
Seminggu gak dapat jatah!" seru Dia karena ia sangat kesal pada suaminya, yang telah membongkar keburukannya pada Cahaya.
Sedangkan Adi menelan ludah dengan kasar, karena lagi-lagi mendapat hukuman dari Dia.
"Sayang kamu tega," ucap Adi memelas.
"Siapa suruh kamu ngebongkar masa laluku." Jawab Dia dengan wajah kesal.
"Kamu sih, Ay. Marah kan mama kamu," tukas Adi pada sang putri.
"Kok Ayah jadi nyalahin aku sih," ucap Cahaya tidak terima.
"Ya kamu ngapain juga naik ke atas gunung, eh ralat ulang maksudnya pohon."
Adi dan Cahaya berdebat dan saling menyalahkan, hingga membuat Dia jengah dan memilih pergi.
Sesaat Adi menyadari kalau sudah tidak melihat istrinya.
"Aya! mama kamu ke mana?" tanya Adi pada sang putri.
"Mana aku tahu, Yah! orang tadi masih di sini." Jawab Cahaya.
Tanpa berpamitan pada sang putri, Adi keluar untuk melihat sesuatu di luar. Sesampainya di garasi benar saja, Adi tidak melihat si ucup.
"Kan, berangkat." Adi menggerutu karena pada akhirnya ia berangkat sendiri lagi.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Pukul delapan pagi. Dia sudah sampai di restoran, lalu dirinya memarkirkan kendaraan di sebelah sisi kiri.
Dengan mengenakan celana jins dan jaket, serta rambut yang di gerai. Semakin menambah pesona yang di pancarkan.
Terlihat semua karyawan sudah berada di tempat, dan satu persatu pegawai menyapanya.
"Pagi Bu, sapa salah satu karyawan
" Pagi juga." Dia menjawab.
"Selamat pagi, Bu Dia."
Dia tidak menimpali malah berlalu pergi keruangan pribadinya.
"Tetep aja elu songo nggak,"
Tak.
__ADS_1
"Auh, sakit bodoh." Wanita ya gang tidak lain adalah Indah.
"Rasain, pusing gue lihat anak sama suami gue." Dia berkata sembari meletakkan bokongnya di kursi.
"Heboh lagi?" tanya Indah.
"Bukan itu doang, bisa-bisanya bapaknya Aya bilang kalau gue juga lebih parah dari anak gue. Sebel gue jadinya," ujar Dia yang kini berada di ruangannya dengan Indah.
Yah, Indah memilih kembali bekerja dengan Dia, karena di rumah anaknya sudah besar dan kini sudah duduk di bangku kelas enam SD.
Untuk menambah kesibukan Indah akhirnya kembali ke restoran karena sang suami tetap setia dangan Adi.
"Lha emang kenyataannya begitu kan." Jawab Indah enteng, seakan membenarkan apa yang di katakan oleh anaknya serta suaminya.
"Kok elu nyebelin banget sih," sungut Dia dengan wajah cemberut.
"Udah, elu jangan kek anak ABG. Kita dah tua," ucap Indah tersenyum.
"Eh elu kebangetan ya! gue di bilang tua. Gue masih mudah masih cantik lagian umur juga baru 31," Dia tidak terima kalau di bilang tua karena memang dirinya masih muda.
"Terserah elu dah." Indah pasrah dengan sikap Dia, yang belum 100% berubah.
"Oh, iya jadi kita lihat ruko yang ada di jalan xxxx?" tanya Indah yang hampir lupa untuk melihat ruko yang akan ditempatinya dan akan, di buat usaha toko roti.
"Astaga, iya gue baru inget." Jawab Dia sembari menepuk jidatnya.
Dia mengangguk tanda setuju dan akhirnya mereka pergi dari restoran untuk melihat ruko, yang ia beli beberapa waktu lalu. Dengan mengendarai motor kesayangannya Indah dan Dia pergi meninggalkan restoran. Namun sebelum itu dirinya sudah berpamitan pada karyawan kepercayaannya sewaktu tadi.
Sekitar setengah jam, mereka sudah sampai di tempat di mana Dia akan mulai membuka usaha kecil-kecilan.
Setelah mereka berdua turun ternyata ada sosok lelaki yang bersandar di mobil berwarna hitam.
"Ndah, coba elu samperin itu orang." Dia menyuruh Indah untuk menghampiri lelaki yang berada di mobil tersebut.
Indah hanya mengangguk tetapi langkahnya berjalan ke arah lelaki itu.
"Eum, permisi Pak. Apa Bapak yang mempunyai ruko ini?" tanya Indah pada lelaki yang mengenakan kacamata hitam itu.
"Iya, apa anda yang ingin membelinya." Suara tegas dari sosok lelaki itu mampu membuat Dia teringat akan sosok yang pernah di kenalnya.
Gue harap suara itu. Bukan sosok yang pernah gue kenal, batin Dia bertanya-tanya
Sesaat lelaki itu menoleh ke arah di mana Dia berada dan begitu sangat mengejutkan bagi keduanya.
Yah, sosok itu adalah Riki. Setelah 14 tahun tidak bertemu kini mereka tiba-tiba di pertemukan dengan acara jual beli.
__ADS_1
Keduanya menjadi canggung, dan Riki tidak bisa memalingkan tatapannya saat melihat cinta dalam diamnya bertambah cantik.
"Apa kabar," ucap Riki sedikit canggung.
"Ba–baik." Jawab Dia yang juga merasakan hal yang sama.
Ketiganya diam dan suana menjadi hening.
"Oh, iya Pak. Ini ruko mau di jual berapa jadinya?" Indah sengaja mencairkan agar suana tidak seperti rumah hantu yang begitu menegangkan.
"Lima puluh juta." Hanya itu jawaban yang di berikan oleh Riki. Padahal ruko yang di tafsir sekitar ratusan di lepas dengan harga segitu.
"Apa Bapak yakin?" untuk kedua kalinya Indah bertanya.
"Iya." Lagi-lagi jawaban singkat yang di berikan.
"Mbak, bisa saya bicara dengan teman, Mbak." Riki memalingkan wajahnya ke arah Indah, berharap Indah tau apa yang di mau oleh Riki.
"Silahkan." Jawab Indah, lalu Indah menjauh untuk memberikan ruang bagi keduanya dan nampaknya, di antara Dia dan sosok yang belum ia kenal sepertinya mempunyai masa lalu yang belum selesai.
"Cukup lama kita tidak bertemu, pasti anak kamu sudah banyak dan istri kamu juga pasti cantik." Dia berkata panjang lebar, sedangkan Riki diam mematung dengan tatapan yang tak bisa di artikan.
"Aku belum menikah. Sepertinya aku masih sulit untuk melupakan cinta pertamaku," ujar Riki berbicara degan nada sendu.
Dia masih diam, entah apa yang sedang dipikirkan olehnya. Akan tetapi, semua terasa sesak hingga ia berusaha agar bisa bernafas dengan normal.
"Kenapa tidak menikah, kamu mau menjadi perjaka tua?" tanya Dia dengan mengerutkan satu alisnya.
"Jika ia memangnya kenapa? bukannya menjadi pria dewasa itu sangat menarik perempuan bukan."
Degh.
Hati Dia sedikit tersinggung dengan kalimat yang baru saja di lontarkan oleh Riki.
"Jika sudah tidak ada yang di bicarakan, mari kita melanjutkan jual beli ini agar segera selesai." Dia tidak mau memperdalam percakapan jika itu hanya membuat hati terluka.
Sampai kapan pun aku akan menunggumu, De. Aku mencoba pergi kehidupan kamu nyatanya semua Itu tidak bisa melupakan apa yang pernah kita alami, Riki membatin dan dalam hatinya jika sampai saat ini dirinya belum bisa melupakan sosok Dia.
"Em, baiklah."
Lantas Dia memanggil Indah yang berada di sebelah motor yang diparkir oleh Dia.
"Ndah," panggil Dia dan Indah pun menghampiri Dia yang memanggilnya.
"Sudah?"
__ADS_1
"Iya." Hanya itu yang keluar dari bibir Dia saat Indah bertanya.