Jodohku Di Tangan Duda Somplak

Jodohku Di Tangan Duda Somplak
109. DI BUAT PUSING OLEH (CAHAYA)


__ADS_3

Semoga gue dapat lelaki seperti ayah," gumam Cahaya dalam hati.


"By, jika kamu ingin makan cepat lah duduk. Aku akan segera masak dengan begitu makanan akan segera tersaji," ucap Dia pada suaminya.


"Oh, baiklah istriku tercinta. Suamimu ini akan setia menunggu walau makanan itu pun jadinya tahun depan," jawab Adi dengan melontarkan kata-kata yang membuat melayang.


Cuih.


"Dasar orang tua, gak ada malu-malunya." Cahaya menggerutu dan itu membuat ayah dan mamanya tertawa karena, menurutnya itu sangat lucu. Apalagi melihat sang anak kesal.


"Hye bocah, nanti kalau kamu sudah menjadi orang dewasa maka. Begini lebih baik," ucap Adi pada sang anak.


"Iyain aja dah." Cahaya bergumam seraya mendekati sang mama untuk ikut membantu memasak.


Sedangkan Adi sudah keluar dan menuju ke ruang TV dan menikmati secangkir kopi.


Di dapur kini hanya ada Cahaya dan Dia yang sedang berbagi tugas, selain ingin membantu sang mama memasak. Cahaya juga ingin curhat tentang sosok lelaki dewasa pada Dia. Cahaya yakin kalau mamanya akan menjawab karena sang mama pernah merasakan, menjadi dirinya yang disukai oleh pria dewasa, namun itu berbalik kepadanya.


Jika mamanya dulu di kejar-kejar oleh ayahnya, sedangkan Cahaya mengejar cinta pia dewasa tersebut.


"Ma, boleh tanya." Seketika Dia menoleh.


"Mau tanya apa." Jawab sang mama.


"Dulu waktu Mama muda, bagaimana sama ayah?" tanya Cahaya pada Dia.


"Ayah kamu cinta pertama Mama dan, cinta terakhir Mama. Dulu Mama tidak pernah menyangka akan menikah dengan ayahmu karena memang tidak ada rasa cinta, yang tumbuh di sini." Jawab Dia sembari meletakkan satu jari di dadanya.


"Lantas kenapa Mama bisa sampai sekara?" Cahaya semakin antusias untuk bertanya soal mamanya sewaktu muda, yang belum ia dengar.


"Cinta datang seiring berjalannya waktu, akhirnya tumbuh dan mekar sampai sekarang." Jawab Dia lagi.


"Ayah dulu kan duda, yang pasti usia kalian berbeda kan." Cahaya semakin bersemangat.


"Ayah dulu usianya 36, sedangkan mama masi 18."


"Kenapa kau mirip seperti wartawan saja, sudah lah kita lanjut memasak." Dia memilih mengakhiri daripada nanti urusannya semakin panjang.


"Yah." Cahaya tertunduk lesu, guratan kebahagiaan kini berubah menjadi kesal karena, sang mama tidak melanjutkan ceritanya.

__ADS_1


Akhirnya mereka memasak untuk makan malam karena hari pun sudah terlihat gelap dan awan putih mulai berwarna kelabu.


Jam dinding pun menunjukkan pukul tujuh malam. Di meja makan mereka menikmati makan malam dengan menu sederhana namun terlihat nikmat.


"Ay, rencananya kamu mau melanjutkan kuliah di mana?" tanya sang ayah pada Cahaya.


"Belum tahu Yah, soalnya belum terpikirkan." Jawab Cahaya dengan wajah seperti seakan-akan menolak untuk melanjutkan, ke perguruan tinggi.


"Kamu gimana sih, masa iya belum ada rencana mau ke fakultas mana?" sang mama juga ikut menimpali apa yang sedang dibicarakan oleh anak dan suaminya.


"Maunya sih pengen nikah."


Uhuk.


Uhuk.


Seketika Dia dan Adi tersedak nasi yang ada di dalam mulutnya, lalu kedua orang tua itu menatap sang putri dengan tatapan nyalang.


"Apa kau habis terjungkal lalu yang menatap aspal kepalamu dulu?"


"Habis kepentok lelaki tampan, Ma." Jawab Cahaya pada sang mama.


Uhuk.


Uhuk.


"Sepertinya tingkat khayalan anak kamu, sudah bertambah bertingkat sayang." Adi berbicara pada sang istri.


"Kenapa jadi membawa aku,By!" sungut Dia tidak terima karena suaminya telah mengatakan, kalau ia juga seorang tukang halu.


"Memang Mama suka berkhayal ya, Yah?" tanya Cahaya pada sang ayah karena ia baru tahu kalau ternyata, mamanya juga tukang berkhayal.


"Kalau kamu mendengarkan ucapan ayahmu, itu sama saja dengan ayahmu yang sama-sama suka halusinasi."


"Kenapa jadi begitu, suamimu ini tidak pernah seperti itu yah." Adi menyangkal tuduhan yang diberikan oleh Dia.


Suasana makan malam jadi berantakan hanya karena Cahaya tidak mau melanjutkan sekolah. Ia ingin menikah muda dengan lelaki yang beberapa kali ia temui akibat hutang, yang harus dibayarkan.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸

__ADS_1


Seperti biasa esok pagi rumah yang oleh Cahaya akan heboh, jika pagi menjelang karena anak dan suami terus memanggil.


"Sayang, mana kopiku!" teriak Adi yang sedang di halaman depan rumah.


"Iya sebentar." Dia menyahuti dari dalam.


"Mama, pasta giginya habis!" suara Cahaya dari atas tangga karena pada saat menggosok gigi, pasta giginya habis. Jadilah ia berteriak memanggil sang mama.


"Apa kamu tidak mempunyai kaki, sehingga tidak bisa turun untuk mengambilnya!" seru Dia yang dihebohkan dengan suami serta anaknya.


Tanpa menjawab Cahaya turun ke dapur untuk mengambil apa yang dibutuhkannya, meski dengan keadaan malas karena ia pun sangat membutuhkan benda itu.


"Sayang sudah belum kopiku!" kini ganti suaminya yang berteriak karena kopi yang ia minta belum disediakan.


"Kau sangat tidak sabaran, By. Ingin rasanya aku menelanmu!" bentak Dia dengan wajah yang sudah menahan sesuatu.


"Maaf, sayang." Jawab Adi dengan senyuman yang di buat-buat.


Akhirnya pukul delapan pagi. Semua orang pergi dengan sendirinya untuk memulai aktivitas. Sekarang giliran Dia yang bersiap-siap untuk berangkat ke restorannya dan sekalian melihat tokonya.


Dia sedikit kesusahan mengurusi bisnisnya karena Indah sudah tidak lagi bersamanya. Mereka berdua pindah dan memulai merintis usaha di rumah mendiang orang tuanya, sebelum orang tuanya meninggal. Rumah yang berada di sebelah kediaman Adi dirawat oleh tukang kebun, yang sengaja ia cari guna untuk menjaga.


Setelah sama-sama berumah tangga kehidupan yang dulu seperti apa, kini berubah drastis.


Sekitar setengah jam yang lalu, Dia baru sampai di restorannya dan kini sudah berada di ruangannya untuk mengecek pemasukan bulanan. Serta mengerjakan gaji untuk semua karyawan karena dua hari lagi akan masuk awal bulan.


Merasa kantuk yang terus melanda, Dia mencoba keluar untuk membuat kopi agar tubuhnya terlihat fresh.


"Bu, ada yang bisa kami bantu?" tanya pegawai yang berada di dapur.


"Saya mau kopi," ucap Dia.


"Saya akan membuatkannya," ujar pegawai itu lagi.


"Boleh, nanti antarkan ke ruangan saya. Terimakasih sebelumnya." Setelah berkata Dia langsung meninggalkan dapur dan kembali, ke ruangannya karena pekerjaannya masih menumpuk.


"Sama-sama, Bu." Jawab pegawai itu dan sekarang, ia akan membuatkannya karena tidak mau membuat bosnya menunggu. Semua karyawan tahu kalau bosnya tidak suka menunggu lama. Jadi pegawai itu pun buru-buru meracik kopi.


Dia yang sudah berada di ambang pintu memutuskan untuk melihat keadaan di luar. Jadi ia memutuskan untuk tidak masuk ke dalam ruangannya, namun dirinya terus berjalan ke arah luar. Dia mengernyitkan dahinya karena seperti melihat sosok yang teramat ia kenal.

__ADS_1


Untuk menyakinkan penglihatannya, Dia berjalan lagi dan memastikan dan ternyata dugaannya benar.


__ADS_2