" Riki setelah kepergian preman-preman tersebut, mendekati Dia dan sok perhatian.


"Apa elu buta, gak bisa ngelihat. Dasar bodoh." Maki nya pada Riki, yang terlalu geram kepadanya.


Bukannya membantu untuk menghabisi para preman yang ada Riki malah sembunyi di balik pohon.


"Ma..?


" Jangan bacot, gue mau angkat telepon." Belum sempat Riki meminta maaf, tapi dering gawai terus saja berbunyi.


Drtt.


Drttt..


"Om, duda." Gumam Dia.


["Iya halo, Om,"]


["Kamu kemana sih, gak nyasar kan, sekarang lihat jam yang ada di gawai kamu"]


Sesaat, Dia tertegun saat melihat gawai yang ada di genggamannya sudah menunjukkan di angka sebelas malam.


["Habis di begal, Om,"]


["Apa ada yang terluka? Terus gimana keadaanmu, sekarang kamu di jalan mana?"] cerocos Adi, saat mendengar Dia baru saja di begal. Membuat Adi sangat kuatir.


["Ya sudah telepon Om suami matikan ya, kamu diam di situ dulu."] Ujar Adi lagi.


Sedangkan Riki yang merasa bersalah karena sama sekali tidak membantu Dia, merasa tak enak hati.


"Sebaiknya elu pulang, eneg gue lihat muka elu," ucapan Dia membuat Riki sakit hati, namun dirinya sadar. Jika Dia, tak bisa berkelahi seperti dirinya, bisa di pastikan semua tidak akan menjadi baik-baik saja seperti saat ini.


"Tapi kamu bagaimana?" berbicara setenang mungkin walau ada rasa canggung.


"Apa elu takut gue bakal di culik, yang ada elu yang harus hati-hati supaya enggak ketemu sama preman-preman tadi.


Dengan langkah yang gontai, serta wajah yang menunduk, Riki meninggalkan Dia seorang diri dan menuju ke arah motornya. Dalam hatinya ia merutuki kebodohannya karena merasa dirinya telah menjadi lelaki pengecut, yang tak bisa melindungi perempuan. Yang ada dirinya malah meminta perlindungan di belakang punggungnya perempuan tersebut.


Beberapa menit kemudian, Adi sudah sampai di lokasi, dengan tidak sadar ia buru-buru keluar dari mobilnya dan menghampiri istri kecilnya itu.


Uhuk.


Uhuk.


" Apa kamu sengaja ingin membunuh saya, Om,"


"Maaf, habisnya saya kuatir. Dari jam sepuluh saya cari kamu enggak ketemu-ketemu. Lagian kenapa kamu lewat sini sih, di sini rawan begal kalau malam." Adi menjelaskan.


Sedangkan Riki yang melihat pemandangan tersebut, membuatnya sedikit sesak.


De, sebenarnya dia siapa? Mengapa sangat dekat dengan kamu. Apa lelaki dewasa itu Kakak kamu, sepertinya memang aku gak boleh berburuk sangka dulu.

__ADS_1


"Tapi mengapa melihatmu bersama lelaki lain, membuat ku benci dan tidak suka dengan pria itu," gumam Riki.


Tanpa menunggu lama, Riki menyalakan motornya dan pergi bersama rasa bersalahnya.


__ADS_2