
Seketika Cahaya terdiam akan ucapan Rury yang terakhir. Apa iya seorang Cahaya akan menjadi pelakor demi laki-laki dewasa? sulit untuk dipikirkan.
Akhirnya mereka berdua tidak jadi pergi dan memilih pulang karena Cahaya juga sangat lapar.
"Elu gak bisa jawab kan, jadi apa masih terus mengejar cinta yang bukan milik elu." Rury mencoba menasehati sahabatnya agar tidak salah langkah.
Sedangkan Cahaya diam dan tidak menyela perkataan Rury sama sekali dan, memang benar apa yang dikatakan Rury bahwa ia tidak mungkin, mengejar cinta yang bukan miliknya.
"Jika pria dewasa itu tidak punya bini atau duda. Maka gue akan berjuang untuk mendapatkannya," ucap Cahaya dengan lantang dan jelas.
"Segitu tertariknya elu sama om-om itu." Rury tidak menyangka jika Cahaya akan terus maju demi mendapatkan pria dewasa incarannya.
"Entahlah. Sepertinya gue merasa kek nyaman saja walau ini pertemuan untuk pertama kalinya," ujar Cahaya.
"Terserah elu dah, gue mau masuk dulu." Rury pasrah dengan apa yang akan dilakukan oleh Cahaya.
Setelah mengantar Rury pulang, ia juga akan pergi ke toko roti yang dikelola sang mama beberapa tahun silam. Cahaya kelaparan karena saat ini dirinya tidak memegang uang sepeserpun. Uang yang dibawanya tadi sudah diberikan oleh Cahaya pada lelaki yang motornya ia tabrak.
Tidak membutuhkan waktu lama, sampailah Cahaya di ruko. Di mana sang mama berada dan ia pun langsung lekas keluar dari mobil, untuk masuk ke dalam toko roti milik mamanya.
Sesampainya di dalam, Cahaya bertanya pada beberapa karyawan yang berada di depan.
"Mbak, mama ada di mana?" tanya Cahaya.
"Sepertinya di dapur sedang menghias pesanan orang." Jawab karyawan tersebut.
"Makasih, Mbak." Setelah itu Cahaya berjalan menuju ke belakang untuk menemui sang mama.
Sesampainya di dapur Cahaya langsung duduk sambil menunggu mamanya selesai menghias kue.
Beberapa detik kemudian. Ternyata Dia menyadari kalau Cahaya sedang menunggunya namun, ia mengabaikannya dan masih terfokus dengan pekerjaan yang ada di depannya itu.
"Ay, tumben ke sini?" tanya Dia sembari ikut duduk di samping putrinya.
"Ma, lapar." Hanya itu yang keluar dari mulut Cahaya.
"Kenapa gak pulang," ucap Dia yang semakin tidak mengerti.
"Malas kalau harus pulang karena sudah gak tahan," balas Cahaya.
__ADS_1
"Mau makan apa?"
"Nasi kuning yang ada di depan sana." Jawab Cahaya.
Tanpa berkata Dia mengeluarkan uang lima puluh ribu dan diberikannya pada Cahaya.
"Nih, Mama nitip tolong beliin kopi cup ya sekalian."
"Beres," ucap Cahaya lalu ia segera beranjak untuk segera membeli makanan.
Tidak terlalu jauh hanya saja harus menyebrang jika harus membeli nasi kuning. Cahaya baru saja sampai dan dengan segera memesan satu porsi nasi.
Cahaya tersenyum saat melihat jejeran para pengunjung yang ada di sekitarnya, terlihat sosok lelaki yang ia kagumi dengan nikmat sedang menikmati makanannya.
"Pucuk dicinta ulam pun tiba, ahay." Cahaya bergumam dan wajah yang berbinar.
Sambil menunggu pesannya jadi, Cahaya menghampiri meja dengan sosok lelaki yang sedang duduk.
"Hye, Om."
Uhuk.
Uhuk.
"Apa kau ingin membuat saya mati!" umpat lelaki itu pada Cahaya, sedangkan Cahaya hanya tersenyum tanpa punya rasa bersalah.
"Pis, Om."
"Apa seorang jelangkung. Yang datang tanpa diundang dan pulang tanpa diantar," ucap lelaki itu dengan tatapan tidak sukanya.
"Bisa dibilang seperti itu." Jawab Cahaya dengan senyuman yang tersungging di sudut bibirnya.
"Apa kita jodoh karena ini pertemuan yang kedua kalinya," ujar Cahaya dengan bangga.
"Siapa yang ingin berjodoh denganmu gadis ingusan! jika ia pun saya akan menukarnya kepada rongsokan," ucap lelaki yang sekarang kehilangan nafsu makannya, hanya karena kedatangan Cahaya.
Saat Cahaya tengah asik bercengkrama dengan Riki, yah sosok itu adalah 'Riki' pria dewasa yang yang di puja oleh Cahaya, tiba-tiba saja pemilik warung itu memanggil namanya karena pesanannya sudah jadi.
"Mbak, ini pesanannya." Penjual itu memberikan sebungkus nasi kuning pada Cahaya.
__ADS_1
"Oh ya, ini uangnya." Cahaya pun memberikan uang yang ia minta tadi pada mamanya dan itu membuat, Riki memelototkan mata.
"Katanya tadi tidak punya uang, terus itu apa? kau membayar dengan uang berwarna biru kan." Mendengar perkataan Riki Cahaya langsung menoleh dan menatapnya.
"Mamaku ada di toko roti itu, tadi setelah pertemuan kita. Gue nyamperin buat minta uang karena saking laparnya," ucap Cahaya menjelaskan karena ia tidak mau dianggap pembohong, oleh lelaki dengan usia yang sudah matang itu.
Sejenak Riki terpaku kala Cahaya mengucapkan kalau mamanya ada di toko roti tersebut, bukankah itu ruko ruko itu miliknya dulu lalu menjualnya pada Dia. Apa Cahaya itu anaknya? sepertinya tidak mungkin karena Cahaya berkata kalau ibunya ada di toko roti, bukan pemilik toko roti.
"Halo, Om. Kenapa ngelamun," ucap Cahaya dengan mengerutkan kedua alisnya.
"Jadi mama kamu lagi beli roti terus kamu samperin begitu?" karena rasa penasaran yang besar akhirnya Riki bertanya untuk menghilangkan, rasa itu.
"Bukan, Om. Mamaku pemilik toko roti itu."
Degh.
Seakan darahnya berhenti mengalir karena rasa terkejutnya, jika Dia pemilik toko roti itu berarti Cahaya memang anaknya.
"Semoga Cahaya bukan anak dari Dia," gumam Riki dalam hatinya.
"Nama orang tua kamu siapa?" dengan perasaan yang tak menentu Riki mencoba bertanya untuk menghilangkan rasa risaunya.
"Mama namanya Dia dan, Ayahku namanya Adi." Jawab Cahaya dengan menyebutkan nama orang tuanya.
Seketika Riki merem*as jemarinya dengan erat karena dugaannya benar, gadis yang berada di sampingnya adalah anak dari masa lalunya.
"Apa Om, mengenal orang tuaku?" merasa ada yang aneh. Jadi, Cahaya bertanya.
"Iya, eh maksudnya saya tidak." Jawab Riki dengan bimbang.
"Kalau Om beneran teman mama dan ayah, gue kan bisa ngasih tahu mereka." Ucapan dari bocah ingusan itu membuat Riki menjadi salah tingkah.
"Saya tidak mengenal orang tuamu. Oh ya, daripada kamu terus di sini lebih baik segera kembali. Jangan buat mama kamu akan mengeluarkan taringnya karena lama menunggu," ucap Riki karena ia tahu kalau sosok Dia tidak suka menunggu.
"Astaga." Akhirnya Cahaya pergi tanpa pamit dan ia lupa kalau mamanya memesan kopi, yang berada di minimarket. Kopi cup kesukaannya.
Sedangkan Riki tidak menyangka akan bertemu dengan bocah penggoda yang ternyata, itu adalah anak dari masa lalunya.
Ternyata dunia tak selebar daun pisang, nyatanya ia berusaha melupakan sosok Dia. Akan tetapi, sekarang dirinya dipertemukan dengan anak dari cinta dan masa lalunya.
__ADS_1
Tidak berapa lama Riki keluar dari warung yang cukup ramai akan pengunjung dan segera pergi dari sini.
Sedetik Riki menatap toko roti milik Dia yang diberi nama toko roti 'Cahaya' nama yang ia ambil, dari anak semata wayangnya.