
Setelah Haikal berhasil menarik tubuh Indah, dengan perlahan Haikal langsung mengecup bibir tipis itu dengan penuh kelembutan.
Sedangkan Indah merasakan seluruh tubuhnya menjadi tak berdaya saat bibir mereka saling bersentuhan.
Kenapa dengan dada gue, apa ini yang di namakan cinta saat bersentuhan makan akan merasakan getaran hebat. Rasnya jantung gue mau copot, batin Indah dalam hatinya.
Sedangkan Haikal makin memperdalam ciumannya hingga membuat Indah larut dalam permainan yang di ciptakan oleh Haikal.
Tidak lama kemudian Haikal melepaskan bibir itu, memberikan sedikit oksigen untuk bernafas sejenak.
Setelah itu.
"Maaf, " ucap Haikal pada Indah. Namun Indah sama sekali tidak marah, karena darahnya terus akan perlakuan Haikal.
Indah tidak berani memandangi wajah Haikal, karena masih malu dengan apa yang di lakukan oleh lelaki yang pertama kali mencuri ciumannya.
"Ndah, saya harap kamu bisa membalas cinta saya." Haikal terus memandangi wajah ayu yang ada di depannya.
"Apa elu serius dan yakin?" tanya Indah, karena Indah tidak bisa memungkiri kalau dirinya menyimpan keraguan pada Haikal.
"Apa perlu besok kita menikah," ujar Haikal.
"Apa kau sudah betul-betul gila!" sungut Indah.
"Supaya kamu percaya kalau saya memang serius," pungkas Haikal pada Indah.
Seperkian detik, Indah larut dalam kata-kata yang di lontarkan oleh Haikal.
Apa Haikal benar-benar serius dengan ucapannya? lalu bagaimana dengan keluarga Haikal jika mengetahui kalau sebenarnya Indah adalah sosok yang tak mempunyai orang tua. Indah takut, takut kalau semua itu benar-benar nyata.
Haikal terus menelisik wajah Indah dengan guratan senyuman yang tersungging. Menanti sebuah jawaban seorang Haikal harus rela menunggu waktu berminggu-minggu, namun itulah kenyataannya.
"Jika gue menerima bagaimana dengan keluarga elu?" tanya Indah dengan mimik muka sedih.
"Jangan berpikir sejauh itu, aku berjanji kalau keluargaku akan menerima kamu sepenuhnya." Haikal dengan suara tegasnya berkata, dan menyakinkan Indah jika semua akan baik-baik saja.
__ADS_1
"Jadi bagaimana," ucap Haikal mengulangi lagi permintaannya yang akan menikahinya dalam waktu dekat ini.
Indah malu untuk mengatakannya, jadi ia hanya menganggukkan kepalanya. Tanda bahwa dirinya bersedia.
"Apa kamu serius," ucap Haikal memastikan.
"Apa mau elu, gue tolak lagi."
Haikal menggeleng tanda bahwa ia keberatan. Dengan senyuman yang terlihat Haikal memeluk erat tubuh Indah, dan di bawanya dalam dekapannya.
Akhirnya perjuangan Haikal untuk mendapatkan hati Indah membuahkan hasil. Namun sebelumnya tak mudah untuk menyakinkan Indah bahwa dirinya begitu sangat menginginkannya, untuk di jadikan tempat pelabuhan hatinya.
Kini mereka resmi menjalin kasih untuk menuju ke jenjang pernikahan, dan mengarungi bahtera sehidup semati atas ikatan cinta yang mereka ucapkan nanti.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Sedangkan di lain tempat, tepatnya di kediaman Adi.
Adi tak bisa tidur akibat guncangan yang di akibatkan oleh Dia yang terus tidak bisa diam.
"Sayang kamu kenapa? sepertinya tidur kamu tidak nyenyak," ucap Adi pada Dia yang tengah menyingkurinya.
"Entah, By. Aku tidak bisa tidur dan merasa sangat gelisah," jawab Dia, dan itu terlihat dari keringat yang tengah membasahi dahinya. Sedangkan AC sudah berada di angka 5, dan menurut Adi suhu yang di rasakan sudah cukup dingin. Lantas mengapa istrinya bisa mengeluarkan keringat?.
"Apa mau aku urut." Tawar Adi yang tak tega melihat istrinya kesusahan untuk sekedar tidur.
Dia pun mengangguk, dalam pikirannya siapa tahu ia bisa tertidur dengan nyenyak. Akan tetapi perasaan aneh datang menghampirinya hingga membuat jantungnya berdetak tidak beraturan.
"Sayang apa kamu baik-baik saja?" tanya Adi, karena semakin terlihat pucat yang menghiasi muka Dia.
"Tidak By, aku tidak papa. Hanya saja perasaan tak karuan memenuhi seluruh organ yang saat ini sedang bekerja," ucap Dia lirih karena terlihat ia seperti menahan sesuatu.
"Apa mau ke dokter," ucap Adi sembari memijat kaki sang istri dengan di penuhi oleh keringat dingin.
"Tidak ada tanda-tanda mau lahiran, By. Seperti yang di katakan oleh dokter," timpal Dia. Nyatanya Dia belum merasakan kontraksi atau sakit perut, ia hanya merasa kalau hatinya sedang dirundung kegelisahan.
__ADS_1
Adi sangat kuatir dengan keadaan Dia, karena sang istri terus saja mendesis entah karena apa.
"Mau kemana?" tanya Dia pada suaminya saat sang suami akan turun.
"Mau ambil ponsel buat kasih tau Ibu, supaya datang ke sini." Jawab Adi.
"Kamu gak lihat ini jam berapa! lagian aku belum lahiran kenapa Ibu di suruh kemari," ujar Dia kesal.
"Suami mana yang tega lihat istrinya terus meringis kesakitan." Jawab Adi dengan nada gusar.
"Aku bilang ya gak papa, ya gak papa! jangan buat aku tambah kesal." Setelah itu tidak ada lagi suara.
Dia yang sedang marah, memilih tidur dengan cara menyingkur. Namun meski begitu Adi tetap memijat kaki Dia secara perlahan, hingga sang istri bisa tertidur dengan nyenyak.
Sedangkan sampai di pukul 02:00 tengah malam, Adi tidak bisa tidur dengan nyenyak. Dirinya terus memikirkan sang istri. Kehilangan istri pertama membuatnya sangat takut akan kehilangan sosok orang yan dicintai nya saat ini.
adi masih setia memijat kaki Dia yang sedang tidur dengan posisi terlentang. Adi merasa ada yang aneh, karena tiba-tiba saja kakinya merasa basah.
"Basah, masa iya bocor. Ini kan tidak hujan," gumam Adi.
"Apa De sedang ngompol, lantas dirinya tidak sadar karena sudah saking nyamannya?" tanya Adi pada dirinya sendiri.
Adi ingin sekali membangunkan sang istri, namun ia tidak tega jika harus merusak tidur belahan jiwanya. Hingga akhirnya Adi memutuskan untuk tidur di sofa panjang, karena tidak mungkin bagi dirinya untuk tidur seranjang bersama Dia, karena melihat spring bet yang mereka tempati basah.
Sedangkan Adi tak kunjung bisa tidur. Entah mengapa perasaannya kalut tidak seperti biasanya.
Adi berdiri lagi dari sofa hanya untuk memastikan keadaan sang istri jika betul baik-baik saja.
Mata Adi menatap lekat ke arah wajah Dia, hingga ada yang ganjal dalam batin Adi.
"Kenapa muka Dia sangat pucat, apa mungkin memang di sengaja agar tidak membuat aku menjadi kuatir." Adi terus menerka dan membenarkan apa yang sedang berada di isi kepalanya. Hingga pukul tiga dini hari, Adi masih terjaga walau sebenarnya ia sudah teramat ngantuk.
Mata ini sudah tidak tahan, sepertinya aku harus segera tidur. Semoga saja besok Dia dengan keadaan seperti sedia kala, ucap Adi di dalam hatinya.
Akhirnya mata Adi terpejam juga, namun sayang di saat sang suami sudah terlelap. Sedangkan Dia merasa perasaanya yang semakin menjadi.
__ADS_1
Keringat dingin telah menampakkan diri di tubuh Dia.
Kenapa rasanya seperti ini, Ya Allah kuat hamba. Terus ini basah air apa ya? perasaan gue enggak ngompol, gumam Dia dalam hati.