Jodohku Di Tangan Duda Somplak

Jodohku Di Tangan Duda Somplak
BAB 51. Jus beracun( Akhirnya Buka Segel )


__ADS_3

Cinta yang suci tidak akan goyah, walau badai menerpa. Dan biarkan semua ini akan menjadi sejarah, hingga kita menua bersama, dan hanya di pisahkan oleh kematian.


"De, kamu kenapa jadi menakutkan begini." Adi benar-benar tercengang melihat tingkah Dia, yang begitu berani.


Kenapa seakan-akan diriku menjadi seorang gadis yang sedang di perk*sa. Adi membatin membayangkan jika dirinya adalah seorang gadis.


"De... Argh, aku benar-benar tidak tahan."


"Diam lah, Om." Adi diam seketika.


Bagaimana tidak, Adi sekarang ada di bawah kungkungan Dia, jadi Dia juga yang mengambil alih permainan.


Adi sedari tadi hanya bisa pasrah, atas tubuhnya yang berada dalam kekuasan sang istri, tetapi tidak untuk saat ini. Saat ini yang mengambil alih adalah Adi.


Gelora yang menggebu, dan hasrat mereka kian membuncah. Membuat kedua insan di mabuk kenikmatan.


Sekarang giliran Dia, yang berada di kungkungan Adi.


Tangan nakal milik Adi kini sudah berselancar di seluruh tubuh milik istrinya, tanpa ada yang terlewati.


"Om."


Emmmm.. Ahhhhh..


Dia mendesah akibat sentuhan demi sentuhan yang di berikan oleh Adi.


Dengan kilat benda keramat milik Dia, kini sudah terlepas di tubuhnya. Dengan tatapan liarnya Adi sudah tidak sabar untuk segera membuka segel milik Dia.


"Om... Aku gak mau hamil," suara Dia sedikit lemah akibat rangsangan yang dari Adi.


"Tenang lah De, kamu tidak akan hamil! Lagian kamu itu masih bocah, masa iya bocah ngelahirin bocah." Adi berkata dengan tangan yang sudah bermain-main di atas gunung kembar milik Dia.


"Tahan lah sayang, mungkin ini sedikit sakit." Adi meminta Dia, untuk menahan rasa sakit di saat Adi membuka segel nya.


"Oh, ayo lah Om, aku udah enggak tahan." Dia ingin Adi segera melakukan apa yang diinginkannya, karena Dia benar-benar tidak bisa menahan.


Aaaa...


"Sakit, Om." Dia mengerang karena dirinya merasakan sakit yang luar biasa.


"Tahan sayang, sedikit lagi pisang ku masuk."


Benar saja, untuk beberapa saat, mereka berdua menikmati surga dunia. Mereka berdua sama-sama menikmati dan sama-sama mendesah akan kenikmatan yang meraka rengkuh.

__ADS_1


"Sayang, kamu begitu nikmat dan membuatku candu." Adi menciumi seluruh wajah Dia, dengan begitu liar.


Maklum lah thor, kan bini ku udah meninggal lama, jadi wajar kali ya🙈


"Om, aku tidak ta-han." Nafas Dia yang kian memburu, bertanda akan mencapai pada puncak nya. Begitu pula dengan Adi.


Aaaahhh....


Mereka sudah di titik pelepasan, hingga akhirnya Adi ambruk di atas tubuh istrinya.


"Terimakasih sayang, walau kita melakukan dengan sesuatu yang tidak ku ketahui karena apa? tapi aku bahagia." Lalu Adi mencium pucuk kepala Dia.


"Om, aku ingin tidur bisakah untuk tidak menggangguku."


Adi tersenyum dan membiarkan Dia, beristirahat.


Ah, akhirnya saya bisa merasakan membelah semangka. Wow, rasanya begitu sangat nikmat. Nikah udah empat bulan kawinnya barusan, aish lucu sekali nasibku. Eh apa macan tutul akan mengamuk jika mengetahui kalau dirinya sudah buka segel. Adi begitu bahagia, karena dirinya bisa merasakan belah semangka di bulan ke-empat pernikahannya. Untuk Dia jika besok akan marah bodoh amat lah menurutnya.


...----------------...


KEESOKAN PAGINYA.


Aaaaaaaaa...


"Seharunya yang berkata itu, bukan kamu. Tapi aku," ucap Adi.


"Kenapa malah jadi menuduhku, Om."


"Sepertinya kamu perlu di kasih bukti." Ujar Adi.


"Tapi tidak mungkin jika aku yang memp*rko*a, Om." Dia masih tidak mengaku dan berkilah, jika dirinya tak mungkin memperkosa Adi yang memiliki tubuh besar dan tegap.


"Lihat lah, tubuh kamu! apa ada stampelnya." Ujar Adi.


Lalu Dia menyibakkan selimut, untuk melihat apa yamg di katakan Adi baru saja.


Bersih. Tapi, masa iya gue memperkosa om duda? gue gak mabok. Tapi mengapa bisa memperkosanya. Dia tidak menemukan jawabannya kenapa dirinya bisa memperkosa Adi, seperti yang di katakan baru saja.


"Sudah melamun nya, apa ini tidak cukup bukti. Jika kamu benar-benar memperkosaku," ucap Adi. Yang sedang memperlihatkan tubuhnya hampir seluruh nya, di penuhi oleh tanda merah.


"Astaga, jadi benar kalau aku memperkosanya?" gumam Dia, karena sangat terkejut dengan apa yang di lihatnya.


"Menurut kamu?" Adi lalu bangun dan hendak akan turun dari tempat tidurnya.

__ADS_1


"Mengapa malah balik bertanya kepadaku," sungut Dia, bukannya menolak. Akan tetapi Adi malah menuruti Dia, yang telah memp*rk*sanya.


"Hye, kenapa kamu menyalahkan suami mu ini! memangnya aku banci jika di rayu enggak nafsu." Lalu Adi meninggalkan Dia yang masih di atas kasur dan masih berbalut selimut.


Adi berjalan dengan bersenandung menyanyikan lagu Almarhumah julia peres, belah duren, tapi dengan liriknya sendiri.


Makan duren di malam hari, aduh sayang enak sekali.


Di belah sayang di belah.


Enak sayang di belah.


Jangan lupa mengunci pintu, nanti ada orang mengintip.


Pelan-pelan di belah, enak sayang silahkan di coba.


Jika di dalam kamar mandi Adi sedang bersenandung, tapi tidak dengan Dia. Seluruh tubuhnya remuk semua, termasuk di area sensitifnya terasa ngilu. Sungguh rasanya seperti permen nano-nano.


Badanku rasanya remuk. Keluh nya dalam batin.


Sedangkan Adi tak henti-hentinya bernyanyi, karena terlalu bahagianya.


"Woi, bisa diam gak!" gertak Dia, yang merasa kesal. Bagaimana mungkin, saat tubuhnya merasa remuk. Tetapi Adi malah bernyanyi dan itu terdengar nyaring.


Saat Dia berteriak, kebetulan Adi sudah keluar dari kamar mandi.


"Tuh kan, macan tutul bangun. Bodoh amat lah yang penting sekarang hatiku berbunga-bunga," Adi berkata lalu menghampiri sang istri.


"Om, sakit." Dia meringis kesakitan di area sensitifnya.


"Baiklah, Om suami gendong untuk ke kamar mandi ya."


Namun itu tak membuat mereka akur, nyatanya masih berdebat soal semalam.


Jika pagi hari semua orang akan sibuk memasak, beberes, dan berangkat bekerja. Tapi tidak dengan kedua anak manusia tersebut. Mereka masih berdebat soal Dia yang sudah goal, dan Dia juga masih tidak percaya kalau dirinya sudah me*perk*sa Adi, meski ada banyak tanda kepemilikan di seluruh tubuh Adi, akibat ulah Dia yang begitu ganas dan liar.


...----------------...


Dan perdebatan berlangsung hingga pukul tujuh pagi. Sedangkan di sisi lain, Bu Rosma termenung memikirkan rencana yang sudah di susunnya dengan besannya, Mak Ita.


"Apa berhasil, atau kah gagal. Hemm, semoga saja berhasil dengan rencana ini." Gumam Bu Rosma yang berada di taman belakang sambil menikmati secangkir teh.


"Uh, jadi enggak sabar buat gendong cucu." Ujar nya pada dirinya sendiri.

__ADS_1


"Pasti lucu-lucu anaknya, semoga mereka meminumnya dan setelah itu, kikuk-kikuk deh." Bu Rosma masih berbicara sendiri, sambil membayangkan mereka, dengan senyuman yang mengembang.


__ADS_2