Jodohku Di Tangan Duda Somplak

Jodohku Di Tangan Duda Somplak
BAB 72. Perdebatan Haikal Dan Adi


__ADS_3

"Bilang saja kalau kamu sedang mengarang, makanya kamu berkata seolah-olah kamu sudah menikah dengan cara singkat." Ucapan Haikal semakin membuat Adi bertambah geram.


"Terserah ya kamu bicara apa. Yang penting sekarang cepat hapus foto itu! karena aku sudah muak melihat tingkah kamu," cercah Adi yang sudah tidak bisa mengendalikan emosinya.


"Santai. baiklah aku akan menghapusnya, tapi sebelum itu apa kamu tidak ingin memberi hadiah dengan orang yang lancang, karena sudah diam-diam mencuri ciumanmu itu." Ucap Haikal memberi saran pada temannya itu.


"Aku akan memberikannya setelah memakan rujak yang ku pesan tadi." Adi ingat kalau siang tadi dirinya meminta Haikal untuk membelikannya rujak manis yang ia mau, namun belum sempat ia memakannya.


Dasar, orang marah kok tapi tetap saja ingat dengan makanan. Eh, tapi kok tumbenan ya si bos minta di belikan rujak sama minuman dingin, sebelumnya kan orang ini anti jajan yang beginian. Haikal bergumam dalam hati, karena permintaan bosnya itu membuat ia bertanya-tanya.


Adi yang merasa dipandangi dan membuatnya begitu sangat risih akhirnya bertanya.


"Kenapa mata kamu terus melihatku seperti itu. Apa mau itu mata ku congkel," ketus Adi.


"Tidak bos, aku hanya heran sama kamu." Jawab Haikal.


"Memangnya kenapa aku?" tanya Adi yang juga penasaran.


"Kamu akhir-akhir ini aneh Di, kamu tau gak. Kamu itu terlihat seperti orang hamil, makanan yang kamu tidak suka kamu makan, dan yang kamu suka malah sebaliknya."


"Masa sih," Adi menatap wajah Haikal dengan serius.


"Jangan menatap seperti itu, aku mual melihatmu, Di."


Pakh.


Adi melempar buku dan lemparannya meleset, karena Haikal menangkisnya dengan tangan.


"Dasar temen gak punya akhlak." Gerutu Adi, dengan mulut di penuhi oleh buah-buahan yang terdapat di rujak manis tersebut.


Setelah menghabiskan satu mika penuh yang berisikan rujak manis, Adi mulai menata emosinya lagi untuk memberi pelajaran pada karyawannya yang tidak tahu malu itu, karena di saat Adi terlelap orang itu berani mengambil ciuman.


"Kal, panggil orang itu." Adi memerintahkan Haikal untuk memanggil Santi.


"Baiklah, sesuai perintahmu Bos." Setelah berkata Haikal langsung meninggalkan ruangan Adi, dan memanggil Santi.


Di ruangan khusus para staf, Haikal menyuruh Santi untuk menghadap bos nya.


"San," panggil Haikal.


"Iya, Mas." Sahut Santi.

__ADS_1


"Cepat datang ke ruangan bos, jangan sampai membuatnya menunggu!" seru Haikal pada Santi, sedangkan Santi tidak berpikir apa-apa. Yang ada di pikirannya kalau bos nya itu akan mengucapkan terimakasih telah membuatkan teh untuknya.


"Baik Mas." timpal Santi, lalu dirinya bergegas untuk cepat menghadap bos nya itu.


Pintu sengaja tidak di tutup supaya memudahkan Adi, karena jika dirinya berteriak untuk menyahuti suara dari luar, itu akan membuatnya semakin lapar.


"Pak," sapa Sinta.


"Masuk." Jawab Adi.


"Apa Bapak ada perlu sehingga memanggil saya," ujar Santi dengan PD nya.


"Iya,"


"Apa kamu suka dengan ciuman itu."


Degh.


Santi tersentak, dan begitu sangat terkejut akan penuturan bos nya itu. Bukannya waktu Santi mencium bos nya itu masih dengan keadaan terlelap.


"Kamu belum menjawabnya, Santi." Adi memandangi wajah menor Santi dengan penuh jijik.


"Sa-saya ti-tidak sengaja Pak. Tolong jangan pecat saya," Santi mulai merasakan takut karena ternyata aksinya dipergoki oleh seseorang.


"Maaf, Pak." Hanya itu yang keluar dari mulut Santi.


"Saya tahu kamu karyawan teladan di sini, dan saya juga tahu kalau kamu sudah mengabdi di tempat ini sudah lebih dari lima tahun. Harusnya saya sudah memecat kamu, paham."


"Sekarang pulanglah, dan renungkan tentang kesalahan kamu. Jangan sampai saya benar-benar memecat kamu!" seru Adi lagi.


"Ba-baik Pak."


Setelah Santi keluar, kini berganti Haikal yang memarahi Adi, dan memaki-makinya karena dianggap bodoh, dan sangat bodoh menurut Haikal.


"Apa kau memang tercipta menjadi manusia bodoh," seru Haikal pada Adi, menurutnya. Hukuman yang diberikan oleh santi itu terlalu ringan.


"Apa maksudmu?" tanya Adi.


"Seharusnya aku tidak lagi menjelaskan, karena kamu pun tahu sekarang, saat ini, dan detik ini sedang membahas apa."


"Kenapa kamu senang sekali mengatai ku bodoh," sungut Adi pada Haikal.

__ADS_1


"Cih, sungguh menyebalkan. Tidak Haikal tidak bocah tengil itu sama-sama suka mengataiku bodoh," Adi bergumam karena sangat kesal, dan nampaknya Haikal mendengar keluhannya.


"Selain aku siapa lagi yang mengataimu bodoh. Terus bocah tengil yang baru saja kau sebut itu siapa?" Jiwa penasaran Haikal semakin menggebu, karena dirinya juga sudah lama tidak bersama Adi. Pekerjaan di lain tempat lah membuatnya berpisah untuk sementara waktu.


"Sudahlah, tidak perlu tahu urusan orang. Sekarang jam berapa?" tanya Adi, karena Adi merasakan cacing-cacing yang ada di perutnya meminta untuk segera diberi makan.


"Sekarang pukul empat sore, memangnya kenapa! apa ingin segera pulang terus memeluk istri khayalanmu itu."


"Rupanya mulut itu perlu ku sobek-sobek. Biar tidak banyak bicara, kamu tahu…."


"Tidak." Potong Haikal saat Adi belum selesai untuk berkata.


"Kau memang benar-benar brengsek ya! sekarang pergi keluar dan beli makanan,"


"Dasar menyuruh seenaknya, memang aku ini pembantu apa."


"Aku mendengar," tukas Adi.


Cih dasar bos tidak ada akhlak, umpat Haikal dalam hati.


"Jangan mengumpatku." Ketus Adi.


Jika mereka berdua masih saja berdebat, tentang kebodohan mereka yang hakiki. Sedang di tempat lain, tepatnya di kediaman Adi.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Tidak terasa jam berputar dengan cepat, dan sore pun telah berganti dengan malam.


Seperti biasa Dia tengah asik menonton TV, dan ditemani beberapa cemilan.


Siapa tahu suaminya itu akan pulang cepat, dan tidak selarut seperti kemarin. De lupa untuk bertanya tentang suaminya pulang jam berapa dan tidur pukul berapa.


Aish, kenapa gue jadi lebay gini sih. Dia menggerutu dalam hati, setelah membayangkan pertanyaan yang akan di ajukan pada sang suami.


Pukul sembilan malam, De belum juga masuk ke dalam kamar, ia masih setia untuk menunggu suami dewasa nya itu. Namun lama-lama pangannya mulai kabur, dan rasa kantuk itu mulai menguasai. Akan tetapi ia berusaha untuk tetap terjaga.


Sepertinya perlu membuat minuman hangat, agar mataku tak terkena lem yang tidak bisa gue hindari. Batin Dia, lalu dirinya bangun dan berjalan ke arah dapur untuk membuat coklat panas.


Tidak berselang lama, sat Dia sudah berada di depan TV. Terdengar suara deru mobil.


Dengan langkah tergesa-gesa Dia menyambut kepulangan suaminya.

__ADS_1


Ceklek.


Dia membuka pintu, namun betapa terkejutnya saat ia melihat suaminya teler di rangkulan seseorang.


__ADS_2