Jodohku Di Tangan Duda Somplak

Jodohku Di Tangan Duda Somplak
BAB 21. Kejutan Di Hari Ulang Tahun


__ADS_3

"Oh bagus ya, ternyata semua ini ulah kalian berdua." Gertak Dia.


"Aih, gak usah lebay deh."


"Mak Abang, bikin orang mati berdiri saja, pakai acara kek gini," kesal Dia.?


Tak.


"Kenapa malah jitak kepalaku sih."


"Di mana-mana itu kalau mati ya terbaring markonah, kayak nih laki."


Salah lagi kan elu. Bakal kalah dah kamu kalau ngelawan Emak-emak.


"Mak, anak orang pingsan."


"Bang bantuin ngapa sih, ini semua gara-gara elu tau gak,"


"Lha, elu kok nyalain gue sih! Salain ini orang ngapa juga jadi laki cemen, orang gue pegang ini selimut eh dia nya udah main pingsan saja." Sedari tadi Edo terus menyerocos karena memang ini semua bukan salahnya, Edo sih mikirnya gitu ya.


"Mak, Mak habis pipis kagak cebok ya."


"Eh buset itu mulut sekata-kata kalau ngomong." geram Mak Ita, yang di tuduh kagak cebok sama Dia, bisa-bisa nya ngatain orang tua kek gitu.


"Pasti ini Abang ya, ayo ngaku." kini tatapan Dia beralih ke Abang nya.


"Eh durhaka lu ya ngatain gue, emang gue sejorok itu apa, sorry ya gue mah bersihan." Kilah Abangnya yang menolak di tuduh.


"Kalau gak ada yang ngaku terus ini baunya siapa dong." keluh Dia sambil menutup hidungnya karena aroma pesing yang menyengat menusuk hidungnya.


"Jangan-jangan!" tiga serangkai saling berkata dengan ucapan yang sama, dan mata mereka saling memandang, lalu pandangannya tertuju di arah celana yang di kenakan Adi.


"Nah, bener kan dugaan gue." kata Edo.


"Yang ngompol ini orang, tadi saja Emak yang di tuduh." Pungkas Mak Ita.


"Dasar udah berumur masih saja ngompol." Ucap Dia.


"Ya udah deh Bang, angkat sono! Berat." Dia lekas menyuruh Abangnya untuk membantu mengangkat tubuh Adi, dan di letakkan di karpet.


"Emang ini siapa sih De, yang kamu bawa pulang," ucap Mak Ita yang mempertanyakan tentang lelaki itu.


"Yang pasti orang."

__ADS_1


Dia heran, mengapa Mak nya gak marah saat dirinya pulang selarut ini, dan gak bikin heboh karena dirinya juga membawa serta laki-laki yang terbaring tak sadarkan diri.


Mengapa semua orang aneh ya, dari mulai ngerjain gue, dan yang berubah jadi singa betina, De, terus memikirkan semua ini. Karena baginya ini adalah kejadian kali pertama pulang larut, dan tak mendapat serangan dari singa betina.


tiba-tiba saja.


"Selamat ulang tahun ya De,"


"Emak, kirain lupa. Huhuhu." Dia menangis terharu karena mendapat suprise dari keluarga tercintanya.


"Met ultah ya adik gue yang songong, semakin bertambahnya usia elu semakin membuat elu dewasa." Abangnya pun memberi ucapan pada Dia, lalu merangkulnya dengan penuh kasih sayang.


"Makasih Abangnya yang jones."


"Buset, emang itu mulut minta lakban kali ya." Edo kesal bisa-bisanya dirinya di katai adiknya dengan kata jones.


"Mak makasih ya buat kejutannya, meski sedikit De, agak kesal karena di kerjain."


"Sama-sama De,"


"Kamu masih berhutang penjelasan kepada kami, tentang laki-laki ini, dan kamu gak lagi jalan sama suami orang kan."


"Ya emang dia suami orang mak, tapi bininya ninggalin dia,"


"Ya bisa, bininya kagak bisa balik lagi, jadi De, gak ngerusak dong." Dengan PD nya Dia berucap.


"Eh, balikin ke bininya emang kamu mau jadi pelakor ya, lagian Mak gak ngajarin kamu buat jadi perebut suami orang ya!" Mak Ita baru saja jinak, eh sekarang tanduknya keluar gara-gara Dia yang di sebut pelakor oleh keluarganya.


"Mak, bininya udah mati, jadi De gak ngerebut." Sungut De.


"Astaga Dia!"


"Jangan-jangan bininya mati karena elu jadi orang ketiga."


"Ini juga woi bangun." Setelah memarai Dia, Edo berteriak pada lelaki yang sedang tak sadarkan diri.


Kenapa urusannya jadi ke pelakor sih, masa ia gue ngerebut suami orang yang sudah mati. Dia terus saja berpikir, dan tak peduli dengan ketiga manusia itu.


Kan bener, dulunya suami orang, kalau istrinya meninggal jadi itu orang gak ada yang punya dong ya, tapi kok Emak bilang gue ngambil suami orang. Ini gue yang bodoh apa gue yang gak ngerti sama kosa kata Emak.


Di saat Dia berpikir, ternyata tanpa di sadari ketiga orang itu memandangi Dia yang asik dengan dunia khayalannya.


"Kenapa itu anak?" tanya Mak Ita pada Edo.

__ADS_1


"Enggak tau Mak." Jawab Edo.


Sedang Adi baru saja sadar, dan dirinya kini sedang menahan sesuatu, yang jelas hanya dirinya yang tahu.


Tak berapa lama kemudian, Dia menoleh, dan melihat jika bosnya sudah sadar.


"Uda Pak tidurnya."


Dia menatap nyalang kepada Adi, dan Adi pun menunduk seakan dirinya sudah kehilangan muka.


Kenapa gue jadi bayi sih, bisa-bisa ngompol, kan malu di lihatin mereka, oh tuhan ingin rasanya saya mencelupkan kepala saya di wastafel. Adi sedari tadi diam karena di pandang terus menerus oleh Dia dan keluarganya.


"Selain bodoh Bapak juga jorok ya ternyata," umpat Dia.


"Kenapa sih kamu selalu saja berkata jika saya bodoh!"


"Pada dasarnya memang seperti itu."


"Mana ada gitu," Adi mencoba protes dan sangat tak terima karena dirinya merasa di jatuhkan dengan keberadaan keluarga Dia di sampingnya.


Dan Mak Ita beserta Edo, hanya diam mereka mencoba menjadi penonton yang baik, jadi. Mereka diam untuk sementara.


"Pertama, Bapak baca doa salah. Kedua, Bapak tau yang Bapak baca! Bukan doa pengusir setan tapi..."


Mak Ita memotong ucapan Dia.


"Emang apa tadi yang di baca De, kok Mak jadi penasaran."


"Tau gak yang di baca apa! Doa mau makan dan mau tidur Mak."


Mereka berdua akhirnya terpingkal-pingkal karena merasa Adi yang teramat kocak. Sedang Adi hanya diam dengan muka yang tak bisa di artikan lagi, dan sebisanya ia menahan malu dan semalu-malunya.


Awas kau bocah, lihat apa yang bakal saya lakukan nanti, batin Adi.


"Dan sekarang Bapak ngompol, sungguh menjijikkan." Sambil bergidik ngeri Dia membayangkan.


"Lagian ini salah mereka De, bukan salah saya," bela Adi pada dirinya sendiri.


"Eh berani kamu ya nyalahin kami, kamu saja penakut gini doang kan."


Hah.


Huaaa.. Adi berteriak histeris seakan akan mereka tengah menyiksa Adi dengan keadaan yang sudah tak berdaya, sedang Dia dan Mak nya tertawa sampai terguling-guling saat melihat reaksi Adi, yang di jali oleh Edo.

__ADS_1


Muka Adi memerah menahan takut, bisa-bisanya dirinya menjadi lelaki penakut.


__ADS_2