
Indah dengan perlahan mengeluarkan barang yang di maksud oleh Serly, hingga semua mata tertuju pada Dia, dan tatapan tidak suka lah yang didapatkannya.
"Nah itu Hp saya Pak!" seru Serly pada Adi.
"Tapi bagaimana mungkin, itu barang ada di tas gue. Sedangkan gue merasa enggak mencurinya," ujar Dia.
"Tapi, nyata-nyata itu barang ada di tas kamu! masih mau mengelak, iya." Serly terus saja menuduh Dia, sebagai malingnya.
Huuuuu...
Semua orang menyoraki Dia, tapi. Disini Dia masih terlihat tenang.
Kamu memang pantas jadi istriku De, karena kamu sudah menunjukkan bahwa kamu perempuan yang tak pernah memperlihatkan statusmu di hadapan mereka. Adi tanpa sandar mengukir senyuman dibibir nya, karena Adi merasa bangga telah mempunyai istri seperti Dia, meski jalan pernikahan yang di alaminya dengan cara yang menurutnya lucu.
"Pak!" Adi langsung berubah ekspresi kala Serly memanggilnya dengan nada sedikit tinggi.
"Kenapa?" Adi menimpali.
"Saya mau De, di pecat!" seru Serly.
"Buktikan jika gue yang mencuri, jangankan harga barang seperti itu. Muka kamu saja bisa gue beli," Dia menyahut dengan menatap sinis ke arah Serly.
"Kamu kan miskin, mana sanggup beli Hp semahal ini." Serly berkata sambil mengangkat barang kepunyaannya.
"Pokoknya saya mau Bapak memecat Dia, titik." Serly yang semakin mendesak bos nya untuk segera memecat De, terlihat bos nya hanya diam bak patung.
Karena menurutnya mana mungkin istrinya mencuri, sedangkan uang yang ia berikan sudah lebih dari cukup. Dan Dia juga jarang menggunakannya karena menurut Dia, lebih baik di simpan daripada di hambur-hampurkan.
Dia hanya diam, menunggu keputusan suaminya yang berkedok bos nya itu.
"Baik seperti yang kamu minta, maka saya akan memecat Dia." Adi berkata dengan wajah yang tegas.
"Memang harus seperti itu bukan Pak, karena saya tidak mau kejadian ini ada yang mengalami seperti saya juga." Serly merasa senang kalau Dia benar-benar akan di pecat dari restoran ini.
"Tapi Bapak gak bisa gitu dong, harusnya kan Bapak mencari tahu sebelum memecat saya." Akhirnya De mengajukan protes yang menurutnya sangat tidak adil.
__ADS_1
"Ini sudah keputusan saya De, jadi sudah tidak bisa di ganggu gugat." Adi sejenak memandangi wajah sang istri, dan dalam hatinya sedang menahan senyum agar tak terlihat jika dirinya begitu bucin dengan Dia.
"Sudah sana pergi, ngapain kamu masih di sini." Serly menyuruh Dia meninggalkan tempat itu tersebut.
Dua karyawan lainnya hanya diam, tanpa bisa menolong Dia, karena keduanya sama-sama masih baru. Jadi, mereka tidak tahu seluk beluk tentang Dia dan Serly tentang permusuhan terhadap keduanya, hingga Dia berani mencuri barang Serly.
"Pak, Bapak gak bisa gitu dong! harusnya Bapak menyelidiki dulu tanpa harus memecat Dia." Indah sudah sangat emosi melihat suami dari temannya tak ada pembelaan sama sekali.
Adi tahu maksud dari ucapan itu, Indah satu-satunya orang yang tahu akan hubungannya dengan Dia.
"Tapi kamu sudah melihat sendiri kan, bukti sudah ada di tangannya. Jadi, apa saya harus diam kalau ada karyawan saya yang kehilangan barang."
"Dia memang mencuri, jadi itu sebagai hukumannya." Ujar Adi lagi
Kamu memang pencuri De, pencuri hatiku hingga membuat ku berdebar-debar, tidak karuan.
"Sudah sana pergi tunggu apa lagi, apa kau memang tak punya malu." Serly berujar dengan berkacak pinggang, sungguh sombong bukan, karena sesuatu hingga dirinya rela membuat kegaduhan.
Lalu Dia melangkah dengan perlahan, meninggalkan mereka semua.
"Tunggu!" teriak Adi pada Dia.
"Apa lagi, saya kan sudah di pecat." Dia berkata meski dengan wajah yang sudah menahan kesal, karena suaminya tidak mau mencari bukti terlebih dulu.
"Siapa yang menyuruh kamu pergi, bodoh." Lalu Adi menarik tangan Dia, sehingga mereka sejajar, namun tetap tangan ada masih memegang erat tangan milik Dia.
Semua pasang mata tertuju pada sosok Dia, tapi tidak termasuk Indah.
"Saya memang memecat mu dari sini, tapi tidak berarti kamu meninggalkan kan saya." Semua orang merasa keheranan.
"Lho bukannya Bapak memecat Dia, la-lalu." Serly merasa bingung.
"Iya sesuai permintaan kamu, saya memecatnya! memecat nya menjadi karyawan dan saya angkat menjadi bos, untuk menjaga dari orang-orang seperti kamu." Adi berkata dengan tangan yang menunjuk Serly, sehingga membuat Serly sedikit ketakutan.
"Indah, panggil semua karyawan yang ada di sini." Adi memerintahkan Indah untuk memanggil semua karyawan yang ada di sini.
__ADS_1
Tak berapa lama semua orang sudah berkumpul, dan semua orang juga merasa aneh mengapa tangan bos nya itu menggandeng tangan Dia.
"Baik lah semua sudah berkumpul, dan saat nya saya menjelaskan semuanya." Kini Adi menggandeng Dia lebih maju lagi.
"untuk kamu serly, mengapa saya tidak percaya sama kamu? itu karena Dia tidak mungkin mencuri barang kamu, karena apa? Karena uang Dia banyak. Jika kalau ingin membeli bisa saja tanpa harus mencuri barang sampah seperti yang kau sebutkan itu," Adi berkata dengan penuh ketegasan hingga semua bergidik ngeri.
"Tapi Pak, kenyatannya seperti itu." Serly masih memojokkan Dia.
"Sampah." Maki Adi pada Serly.
" Dengar baik-baik dan pasang kuping kalian dengan benar, bahwa Dia lestari istri dari Adi Dwipangga."
Seakan akan, bola mata mereka ingin lepas saat mendengar jika Dia adalah istri dari bos nya.
"Jadi apa mungkin istri bos, mencuri barang murahan seperti yang kamu katakan, Serly."
"Ja-jadi Dia istri Bapak?" tanya Serly dengan keringat yang sudah bercucuran.
"Apa kau tuli, hingga tidak dapat mendengar ucapan saya barusan, oh iya. Silahkan kamu pergi dari sini, karena mulai sekarang kamu saya pecat."
"Jangan Pak, saya minta maaf." Serly memohon pada bos nya agar dirinya tidak di pecat.
Adi hanya diam, menunggu Dia berkata.
"Tolong De, tolong jangan pecat aku." Serly ganti memohon pada Dia agar dirinya jangan sampai di pecat.
"Lebih baik elu pergi seperti yang di katakan suami gue, karena elu saking bencinya sama gue sampai-sampai nuduh kalau gue nyolong itu barang." Kini tatapan Dia begitu nyalang terhadap Serly.
"Aku minta maaf De, tolong jangan pecat aku. Jika aku di pecat aku mau kerja di mana," dengan sesenggukan Serly memohon.
"Itu bukan urusan gue, jadi nikmati akhir dari kesombongan elu serta keangkuhan elu sendiri."
Akhirnya Serly pergi membawa penyesalan, dia tidak tahu bahwa rencana sandiwaranya akan seperti ini jadinya.
"Untuk kalian, hormati Dia seperti kalian menghormati saya. Karena Dia adalah istri saya yang artinya bos kalian juga, baiklah sekarang kalian boleh pergi." Ujar Adi.
__ADS_1