
"Hye bangun! Dasar pasangan mesum. Bangun kalian." Mereka berdua yang samar-samar mendengarkan seseorang berteriak, lalu mengerjapkan mata.
Namun begitu sangat terkejut bukan main mereka, tatkala melihat cukup banyak warga yang mengelilingi mereka berdua.
"Mereka sudah bangun, enak nya di apakan mereka." Ucap salah satu warga.
Arak saja.
Giring ke balai desa.
Laporkan polisi.
Yang benar itu nikah kan mereka.
Suara riuh dari orang-orang yang berada di sekitarnya membuat Adi, emosi, tapi tak bisa apa-apa. Sedangkan Dia, menangis karena takut.
"Apa kalian seorang pasangan suami istri?" tanya salah seorang bisa di lihat jika orang tersebut adalah ketua RT.
"Ini tunangan saya Pak, karena hujan makanya menepi." Bela Adi dengan sedikit gemetar.
Tunjukkan buktinya.
Iya, mana buktinya.
Dasar pasangan mesum
Bisa aja lu tong kalau ngeles.
"Lihat mereka mas, mereka sangat marah akibat perbuatan Mas, yang tidak senonoh. Dan sekarang bisa tunjukan Identitas kalian." Ujar Pak RT.
"Tapi saya dengan tunangan saya tidak berbuat apa-apa Pak, saking lelahnya kita nunggu hujan reda. Dan pada akhirnya kami tertidur." Adi lagi-lagi berusaha untuk menjelaskan namun sayang, pembelaan nya di tolak oleh para warga yang menurutnya itu perbuatan yang tak terpuji.
"Om, takut." Dia menangis sambil berkata lirih.
"Tenang lah, De, tidak ada yang perlu di kuatir kan." Ucap Adi, yang mencoba menenangkannya.
Ada satu orang yang membisikkan sesuatu di telinga Pak RT. Dan beliau mengangguk.
"Baik lah, setelah kami berembuk akhirnya kami juga memtuskan demi keamanan lingkungan agar tidak ada kejadian seperti ini lagi, maka kami sepakat untuk menikahkan kalian berdua. Penjelasan dari Pak RT membuat Dia tak terima dan protes.
" Gak bisa gitu dong Pak, perlu Bapak pahami kalau kita itu bukan pasangan mesum." Tegas Dia.
"Iya bukan pasangan mesum tapi pasangan, yang tak senonoh." Ucap salah satu di antara mereka.
"Udah salah tapi masih ngeyel, udah lah Pak RT, segera di bawa ke kantor desa biar segera di nikah kan." Sahut seseorang lagi.
__ADS_1
"Ta-." Ucapan Dia, lagi-lagi terpotong.
"Pilih di arak keliling kampung atau menikah." Dua pilihan yang di ajukan oleh kepala RT, pada mereka berdua.
"Baik lah Pak, saya akan menerima untuk di nikah kan, tapi sebelum itu saya meminta bukti kejadian apa yang kita lakukan karena kami memang tak berbuat apa-apa." Ujar Adi yang menyetujui pilihan yang di ajukan pada mereka.
"Nih lihat lah, kami sengaja merekamnya karena untuk bukti pengaduan jika memang mesum tidak pada tempat nya." Ucap pria berkumis tersebut sambil menyodorkan gawai nya kepada Adi.
Adi yang melihat seakan-akan matanya ingin di keluarkan nya, saking malunya. Dan dalam batinnya, ingin sekali dirinya bersembunyi di balik topeng badut.
"Om, kenapa?" tanya Dia, lirih.
Adi tak menjawab, tapi. Dirinya langsung memberikan gawai pada Dia.
Setelah mengambil gawai di tangan Adi, Dia memutar vidio itu tersebut.
Huh, ini beneran gue, aish kenapa gue bisa kek gini sih. Dengan wajah yang pucat akibat malu Dia membatin, seakan dirinya tak percaya dengan tingkahnya.
Wajar kalau warga mengira aku dan Dia, di tuduh melakukan hal yang tak senonoh, orang kelakuannya kek gitu. Adi membatin, dan menghela nafasnya dalam-dalam.
Dirinya ingin nikah tapi tidak dengan cara yang memalukan seperti ini, bisa tamat riwayatnya jika menemukan salah satu temannya.
"Baik lah, kalian sudah melihat bukan, maka segera ikuti kami, untuk acara pernikahan kalian." Kata Pak RT.
Tak berapa lama kemudian.
Dengan suara yang gemetar sekaligus gugup, Adi mencoba mengulang ijab qobul untuk yang kedua kalinya, setelah istri pertamanya.
Saya terima nikah dan kawinnya Dia Nanda Umairah, binti Usman. Dengan mas kawin uang tunai satu juta rupiah di bayar nyicil.
Ish, kenapa bisa gitu, ngasih mas kawin tapi nyicil? thor Adi kan orang tajir mana ada dalam kamus pegang uang cas orang kaya, wong aku aja nih yang kismin. Gak pernah pegang uang cas..Hebat kamu thor, ia lah orang kagak punya duit apa yang dipegang.😏
"Bagaimana para saksi." Ucap penghulu tersebut, karena kebetulan rumah penghulu tak jauh dari balai desa.
Sah.
Sah.
Sah.
Alhamdulillah, sekarang salim dulu sama suami mu. Dan kamu cium kening istri kamu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aku tak menyangka bakal seperti ini, mengharap pernikahan yang apik. Tapi berakhir tragis, hanya karena tingkah ku tanpa sengaja menaikan kakiku di paha Pak Adi. Dan kami di tuduh sebagai pasangan mesum hinga saat ini, detik ini, hari ini, aku Dia Nanda Umairah telah menyandang status istri.
__ADS_1
Tak pernah terbesit akan menikah dengan duda tanpa anak, dan umurnya jauh dari usiaku. Dan sekarang habis lah masa remajaku, dan habis pula di buat perkedel oleh Mak, saat aku pulang nanti. Lalu harus bagaimana menjelaskannya? Sungguh aku bingung dan pusing. Dan tak mungkin aku mengatakan jika terpergok. Bisa-bisa murka Emak singa. Dan Emak juga pasti curiga saat aku mengatakan bahwa hari ini telah menjadi istri orang tanpa sebab.
...----------------...
Di jalan kami hanya diam, dan pastinya memikirkan akan nasib masing-masing. Hingga suara Pak Adi memecah keheningan.
"De, pulang ke rumah ku dulu ya, mau bersih-bersih setelah itu ke rumah Mak, buat ngomong." Ujar Adi yang baru saja telah sah menjadi suami Dia.
"Eum."
Tak membutuhkan waktu lama, sampai lah mereka di rumah Adi.
Di sofa.
"Apa kamu menyesal." Ucap Adi.
"Menurut Om."
Ck..ck..
"Sekarang saya suami kamu, bisa gak jangan manggil saya Om." kesal Adi.
"Bodoh amat, udah deh. Om duda jangan menjadikan alasan ini buat saya manggil dengan sebutan yang aneh-aneh." protes Dia, bentuk kekesalannya saat dirinya terpaksa menikahi duda somplak tersebut.
"Oh ya, jangan lupa bayar utangnya, buruan mana," sambung Dia lagi sambil menadah kan tangannya.
"Saya gak ada utang, emang saya utang apaan." Adi yang lupa atau pura-pura lupa hingga dirinya tak sadar saat uang mahar tersebut masih nyicil.
"Dasar pelupa, Om tadi belum sempat ngasih saya mahar," Dia mengingatkan soal mahar pada Adi.
"Astaga." Adi langsung menepuk jidatnya karena memang dirinya benar-benar lupa.
"Maaf, nanti deh kita mampir di ATM buat ambil, saya ada 400ribu, emangnya kamu mau," tawar Adi.
"Dasar kere." Ketus Dia.
"Bukan kere sayang, memang Mas gak pegang uang cas."
Huek..
"Najis saya." Sambil bergidik ngeri saat Dia mendengar Adi memanggilnya sayang.
"Ya sudah kalau gitu Mas mandi dulu ya, bye bye sayang."
AWAS!
__ADS_1