
Acara rujak merujak telah usai, dan mereka berempat ada di ruang keluarga saat ini.
Adi dan Dia belum tahu tentang kedatangan para orang tua nya untuk apa? Dan akan membahas apa.
"Gak ada hujan gak ada angin, tumben kalian kemari?" Adi bertanya pada Emak, dan Ibu nya , perihal kedatangannya kesini.
"Kami hanya ingin memastikan keadaan kalian berdua."
"Benarkan Mak besan." Bu Rosma yang memberi isyarat pada Mak Mak Ita, dengan cara menyikutnya.
"Ah, iya benar." Ujar Mak Ita.
"Memangnya kami kenapa? Bukan kah kalian bisa melihat jika kami berdua sedang baik-baik saja." Adi berkata dengan wajah yang serius.
Mak, Ita dan Bu Rosma terlihat gelagapan. Saat Adi mengungkapkan jika dirinya dan sang istri sedang baik-baik saja.
"Masa iya, kita mau nengok kalian harus ada acara sakit atau apalah itu. Dan sepertinya tidak mungkin kan." Mak Ita menyahuti ucapan Adi.
Kalau di pikir, iya juga ya. Batin Adi.
"Mantu," panggil Bu Bu Rosma pada Dia.
"Kenapa Bu," timpal Dia.
"Apa kau tak punya makanan untuk kami makan, lihat lah mejanya kosong," ujar Bu Rosma pada Dia, dan netra nya melirik ke arah meja, yang ada hanya pot bunga.
Dia sedikit malu, karena saking seriusnya, hingga lupa tidak memberi apa pun pada Emaknya dan mertuanya.
"Maaf Mak, Bu, De lupa. Ya sudah tunggu sebentar ya." ucap Dia, sembari berjalan menuju ke dapur.
Bu Rosma menyenggol kaki Mak Ita, seakan-akan itu adalah kode untuknya.
Mengerti isyarat yang di berikan oleh Bu Rosma, Mak Ita pun berdiri dan akan menyusul Dia di dapur.
"Bu besan, saya tinggal ke kamar mandi sebentar ya," ucap Mak ita pada mereka.
"Baik lah Mak." jawab Bu Rosma.
"Iya Mak." jawaban dari Adi.
Dengan segera Mak Ita bangkit dari duduknya, lalu berjalan ke dapur.
Dan sekarang hanya ada Ibu dan anak di ruang keluarga, dan juga Bu Rosma sudah siap untuk menyidang sang anak.
"Di," panggil Ibunya.
"Kenapa Bu?" tanya nya pada Ibunya.
"Tapi kamu janji tidak akan marah, dan akan berkata jujur sama Ibu," ujar Bu Rosma, yang mewanti!
Adi mengernyitkan keningnya, tapi tidak ingin bertanya soal apa? apa di sengaja antara anak dan Ibu itu pergi, maka orang tuanya akan lebih leluasa untuk bertanya?.
"Di, jawab jujur, apa kah kamu belum buka segel?"
__ADS_1
Uhuk..
Uhuk..
Pertanyaan Ibunya sontak membuat Adi tersedak slavia nya sendiri.
"Mengapa Ibu harus bertanya tentang itu, bukan kah sepasang suami istri itu seharusnya memang sudah melakukan ibadah."
Bu Rosma bisa menangkap gelagat anaknya jika sedang berbohong.
Merasa Di tatap membuat Adi tidak nyaman. Dalam benaknya mengapa harus ada percakapan macam ini, benar-benar menjengkelkan.
"Di," panggil Bu Rosma lagi.
"Sudah lha Bu, kenapa harus membahas hal semacam ini sih." Sungut Adi yang merasa kesal karena sang Ibu terlalu ikut dalam masalah privasinya.
"Jangan bilang kalau belum,"
"Kenapa Ibu bisa tau, ups. Keceplosan."
Adi langsung membekap mulutnya dengan kedua tangannya. Karena bisa kebablas dalam berucap.
Aduh Adi, kenapa kamu bisa bodoh begini sih. Bisa-bisa nya keceplosan, kan malu. Dalam hati Adi mengumpat dirinya sendiri karena merasa bodoh, karena sudah berkata jujur, jika dirinya belum membuka segel.
"Kenapa?" Sang Ibu bertanya tentang dirinya mengapa sampai bisa belum buka segel.
"Anu Bu, itu. Duh gimana cara ngejelasinnya ya," ujar Adi. Dengan menggaruk kasar rambutnya.
Adi menunduk bahwa apa yang di katakan sang Ibu memang nyata ada nya.
Tak lama kemudian, Dia sudah membawa nampan berisikan teh dan beberapa cemilan untuk suguhan.
Dan percakapan berhenti, karena kedatangan Dia, yang tak lama kemudian di susul dengan Mak Ita.
"Bu, silahkan teh nya," Dia meletakkan teh di hadapan mertuanya lalu menyuruh beliau untuk meminum.
"Makasih De." Ucap sang mertua, Bu Rosma.
"Ibu dan Emak, apa kalian akan menginap?" tanya Adi, dengan begitu keadaan tidak akan berubah menjadi canggung.
"Sepertinya ia, soalnya Pak Asrul Ibu suruh pulang, buat jaga rumah." Jawab Bu Rosma.
"Kalau begitu baik lah, De akan mencari tambahan lauk, untuk kita makan malam,"
"Kenapa gak lewat go food De, ketimbang harus keluar," Bu Rosma memberi usul pada Dia, mengapa tidak memakai jasa kurir saja, ketimbang harus susah-susah membeli sendiri.
Duh, mertua idaman banget deh ah.
Thor kalau ada bungkus satu buat aku di rumah.
Udah habis thor di borong sama si Dia.
Yaaaa.....
__ADS_1
"Gak papa Bu, mumpung masih jam segini. Soalnya ada yang mau De beli juga di minimarket jad sekalian." Jawab Dia dengan di iringi seulas senyuman.
"Om, suami pergi dulu ya," pamitnya pada Adi.
"Siap, jangan lupa beli yang enak." Ujar Adi.
Lalau Dia mengacungkan jempolnya.
"Mak, ke dapur yuk," ajak Bu Rosma pada sang besan, setelah kepergian Dia. Lalu Mak Ita pun mengangguk, dan jadilah mereka berdua melangkahkan kakinya ke arah dapur.
Sedangkan Adi masih di bayangi oleh pertanyaan Ibunya, mengapa dirinya belum membuka segel.
Jangan-jangan kamu tidak 'normal' makanya belum melakukan itu pada Dia.. Seperti itulah ucapannya pada Adi, sedang kan Adi setiap malam menahan gejolak di dalam dirinya karena sering kali badannya bersentuhan dengan sang istri.
Dan Ibunya tidak tahu, betapa tersiksanya dirinya karena menahan hasratnya.
Huff.
...----------------...
Jika Adi pikirannya sedang kalut, lain halnya dengan Dia, yang berada di luar sedang membeli makanan.
"Wah, sepertinya kita jodoh." Suara seorang pria, entah dari mana asalnya hingga Dia celingukan mencari sumber suara tersebut.
"Apa kamu tak melihatku, padahal aku selalu ingin melihatmu." Seseorang bersuara lagi.
"Hye jin, kamu sedang berbicara dengan siapa?" tanya Dia, dengan muka yang sedang mencari-cari sesuatu.
"Sama ratu jin," timpal pria itu.
"Memangnya siapa yang ratu jin,"
"Kamu." ujar Pria itu lagi.
"Sayangnya gue enggak merasa." Suara ketus Dia, membuat pria tersebut semakin senang menggodanya.
"Bisa gak elu kagak ngikutin gue." Dia yang kesal masih saja di buat kesal lagi oleh pria yang mengikutinya.
"Dasar preman."
Aaaaaaaa..
"Sukurin."
Dia yang merasa benar-benar kesal akhirnya menginjak kaki laki-laki yang sedari tadi mengikutinya.
Selesai membeli sate, kini Dia masuk ke penjual lalapan, untuk membeli lalapan bebek.
"Pak lalapan bebek empat porsi ya," pinta Dia pada Bapak penjualnya.
"Iya neng." Jawab penjual itu.
Dia duduk di atas ucup, sembari menunggu pesannya selesai.
__ADS_1