Jodohku Di Tangan Duda Somplak

Jodohku Di Tangan Duda Somplak
BAB 32. Singkong


__ADS_3

Mencintai tanpa mengenal, akan membutuhkan waktu lama. Sehari, sebulan, setahun bahkan sampai bertahun-tahun. Namun satu hal yang kamu harus ingat bahwa tidak ada kata perpisahan untuk kita.


(R)


Tiada hari tanpa perdebatan, dan itu sudah menjadi bumbu bagi mereka, tak ada pertengkaran serasa masak kurang sedap tanpa adanya penyedap rasa.


Seperti pagi ini.


"Om, buruan!"


Dor...dor..


Dia terus saja menggedor pintu kamar mandi, dan teriakannya tak di hiraukan sama sekali oleh Adi, karena dirinya ingin menikmati gosok menggosok kulitnya kuning langsat tersebut.


Di dalam kamar mandi.


Ck..ck..


"Dasar cewek bar-bar, gak ngenakin orang yang lagi gosok-gosok apa." gerutu Adi di dalam kamar mandi, dan sengaja tak mendengarkan suara cempreng yang berasal dari luar.


"Gak tau orang udah kagak tahan apa! Emang lagi gosokin apa sih pakai lama banget." Gumam Dia, yang bersandar di daun pintu.


Dengan sesekali memejamkan mata, Dia tetap setia menunggu pintu itu terbuka dan Adi keluar dari dalamnya.


Dan Adi yang kini sudah selesai lantas melilitkan handuk di perut yang di penuhi oleh cetakan tahu. membentuk mirip roti sobek dan terlihat gagah dengan sedikit bulu-bulu halus yang berada di dadanya.


BRUK...


Slep.


Dengan sigap Adi menangkap tubuh ramping Dia.


"Dasar bodoh!" Akhirnya kata umpatan keluar, dari bibir Adi.


"Yang bodoh itu Om, ngapa juga gak bilang-bilang kalau mau keluar, kan. Hampir saja saya terjatuh." Dia yang tak terima ganti mengatai Adi.


Untuk sesaat, setelah saling mengatai. Wajah mereka saling beradu pandang, dan sama-sama memuji di dalam hati masing-masing.


Tampan, tapi menyebalkan, andai Om duda orang yang ku cintai pasti gue bakal bahagia banget. Puji Dia di dalam hatinya.


Imut, dan tentunya cantik, saya akan mengejar cintamu bocah tengil. Batin Adi juga.


Masih asik menikmati pemandangan yang di ciptakan oleh tuhan, dan tanpa sadar Dia memegang sesuatu yang membuatnya geli, seperti belahan namun kenyal. Dan saat dirinya benar-benar fokus dengan apa yang di pegang nya. Lalu Dia bertanya pada sang pemilik, Adi.

__ADS_1


Tapi, sebelum Dia bertanya namun sudah terlebih dulu Adi berkata pada Dia, yang membuatnya langsung syok dan pastinya bergidik ngeri.


"Sayang kenapa harus tempat itu yang kamu raba sih," ucap Adi pada Dia.


"Memangnya ini apa ya Om, kok seperti ada belahannya." Dengan polos Dia berkata pada Adi.


"Apa kah kamu mau tau sayang, apa yang kamu pegang, dan kamu raba sekarang." Seru Adi.


"Kalau tau saya gak bakal bertanya." Dia yang kesal langsung mendelik kan matanya.


Lalu Adi membisikkan sesuatu di kuping Dia, dan.


Huaaaaaaa.......


Hahahaha. Adi tertawa puas karena berhasil mengerjai Dia.


Dan lagi.


Aaaaaaaaaa..


"Tutup singkong mu itu Om." Dia berteriak sekeras-kerasnya dengan menutup matanya, dan Adi pun juga baru sadar ternyata handuk yang melilit tadi kini telah terjatuh di bawa, dan terpampang jelas singkong yang berwarna coklat itu kini sudah tegak.


Lalu dengan cepat, Adi membelakangi Dia, dan segera menutup kebun yang tertanam singkong tersebut, dan lagi-lagi Dia berteriak.


Aaaaaaaaa.


"Untung rumah ini besar, dan itu membuat teriakan mu tak sampai di dengar oleh tetangga." Adi berujar dan setelah itu melepaskan tangannya yang besar menutupi mulut Dia.


"Macan mu garang Om, mau menerkam." Dia berucap sambil mengusap bibirnya.


Hahahaha...


Adi tertawa terpingkal-pingkal, nyatanya yang di maksud Dia adalah tatto kepala macan, dengan mulut yang lebar tepat di punggung Adi. Dan rencananya dia akan menghapus tatto tersebut.


Dia yang otak nya sudah berkeliaran buru-buru masuk kamar untuk buang air kecil, yang sedari di tahannya.


Kenapa otak gue omes gini, apa gara-gara tadi habis pegangan bokong Om duda yang nyebelin itu. Agh, sial bener-bener sial. Dia tak henti-hentinya merutuki kelakuannya saat tadi dirinya hampir terjatuh.


Sedang kan Adi, Adi yang kini di buat pusing gara-gara kelakuan Dia, membuatnya memijat pelipisnya karena ulahnya, kini dirinya merasakan sesuatu yang tak bisa tersalurkan. Jadi mari kita bersolo ria.


"Oh, sial, benar-benar sial. Dasar bocah tengil, terus kalau begini siapa yang mau tanggung jawab." Adi tak henti-hentinya mengumpat karena ulah dari gadis itu yang meraba-raba area sensitifnya.


DI CAFE.

__ADS_1


"De, gue lihat dalam beberapa hari ini elu kok sering boncengan sama si bos sih?" tanya Indah penasaran, karena hampir tiap hari Indah melihat temannya di antar jemput oleh bosnya.


"Gue mau jujur," Dia sedikit ragu, namun sebisanya ia menghilangkan keraguan tersebut.


"Emang elu ada rahasia apa yang elu sembunyiin dari gue De," ucap Indah.


"Gue..."Sejenak Dia berhenti untuk mengatur nafasnya.


" Gue udah nikah sama bos,"


"Hah! Elu serius."


Ssssttt..


"Jangan kenceng-kenceng dodol."


"Ups.. Sorry, elu serius kan dan elu lagi gak ngayal." Indah masih tak bisa percaya dengan apa yang di katakan oleh Dia.


"Emang keliatan gue sedang berkhayal dodol." Dia kesal terhadap Indah karena di kira dirinya sedang berhalu, sewaktu menjelaskan kalau dirinya sudah menikah.


Sedang Indah mencari kebohongan dengan menelisik wajah Dia dengan teliti, namun dirinya tak menemukan bau kebohongan di wajah Dia.


"Jadi."


Dia mengangguk.


"Selamat ya, elu uda jadi bini orang." Indah memberi selamat pada Dia.


"Makasih Ndah."


"Em, kalau gitu elu uda tau rasanya singkong pak duda dong."


PELETAK...


"Sakit Ogeb." Indah mengelus keningnya karena sehabis mendapat sentilan dari Dia.


"Gue kan cuma nanya, emang salah ya."


Boro-boro ngerasain orang pemanasan saja belom, ini malah di tanya uda tau rasa apa belum? Entar kalau gue jujur bisa abis nyawa gue. Dia sedang memikirkan alasan apa yang akan di berikan olehnya dengan pertanyaan yang Indah lontarkan.


"De, di tanya kok diem si elu. Apa jangan-jangan belum ngerasain singkong nya Pak Adi ya makanya elu diam." Indah terus saja bertanya yang menurutnya tidak lah penting. Namun dirinya tak ingin juga di buat bahan ledekan oleh temannya lantaran iya belum melakukan prosesi malam pertama.


"Diam karena membayangkan dodol, betapa nikmat itu singkong, sampai-sampai gak bisa tidur saking enaknya."

__ADS_1


"Makanya nikah biar tahu rasanya singkong berbalut keju."


"Hem.. Yami..Lezat." Dia bersemangat untuk menggoda Indah, siapa suruh kepo dan pengen tahu saja pikir Dia, dengan senyuman yang menyingrai Indah langsung menelan ludah dengan susah payah, dan sepertinya ia sudah terbuai oleh ucapan Dia yang penuh dusta.


__ADS_2