
"Katakan jika ada masalah," ujar Dia pada Rury.
"Seperti yang tante bilang barusan. Jika, pacarku bukanlah lelaki yang baik. Hanya karena aku tidak mau menuruti nafsu birahinya ... Akhirnya dia meminta putus," Rury pun bercerita panjang lebar dan Dia hanya sesekali menghela nafas.
"Lebih baik begitu. Nantinya bukan dia yang rugi tetapi kamu yang di rugikan. Jadi, tinggalkan lelaki yang tidak baik dan carilah yan bisa menjaga kamu dan, bertanggung jawan atas kamu." Seketika air mata Rury luruh dan ia pun langsung memeluk Dia.
Dia pun membalas pelukan itu.
Saat dua wanita tengah berpelukan dari arah pintu terlihat Adi sedang melihat pemandangan itu dengan seksama.
Entah apa yang mereka berdua bicarakan hingga Adi menatap sang istri penuh dengan rasa haru.
Baginya, Dia. Adalah sosok istri yang tak pernah menuntut apa-apa. Dia adalah sosok istri yang tidak pernah mengeluh sedikitpun. Dia juga adalah sosok ibu sarta istri yang baik, bisa mendalami perannya sebagai ibu dan berlapis sebagai istri yang selalu menjadi kebanggaan.
Lama dirinya memandangi hingga suara deheman membuyarkan lamunan.
"Maaf, aku terlalu dalam membayangkannya." Adi berujar dengan di susul sebuah senyuman.
"Memangnya kamu sedang membayangkan apa?" yah, itu tadi sang istri yang menyadarkannya dari lamunan. Saat Dia akan mengambil sesuatu di dalam kulkas, dirinya melihat sang suami tengah tersenyum dan sesekali menggelengkan kepala.
"Lagi bayangin awal-awal kita menikah," ucap Adi dan itu membuat Dia tertunduk malu karena ia yakin bahwa Rury mendengar.
"Kenapa harus di ingat sih By, itu kan sudah belasan tahun yang lalu." Dia berkata dan berharap tidak mengungkit saat-saat mereka yang dulu.
Sedangkan Rury yang mendengarkan sepasang suami istri itu tengah mengenang, masa-masa mudanya dulu. Dirinya ikut terhanyut, betapa bahagianya mereka tanpa ada konflik yang menghantam rumah tangganya.
"Sudah lah malu di dengar sama Rury," ujar Dia yang ingin segera menyudahi percakapan dengan sang suami.
"Ry, cepat bangunin Cahaya." Dia pun mengalihkan pandangan kepada Rury dan segera menyuruhnya, untuk membangunkan putri mereka.
"Iya, Tante." Jawab Rury disertai anggukan. Lalu dirinya meletakkan piring dan segera keluar dari dapur dan menuju anak tangga, yang terdapat di ruang tengah.
__ADS_1
Sedangkan di dapur Dia menata semua makanan di atas meja makan.
"Sayang. Apa kamu tidak membuat cemilan?" tanya Adi karena ia sedang ingin menikmati pagi yang indah setelah hujan reda.
"Bentar aku buatkan ya, di kulkas ada pisang." Adi pun mengangguk dan dia pun pergi dengan membawa cangkir, lalu berjalan ke arah halaman rumah yang ada di belakang.
Di saat Dia sedang membuat cemilan untuk sang suami. Cahaya pun menghampirinya.
"Ma, ada apa?" tanya Cahaya pada sang mama yang sedang serius mengaduk tepung yang akan di buat adonan.
"Kami akan membicarakan kamu dan Riki, dengan begitu aku dan ayahmu merasa lega karena tugas kita sebagai orang tua akan segera berakhir tepatnya sedikit berkurang." Dia mengatakan itu semua dengan tanpa ekspresi, tangannya masih sibuk dengan tepung dan pisang.
"Sebaiknya kamu susul ayahmu di belakang," titah Dia pada Cahaya.
"Iya, Ma." Hanya itu yang keluar dari mulut Cahaya. Tanpa membantah ia pun langsung melenggang keluar meninggalkan sang mama.
Di taman belakang.
Dia yang membawa sepiring pisang goreng segera berkumpul dengan anak serta suaminya, di situ juga terdapat Rury. Namun, itu tidak masalah baginya.
"Terimakasih sayang," ucap Adi pada Dia.
"Tante makasih," sahut Rury.
"Wah, makasih mamaku tersayang." Cahaya pun mencium pipi Dia sebagai bentuk ucapan.
..."Sama-sama." Dia tidak mungkin menjawab satu-satu....
"Ay, Mama mau tanya. Apa kamu sudah siap menjadi seorang istri?" Dia menatap lekat ke arah sang anak, sedangkan Cahaya nampak ragu untuk menjawab.
"Apa yang dikatakan mama kamu ada benarnya, Riki bukanlah seseorang yang seumuran dengan mu, melainkan sudah hampir berkepala empat dan itu sama dengan mama kamu." Adi pun ikut memberikan peringatan kepada Cahaya, putri mereka satu-satunya.
__ADS_1
"Pernikahan bukanlah suatu yang bisa di permainkan. Jika kamu sudah memilih maka kamu juga sudah memutuskan akan langkah yang sudah kamu ambil," Dia masih memberi nasehat pada sang putri karena ia takut kalau-kalau Cahaya mengambil langkah yang salah.
Sesaat keadaan kembali hening, Cahaya pun mengatur nafas dalam-dalam agar perasaan grogi itu hilang. Dengan tarikan satu kali helaan nafas sampai semua dapat mendengar kini, ia mulai membenarkan posisi duduknya.
"Ma, Yah. Insya Allah aku sudah siap akan pilihan yang sudah aku ambil, aku siap menjadi seorang istri dan mematuhi semua apa yang dikatakan oleh om Riki nantinya." Cahaya memberi jawaban untuk kedua orang tuanya.
"Mulai saat ini aku akan belajar untuk bisa menjadi seseorang yang lebih dewasa dan tentunya, bisa bersikap apa yang kalian mau." Cahaya menambahkan lagi dan kedua orang tuanya pun tersenyum mengangguk.
"Nanti malam Riki bersama keluarganya datang ke sini untuk menentukan hari pernikahan kalian, jadi persiapkan mental dan hati kamu untuk menghadapi badai rumah tangga, yang akan kalian jalani." Wejangan yang ia dapat dari ayah dan juga mamanya, akan selalu diingat.
Cahaya belajar dari mamanya untuk menjadi sosok wanita yang tangguh, serta sosok ibu yang selalu memperiotiskan keluarga. Cahaya juga belajar dari pengalaman sang mama jika dirinya harus bisa menjadi seseorang istri yang bisa di andalkan tanpa membebani seorang suami entah itu walau hanya sekedar memasang tabung gas. Dia adalah sosok mama yang luar biasa bagi Cahaya. Nyatanya selama ini dirinya tidak sekalipun mendengar isu tak sedap. Atau pertengkaran kedua orang tuanya.
"Apa om Riki ada bilang sama Mama dan Ayah?" karena memang Cahaya tidak mengetahui akan hal itu.
"Iya, kemarin malam dia berbicara pada kami dan akan segera meresmikan hubungan kalian." Jawab Adi pada Cahaya.
"Apa di pernikahanku pakde akan datang?" tanya Cahaya dengan tatapan penuh harap.
"Tentu, mana mungkin keponakan satu-satunya akan menikah tapi tidak datang, apa dia aku pecat sebagai kakak." Jawab sang mama pada Cahaya.
"Benarkah akan datang wah ... Lama aku tidak bertemu dengan bang Sat," ucap Cahaya
Wajah Rury terlihat kebingungan akan nama yang di sebutkan oleh. Cahaya
"Namanya Satria, Cahaya suka seenaknya memanggil nama abangnya dengan sebutan bangsat." Seakan Dia tahu isi di dalam pikiran Rury. Jadi, Dia menjelaskan siapa Satria tersebut.
"Jadi Satria itu nama ponakan Tante?" ujar Rury.
"Iya, anak dari kakaknya Tante yang ada di kota (S)."
__ADS_1
Sudah bab dua yuk kepoin, semoga ada yang suka..
Lope you untuk kalian semua😘