Jodohku Di Tangan Duda Somplak

Jodohku Di Tangan Duda Somplak
BAB 43. Rencana Bu Rosma Dan Mak Ita


__ADS_3

"Saya engga tuli jadi jangan berteriak." Adi langsung menyumpal kan mie rasa rendang tersebut ke dalam mulut Dia.


"Dasar brengsek, suami gak ada akhlak." Dia memaki-maki suaminya karena benar-benar kesal di buatnya.


"Mau lagi," sambil menyodorkan kan sendok ke arah Adi, berkata.


"Moh aku." (Gak mau aku)


Dia menolak lalu berjalan ke atas, dan menaiki tangga satu demi satu, dan sampai lah ia di kamar.


Jika sepasang pasutri itu, setiap hari berantem terus. Lain hal nya dengan kedua besan itu, nampak saling akur dan tak ada cekcok di antara mereka berdua, dan Bu Rosma sekarang sedang berkunjung ke rumah besannya, ya itu Mak Ita.


"Mak besan, sepertinya kita harus melakukan sesuatu," ujar Bu Rosma kepada Mak Ita.


"Maksud besan apa!" Dengan wajah yang bingung Mak Ita menimpali.


"Oh, ayolah Mak besan, Adi umurnya bertambah tua, dan apa Mak besan tidak ingin menimang tuyul yang imut." Dengan gemasnya Bu Rosma berkata.


"Mana ada tuyul itu lucu, yang ada serem kali." Mak Ita menjawab dengan bergidik ngeri karena membayangkan bentuk tuyul itu sendiri.


"Maksudnya cucu Mak, iya cucu. Kan lucu kalau kita punya cucu."


"Mak besan ini kripik boleh di makan tidak," ujar nya lagi pada Mak ita.


"Jangan di makan ya Bu besan, itu keripiknya," Tanpa ekspresi Mak Ita berkata, dan sontak membuat wajah bu Rosma murung.


Kalau enggak boleh di makan kenapa toples ini di taruh di depanku, kan di pelototin mulu sama itu keripik tapi gak boleh di makan, dasar besan pelit. Memangnya gak tau apa? Kalau orang pelit kuburannya bakal sempit.


Bu Rosma mengumpat dalam hati, karena ternyata besannya itu pelit.


"Terus untuk apa di taruh di sini kalau enggak boleh di makan." Ujar Bu Rosma dengan wajah yang loyo.


"Buat adu pandang sama jenengan," Mak Ita berkata dengan senyuman yang di buat-buat.


"Mak, kalau itu toples, pria mah enggak apa-apa. Masalahnya itu toples, memangnya saya gila apa? saling melotot sama itu toples."

__ADS_1


Ha..ha..ha..


Mak Ita tertawa, melihat wajah Bu Rosma yang terlihat kesal.


"Makan lah, tapi jangan di habiskan ya toplesnya cukup isinya." Goda Mak Ita pada besannya.


"Dasar besan gak ada akhlak." Maki Bu Rosma.


"Jadi bagaiman?" Lalu Mak Ita teringat perihal obrolan yang sempat terpotong karena masalah keripik pisang tersebut hingga mereka lupa sampai dari mana pembahasan mereka.


"Mak besan ada ide enggak?" ujar Bu Rosma.


"Enggak ada, tanggal tua jadi otaknya buntu." Jawab Mak Ita, sambil menyeruput kopi hitam dan pasti rasanya legi pahit kek hidup.


Aaaaaaa.. Bu Rosma berteriak hingga membuat Mak Ita apes.


"Buset kira-kira kenapa? Lihat ini wajah saya." Mak Ita benar-benar kesal dengan satu orang ini. Ini kan muka bukan got, pekik Mak Iya.


"Ups, maaf Mak besan."


Dalam hati Bu Rosma terkikik geli saat melihat wajah besannya yang penuh dengan air kopi.


"Makanya jangan bikin orang jantungan, nih lihat muka saya! Untung kamu besan, kalau gak. Udah saya gantung di pohon ciplukan." Sergah Mak ita dengan raut yang sudah menahan marah.


"Maaf." Bu Rosma meminta maaf akan kejadian di luar dugaan, karena ulahnya yang spontan berteriak di saat Mak Ita sedang menyeruput kopi, tiba-tiba dirinya terkejut dan tanpa di duga cangkir yang berisikan kopi yang ada di tangganya, alhasil tumpah memenuhi wajah Mak Ita.


"Dasar besan gak punya etika, bisa-bisanya karena ulah nya akhirnya wajahku ke siram kopi, menyebalkan." Mak Ita masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tumpahan kopi yang ada di muka serta bajunya, alhasil pagi ini Mak ita mandi dua kali.


BEBERAPA SAAT KEMUDIAN.


Mak ita baru selesai bersih-bersih dan kini dirinya menemui besannya lagi.


Terkejut, pasti. Pasalnya baru juga di tinggal sepuluh menitan, keripik pisang yang berada di toples lenyap.


Apa enggak pernah makan, sampai segitunya, orang kaya kok (gragas) seperti tidak pernah makan.

__ADS_1


"Eh, besan. Maaf ya keripiknya ludes, habisnya enak sih."


Enak lah, la wong gratis. Umpat Mak Ita, saat dirinya melihat betapa kaget nya, melihat keripik itu tandas oleh sang besan.


"Dasar orang kaya, gak bisa lihat cemilannya orang miskin." Sungut Mak Ita.


"Ya udah, ini lanjutannya bagaimana?" tanya Mak Ita, sembari meletakkan bokongnya di sofa.


"Eh, iya. Kenapa saya bisa lupa ya Mak besan." Bu Rosma tak habis pikir setengah hari di rumah sang besan tapi tak kunjung membuat rencana.


"Kamu mana pikiran besan, orang mulut enggak berhenti ngunyah, sebenarnya Bu besan kesini itu, mau membicarakan tentang anak-anak atau mau numpang makan sih."


Mak Ita mulai kesal dengan kelakuan besannya, menurutnya sebelas dua belas sama anaknya, sama-sama edan.


"Habis makanan Mak besan enak-enak sih." Bu Rosma berbicara tanpa punya rasa sungkan, ataupun rasa malu terhadapnya.


"Baik lah, bagaimana kalau kita memberi minuman untuk mereka." Bu Rosma kini sudah terlihat serius.


"Minuman, minuman apa maksudnya," Mak ita bingung, dan Mak Ita tak mengerti, dengan menautkan kedua alisnya berharap besannya akan mengatakan dengan segera.


"Oh ayo lak Mak besan, masa begitu saja kau tak mengerti." Seru Bu Rosma pada Mak Ita.


"Tapi memang sungguh saya tidak mengerti." Dengan mengangkat bahunya Mak Ita berkata.


Lalu Bu Rosma mendekat lalu membisikkan sesuatu di telinga Mak Ita.


Seketika mata Mak Ita seakan-akan ingin keluar dari tempatnya, karena mendengar apa yang sudah di katakan lewat bisikan tetangga. Eh ralat ulang, maksudnya membisikkan sesuatu di telinganya.😁


"Apa kau sudah gila! Dengan memberikan obat perangsang." Mak Ita tak habis pikir dengan apa yang di rencanakan oleh besannya.


"Tapi itu jalan satu-satunya, karena saya yakin kalau mereka belum kikuk-kikuk." Bu Rosma yakin kalau anaknya belum membuka segel original dari tubuh menantunya tersebut.


"Eum, begini saja, kamu tanyakan pada anakmu apakah anakku sudah goal apa belum, sepertinya ucapan mu terlalu ngaco! Mereka kan tidur sekamar jadi mana mungkin enggak kikuk-kikuk. Memangnya anak mu bocah apa? Anakmu sudah mulai beruban jadi tentunya mana tahan melihat perempuan yang sekamar dengannya."


Mak ita mencoba memberi pemahaman untuk Bu Rosma, jadi manalah mungkin dua pasangan tak melakukan apa-apa, dan ini sudah bulan ke tiga bagi mereka menjalani mahligai rumah tangga.

__ADS_1


Sejenak Bu Rosma menyaring setiap kata yang di ucapkan, dan ada benar juga pikir Bu Rosma, Adi kan lelaki dewasa jadi, tak mungkin kalau anaknya belum kikuk-kikuk.


__ADS_2