Jodohku Di Tangan Duda Somplak

Jodohku Di Tangan Duda Somplak
90. CINTA MENGALAHKAN SEGALANYA


__ADS_3

DI CAFE, PUKUL TUJUH MALAM.


"Ini mana sih si Dia, kok sampai jam segini belum datang juga ya." Indah terus saja menggerutu karena yang di tunggu-tunggu tak kunjung datang.


Saat Indah mondar-mandir karena seseorang yang di tunggunya belum kelihatan batang hidungnya, hingga ia menabrak lelaki yang sedang berjalan di depannya.


"Eh, maaf." Indah pun meminta maaf karena telah menabrak pria tersebut.


"Kenapa kamu seperti setrika saja sih, akhirnya nabrak kan!" seru lelaki yang belum saling bertatapan dengan perempuan yang berada di hadapannya, karena Indah masih tertunduk merasa bersalah dengan menabrak pria tersebut.


"Maaf." Hanya itu yang di katakan oleh Indah.


Setalah Indah mengangkat kepalanya, betapa terkejutnya ia saat matanya memandangi lelaki yang pernah mengisi hari-harinya.


"Kamu!" Indah sangat terkejut dengan kehadiran sosok lelaki yang sangat di kenalnya.


"I-indah."


Mereka berdua sama-sama terkejut karena lebih dari dua minggu tidak bertemu, dan sekarang malah bertemu di sebuah tempat. Di mana mereka berjanjian bertemu dengan para sahabat masing-masing.


"Kenapa elu ada di sin?" tanya Indah pada sosok yang pernah dekat dengannya, yang tak lain adalah Haikal.


"Kamu sendiri di sini sedang menunggu siapa?" Haikal bukan menjawab malah berganti bertanya.


"Gue di sini lagi nungguin Dia," ujar Indah pada Haikal.


"Sama, saya juga lagi nungguin Adi. Katanya ada pekerjaan yang akan di bahas, namun sampai sekarang belum juga datang." Haikal berkata sembari melihat jam yang bertengger di lengannya.


"Iya, katanya Dia tadi paling lambat setengah delapan, tetapi sampai sekarang belum juga datang." Indah menimpali ucapan Haikal.


Sedetik Haikal termenung memikirkan sesuatu, apa ini rencana pasutri itu? dan mereka juga berniat merencanakan semua ini, agar dirinya dan Indah bisa bertemu. Jadi mereka sengaja mengatur waktu untuk pertemuan saat ini.


"Apa mereka sengaja membohongi kita, dan semua itu di lakukan supaya kita bertemu." Haikal menerka kalau apa yang di lakukan bos beserta istrinya itu, adalah murni di sengaja.


Indah berpikir sejenak untuk memastikan kalau apa yang di katakan oleh Haikal itu benar.


Apa soal gue curhat kemarin ya? makanya Dia sengaja membuat rencana seperti ini, batin Indah bertanya-tanya.


Haikal yang melihat Indah bak setrika, membuatnya pusing saat melihatnya.

__ADS_1


"Apa kamu tidak bisa duduk," ujar Haikal yang mulai merasa pusing dengan Indah.


"Jika pusing jangan di lihat." Suara ketus Indah, membuat Haikal berdecak.


Ck ... Ck.


Setelah itu hanya ada keheningan di antara mereka berdua, tidak ada obrolan atau seputar bertanya kabar bagi masing-masing.


Jika Indah bermain gawai, sedangkan Haikal melirik jam karena nampaknya bos sekaligus temannya tidak akan datang.


Apa mereka benar-benar mengerjai kita," ujar Indah dengan tiba-tiba membuka obrolan karena sangat terlihat sunyi, tanpa ada sebuah percakapan.


"Sepertinya." Jawab Haikal singkat.


"Apa kamu haus hingga menghabiskan dua gelas jus," ucap Haikal yang tak menyangka karena Indah, memesan lagi minuman setelah dua gelas tandas.


"Huh, masa sih gue mau habis tiga gelas." Indah menimpali dengan suara terkejutnya, itu karena ia juga tidak sadar jika sudah dua gelas bekas jus yang ia minum, dan sekarang ia memesan lagi.


"Apa kamu tidak sadar, bahwa sudah terdapat dua gelas bekas jus kamu," ujar Haikal sembari matanya melirik ke arah gelas kosong.


"Eh, iya baru sadar." Dengan tampang bodoh Indah berujar.


Malam kian larut, ternyata orang yang di tunggu tak nampak batang hidungnya. Akhirnya Indah dan Haikal memutuskan untuk keluar dari cafe.


"Ndah, kita keluar dari sini. Takut kalau tempat ini akan tutup sebentar lagi," ujar Haikal mengajak Indah untuk pergi.


Indah tidak protes dan langsung berdiri mengikuti Haikal.


Sesampainya di luar Haikal terlihat gugup.


"Em, Ndah. Ada yang mau saya omongin bisa kita bicara," ucap Haikal dengan mata menatap Indah dengan penuh harap.


"Baik lah, tapi itu hanya sebentar dan tidak akan lama." Jawab Indah mau, namun ia hanya memberi waktu tidak banyak pada Haikal.


Haikal mengangguk tanda setuju.


Mereka sudah berada di parkiran, dan Haikal membukakan pintu mobil untuk Indah.


Di dalam mobil keadaan hening, entah mereka sedang memikirkan apa? yang jelas sama-sama membisu. Sejurus mata memandang jalanan yang masih cukup ramai, Indah menghadap ke arah luar jendela menikmati pemandangan di luar. Sedangkan Haikal sesekali melirik ke arah Indah. Pikirannya kalut, jantungnya berdetak tak karuan takut, takut kalau Indah akan menolaknya lagi.

__ADS_1


30 menit kemudian mereka berdua sudah berada di pinggir danau. Gemerlap lampu yang menyinari menambah keindahan di sekitar mereka. Beraneka bunga kian menambah kecantikan danau yang mereka singgahi saat ini.


"Kamu suka?" tanya Haikal pada Indah, sedangkan Indah masih menghirup udara malam dan melepaskan dengan helaan nafas.


"Gue sangat suka tempat ini." Jawab Indah dengan mata menatap danau yang berada di hadapannya.


"Ndah, saya bukan lelaki romantis namun mencoba memberikan yang terbaik untuk kamu." Haikal berucap sembari memegang kedua tangan Indah.


"Rupanya elu belum menyerah juga," ucap Indah dengan memicingkan sebelah alisnya.


"Karena saya memang benar-benar serius untuk menjadikan kamu ratu di hati saya," ucap Haikal berterus terang.


"Gue sudah pernah bilang kan sama elu, kalau gue gak akan cocok sama lelaki seperti elu." Indah masih menolak walau dalam hati kecilnya berkata ia, terlalu sulit untuknya yang harus menerima semuanya.


"Saya tidak peduli! mau kamu menolak pun saya akan terus berjuang demi mendapatkan cinta kamu," seru Haikal dengan wajah seriusnya ia berkata.


"Gue gak pantes...."


"Maka saya akan memantaskan." Belum sempat Indah berkata, namun sudah terpotong oleh ucapan Haikal. Hingga Indah diam dan tertunduk.


"Bukan kah sahabatmu juga berasal dari keluarga sederhana? nyatanya Ibu bos saya bisa menerima kehadiran sosok teman kamu. Apa kasta itu sangat penting di pikiran kamu, hingga kamu juga mengorbankan perasaan yang kamu tahan untuk saat ini." Imbuh Haikal lagi.


Seketika Indah mendongakkan kepalanya agar sejajar dengan Haikal.


Kenapa Haikal bisa tahu kalau sebenarnya kalau gue juga suka, dalam hati Indah terus bertanya-tanya. Mengapa seseorang yang berada di depannya tau tentang isi hatinya.


"Jika diam maka itu artinya, iya." Ulang Haikal lagi yang membenarkan akan diamnya Indah.


"Aku...."


"Aku apa!" sela Haikal.


"Gue ingin pulang," ucap Indah dengan suara bimbang.


"Bukan itu yang akan kamu katakan, Ndah." Haikal mendesak Indah hanya sebuah jawaban.


"Kenapa elu maksa banget sih," tukas Indah dengan kesal.


Tanpa banyak Bicara Haikal langsung menarik tubuh Indah dan.

__ADS_1


__ADS_2