
Perlahan Dia menghampiri orang yang berada di meja nomor lima. Dia melihat keduanya sudah saling kenal dan sangat akrab.
"Apa yang kalian lakukan di sini!" suara bariton, membuat keduanya menoleh dengan cepat.
"Ma-ma." Yah, Cahaya tidak menyangka kalau dirinya akan kepergok oleh sang mama.
Sesaat mata Dia tak bisa berkedip saat dirinya melihat lelaki yang sedang bersama anaknya. Begitupun dengan lelaki itu.
"Jadi benar, Cahaya itu anak dari Dia." Lelaki itu berbicara dalam hati karena dugaannya memang benar.
"Ke-napa Cahaya bisa mengenal pria ini?" batin Dia bertanya-tanya karena Dia tidak menyangka, kalau anaknya bisa berteman dengan sosok masa lalunya.
"Om, kenalin ini mamaku." Cahaya mengenalkan sang mama pada pria yang berada di depannya saat ini.
"Ay, kamu lihat gih ke dapur, tadi Mama minta kopi sama orang yang berada di belakang." Dia sengaja menyuruh Cahaya ke dapur karena hanya itu satu-satunya cara untuk bisa, mengelabuinya.
"Iya, Ma." Jawab Cahaya tanpa membantah. Lalu dengan segera ia bangkit untuk ke belakang.
Setelah kepergian Cahaya, rentetan pertanyaan diberikan pada lelaki yang kini sedang duduk dengan santainya. Sembari sesekali menyesap minuman yang ia pesan.
"Kenapa kamu bisa bersama anakku? jawab!" bentak Dia pada lelaki yang dengan wajah santainya dan, tak terlihat kegugupan sedikitpun. Padahal lelaki itu dengan kekuatan yang ada untuk tidak terlihat gugup. Nyatanya hatinya bergetar hebat karena perempuan yang berada di sampingnya.
"Apa itu penting, De." Pria itu menanggapi dengan suara santai.
"Jawab, Ki!" bentak Dia lagi karena ia tidak mau membuang-buang waktu.
"Aku ada urusan penting dengan anak kamu," ucap Riki. Yah, lelaki itu adalah Riki lelaki yang sangat di gilai oleh Cahaya.
"Apa urusan kamu dengan anakku?" tanya Dia yang dibuat penasaran oleh Riki.
"Sebulan lalu anak kamu dan temannya telah menabrak motor kesayanganku, sampai-sampai semua hancur. Jadi, aku meminta ganti rugi karena anak kamu waktu hanya memberiku uang dua juta dan itu kurang." Jawab Riki menjelaskan tanpa ada yang ditutup-tutupi olehnya.
Dia terhenyak saat mendengar penuturan dari Riki, kenapa masalah sebesar itu. Bisa-bisanya di sembunyikan oleh Cahaya. Dia benar-benar sangat kecewa dan membuat sangat malu.
"Memangnya berapa kerugian yang kamu minta," ujar Dia pada Riki dan nada Dia tidak seperti tadi yang banyak membentak.
"Sepuluh juta dan baru di cicil tiga juta sama Cahaya," ucap Riki.
"Maaf atas kelakuan anakku." Dia tertunduk karena sedikit malu akan ulah yang sudah diperbuat oleh Cahaya.
"Tidak masalah." Jawab Riki tersenyum.
__ADS_1
"Cahaya mirip kamu ya, cantik." Ucapan Riki membuat Dia langsung menatapnya.
"Eum, maaf." Riki berkata lagi dan meminta maaf akan ucapannya.
"Ma, kopinya sudah." Cahaya datang dengan tiba-tiba membuat Dia dan Riki sedikit terkejut.
"Makasih sayang." Jawab Dia sembari memberikan senyuman pada sang putri.
Cahaya ikut duduk dan sesekali melirik satu persatu orang yang berada di depannya saat ini. Cahaya pikir keduanya tidak saling mengenal. Akan tetapi, terlihat dari tatapan kalau sebetulnya mereka saling mengenal.
"Apa kalian tidak ingin mengatakan sesuatu kepadaku," ujar Cahaya pada keduanya.
"Bisa kami bicara sebentar," ucap Riki menyahuti Cahaya.
Cahaya pun mengerti dengan yang dikatakan oleh Riki dan ia pun, langsung berdiri.
"Boleh, kalian bicaralah." Jawab Cahaya pada Riki dan setelah itu Cahaya keluar.
"Eum, kamu sudah menikah?" tanya Dia yang memulai membuka percakapan.
"Masih … Masih sama saat kita bertemu saat acara jual beli ruko," ucap Riki menjelaskan kalau dirinya memang belum menikah dan belum, mempunyai kriteria yang ia rasa pantas untuk dirinya.
"Apa akan membujang selamanya. Jangan terlalu memilih untuk mencari yang sempurna," ujar Dia memperingati karena Dia tahu kalau Riki, sekarang usianya sama dengan dirinya.
"Kamu sudah lebih dari kata sempurna, lantas kamu mau cari yang seperti apa!" sahut Dia dengan cepat.
"Kamu ingin aku segera menikah kan?" timpal Riki dengan alis yang terangkat.
"Harusnya." Jawab Dia.
"Ya sudah tinggal nikahkan aku sama Cahaya beres kan."
Uhuk.
Uhuk.
Seketika Dia tersedak dengan ucapan Riki.
"Mana bisa begitu!" teriak Dia dengan suara lantang dan itu membuat Cahaya, seketika datang karena mendengar mamanya berteriak.
"Mama! ada apa?"
__ADS_1
"Ini laki mau nikahin kamu!" seru Dia tanpa sadar menjawab Cahaya yang sedang bertanya.
"Iya kan tinggal nikahi apa susahnya." Jawab Cahaya enteng.
"Tidak! pria ini sudah bangkotan. Mana mungkin kamu mempunyai suami seperti dia," ucap Dia sembari menunjuk ke arah Riki.
"Kenapa kamu tidak mau mempunyai menantu sepertiku?" kata Riki pada Haikal.
"Karena kamu sudah bau tanah! Mana bisa begitu kita seumuran, apa kamu tahu itu." Jawab Dia kekeh yang tak merestui hubungan antar keduanya.
"Cahaya! apa yang kamu sering ceritakan pada Mama itu, lelaki bodoh ini?" kini netra Dia beralih menatap sang putri.
"I-iya, Ma." Cahaya menjawab dengan suara gemetar.
Dia tertunduk dengan tubuh lemas. Ia tidak menyangka kalau lelaki yang disukainya adalah Riki, temannya. Lebih parahnya lagi sosok yang ia kagumi seumuran dengannya.
"Mama tidak akan memberikan restu pada kalian ingat itu!" setelah berkata Dia langsung berjalan ke ruangannya untuk mengambil tasnya.
Sesampainya di luar tangannya di cekal oleh Riki.
"Tolong De, restui kami." Riki sampai harus memaksa Dia hanya untuk meminta restu. Entah setan apa yang merasuki jiwa Riki, dengan tiba-tiba meminta Cahaya untuk dijadikannya istri.
"Sekali tidak, tetap tidak!" bentak Dia pada Riki.
Sedangkan Cahaya juga merengek agar di izinkan untuk hidup bersama lelaki yang telah membuatnya nyaman, dalam beberapa waktu ini.
Dia tidak memperdulikan anak dan temannya, yang ada di otaknya sekarang ia ingin sampai di rumah dan berharap suaminya, sudah berada di rumah.
Di mobil.
Dia tak henti-hentinya mengumpat akan keduanya, bagaimana bisa Cahaya jatuh cinta pada pria dewasa. Walaupun dirinya dulu pernah ada di posisi itu, menikah dengan pria dewasa dengan status duda.
Sebetulnya Riki tidak terlalu tua, karena dulu waktu menikah dengan Adi di usianya juga memasuki kepala empat.
Jika Dia sedang pusing memikirkan anak semata wayangnya. Berbeda dengan Cahaya dan Riki yang masih berada di restoran milik Dia, ibu dari Cahaya.
"Apa Om, serius mau menikah denganku?" tanya Cahaya berharap kalau ucapannya bukan bualan belaka.
"Memangnya kurang serius tadi!" sungut Riki.
"Om, boleh tanya."
__ADS_1
"Apa!"
"Om, sebetulnya kenal kan sama Mama?" Riki tertegun dengan pertanyaan Cahaya.