Jodohku Di Tangan Duda Somplak

Jodohku Di Tangan Duda Somplak
116. PETASAN (RIKI CAHAYA PERGI)


__ADS_3

Semua berhamburan karena rupanya Dia rupanya tengah menyalakan petasan khusus anak kecil.


“Sayang apa kau ingin membuat suami kamu terserang setrup. Eh ralat ulang maksudnya setruk!” pekik Adi yang kesal bercampur marah karena ulah sang istri, hingga membuatnya langsung berlari di pojok kursi.


“Itu cara ampuh untuk membuat kalian berhenti bertengkar.” Dia tersenyum puas dengan aksi yang dilakukannya. dengan begitu tidak ada lagi perdebatan antar keduanya.


Sedangkan Riki diam di atas sofa dengan dengan posisi tangan yang menutupi kedua telinganya.


Dia yang melihat adegan seperti itu, merasa ada yang aneh.


“Hye! kenapa?” Dia bertanya pada Riki yang masih berada di atas sofa.


“Kamu keterlaluan wahai calon mertua,” ujar Riki, seketika Dia mendelikkan matanya lebar-lebar. Bisa-bisanya ia di panggil mertua dengan Riki.


“Siapa yang kamu panggil mertua, aku tidak sudih punya menan seperti kamu!” seru Dia.


Daripada kamu terus berada di atas sofa lebih baik kamu segera pergi! tuh lihat anakku sudah menunggu,” sungut Dia ladi.


“Astaga.” Riki menepuk jidatnya karena ia sudah melupakan akan acaranya bersama Cahaya.


“Maaf ya, Ay.” Riki menoleh menatap Cahaya dan meminta maaf pada Cahaya karena sudah melupakan, acara yang sudah di buatnya sendiri.


“Kenapa baru ingat, tadi kemaanaa sja.” Cahaya mencabik kesal dengan Riki yang lupa dengan janji yang dibuatnya sendiri.


“Saya kan sudah meminta maaf,” kata Riki sembari mendekat ke arah Cahaya.


“Jika kalian berdebat lagi, lantas kapan perginya.” Dia menyahut karena sedari tadi tidak kunjung selesai, akan perdebatn yang tidak jelas.


“Iya, kalian in bagaimana ddan lihat sekarang sudah jam berapa!” sungut Adi yang ikut menimpali.


“Ya sudah kalau begitu saya izin membawa Cahaya ya calon Ayah mertua, Ibu mertua.” Riki sengaja menekankan kta-kata mertua dalam kata-katanya.


“Huek.” Dia dan Adi pura-pura mual kala mendengar Riki berkata.

__ADS_1


Akhirnya Riki dan Cahaya pergi juga dan orang tua dari Cahaya memberi izin kepdanya. Setelah itu Riki membukakan pintu moilnya.


Di dalam mobil Cahaya bertanya akan tujuannya ke mana pada Riki.


“Om, kita akan pergi ke mana?” tanya Cahaya dengan tatapan mengarah ke jendela.


“Kita pergi ke restoran, di sana ada banyak temanku yang sudah menunggu.” Jawab Riki yang sedang gugup. Meski begitu dirinya berusaha untuk menghilangkan rasa itu, yang berada di dala dirinya.


“Jadi kita tidak berdua,” ucap Cahaya yang sudah salah sangka. mengira ini adalah acara khusus untuk mereka berdua saja, tanpa ada orang lain.


“Kenapa aku terlalu berharap ya sama om Riki, nyatanya kita tidak sendiri dan ada banyak teman di sana.” Cahaya ergumam dalam hati merutuki kebpdohannya yang terlalu GR.


"Kenapa kamu dari tadi hanya diam," kata Riki yang merasa heran karena sedari tadi Cahaya lebih banyak diam.


"Eum, memangnya aku kenapa?" Cahaya bertanya pada Riki memang ada apa dengan dirinya.


"Kamu itu ditanya kok balik tanya," ujar Riki yang semakin gemas terhadap sosok perempuan yang berada di sampingnya.


"Aku tidak apa-apa. Hanya saja sedikit mengantuk," ucap Cahaya yang terpaksa berbohong, nyatanya hatinya saat ini sedang tidak baik-baik saja dan merasa sia-sia dengan dandanan, yang dilakukan oleh Cahaya.


Tidak membutuhkan waktu lama, kini mereka sudah turun dari mobil dan segera mencari meja. Yang dipenuhi oleh para teman Riki.


"Itu mereka, kita ke sana." Riki berkata sembari tangan yang memegang erat jemari Cahaya.


Cahaya hanya mengangguk da mengikuti langkah Riki kemana ia berjalan.


Sesampainya di meja. Semua mata memandang tidak percaya, kalau Riki benar-benar membawa seorang perempuan.


Tak bisa di pungkiri semua mata memuji takjub. Akan tetapi, mereka juga tidak mengira kalau Riki sedang membawa anak SMK, dalam acara tersebut.


"Apa kamu sedang mengajak kami bercanda," ujar salah satu teman dari Riki.


"Apa aku terlihat sedang mengajak kalian bercanda!" serang balik Riki pada mereka semua.

__ADS_1


"Lantas mengapa kau menyewa perempuan yang usianya sama dengan anakku," ujar temannya yang lain.


"Memangnya ada peraturan jika aku harus membawa orang dewasa, yang seumuran denganku!" terang Riki yang mulai jengah pada mereka semua.


"Kami akan mengadakan pernikahan bulan depan. Jadi, aku harap semua datang." Riki sengaja membungkam mereka dengan pernyataan yang ia katakan barusan dan, bisa jadi itu hanya akal-akalannya saja karena ia masih mencari restu dengan orang tua Cahaya.


"Oh ya, perkenalkan ini Cahaya calon istri dari Riki." Suasana semakin memanas kala Riki memperkenalkan jika Cahaya, adalah calon istrinya.


"Apa kita tidak salah dengar," ucap salah satu dari teman Riki yang masih tidak percaya begitu saja, bisa jadi Riki menyuruh perempuan bayaran hanya untuk dijadikan sebuah ajang pamer.


"Ku harap telinga kalian masih berfungsi. Oh iya, kami akan di sana karena calon istriku tidak nyaman berada di sini karena tatapan bengis dari kalian." Riki sengaja menyindir semua temannya karena apa yang dikatakan adalah benar.


Kelima temannya saling menunduk nyatanya mereka mengakui itu semua, mereka lelaki normal jika melihat daun muda, yang teramat segar dan enak dipandang.


Sedangkan Riki sudah mengajak Cahaya ke meja lain di mana hanya ada mereka berdua saat ini.


"Ay, maaf ya. Sudah membuat kamu tidak nyaman," ucap Riki pada Cahaya.


"Untuk pernikahan aku serius hanya saja … Kamu tahu kan kalau tidak mudah meluluhkan hati orang tua kamu, tapi kamu tenang saja di sini saya akan berusaha untuk mendapatkan restu dari mama dan ayah kamu." Riki berkata lagi dan seketika Cahaya menatap tidak percaya, dengan apa yang baru saja ia dengar.


"Apa yang Om, katakan itu benar." Cahaya ingin mendengar sekali lagi akan kata-kata yang keluar dari mulut Riki.


"Aku mau kamu menjadi ibu dari anak-anakku nanti,"


Cahaya terperangah saat mendengar kalimat tersebut, cinta yang ia perjuangkan ternyata membuahkan hasil. Dengan mata yang berbinar-binar akan rasa haru yang masuk ke dalam relung hati Cahaya, membuatnya tidak bisa berkata-kata.


Cahaya tidak sia-sia terus mengejar cinta pria dewasa yang sekarang tengah memberikan Kotak beludru itu padanya. Kotak kecil berwarna merah serta berbentuk hati. Cahaya meraih pelan isi kotak tersebut.


Tanpa disadari keduanya seseorang yang tengah melihat pemandangan itu, ingin rasanya menghampiri Cahaya dengan lelaki yang membuat Cahaya menolak semua laki-laki, hanya karena pria dewasa itu.


Sedangkan Cahaya dengan perasaan yang dipenuhi oleh kebahagiaan atas cintanya yang terbalas. Tangannya mulai meraih kotak tersebut namun, dengan tiba-tiba seseorang yang sedari tadi melihatnya akhirnya muncul juga di hadapan Cahaya, dengan momen yang tidak tepat.


"Cie-cie … Ada yang sedang bahagia nih," goda Rury pada Cahaya.

__ADS_1


Seketika Cahaya tertunduk karena malu, lantas Riki langsung menutup kotak kecil yang berbentuk hati itu lagi dan memasukkannya ke dalam saku celananya.


__ADS_2