Jodohku Di Tangan Duda Somplak

Jodohku Di Tangan Duda Somplak
114. RIKI BERATAMU KE RUMAH CAHAYA


__ADS_3

Sesampainya Cahya di dapur, tidak sengaja melihat orang tuanya sedang bercengkrama. Terlihat sangat asik jadi ia pun ikut bergabung dengan kedua orang tuanya.


“Duh yang pagi-pagi sudah nostalgia bikin adem otak nih,” ucap Cahaya bercanda pada mereka berdua.


“Eh anak Ayah sudah bangun.” Adi menimpali ucapan sang anak sesekali memperlihatkan senyuman.


“Kalau tidak segera bangun yang ada nanti aku dipecat jadi anak mama dong.” Jawab Cahaya dengan diiringi sebuah tawa.


Akhirnya Dia dan Adi tertawa karena itu sebuah ancaman yang selalu diberikan oleh Dia pada Cahaya.


“Kalau ada yang lebih baik dari kamu kenapa tidak,” sahut Dia pada sang putri.


“Aku gak mau punya mama yang lain, aku maunya cuma mama yang jadi wanita yang selalu ku banggakan.” Ucapan Cahaya membuat Adi dan Dia sangat terharu kala mendengar penuturan dari sang putri.


“Ya sudah minum dulu mumpung susunya masih hangat,” ujar Dia pada Cahaya.


“Baik Ma, terimakasih.” Jawab Cahaya, lalu dirinya duduk di depan sang ayah sembari menikmati segelas susu, yang dibuat oleh Dia.


Akhirnya pagi yang cerah ini dipenuhi oleh canda dan tawa.


“Kalau boleh jujur aku sangat kesepian ma, yah.” Dalam batin Cahaya merasa sangat kesepian karena dirinya hanya anak tunggal. Cahaya sangat menginginkan saudara agar hari-harinya lebih berwarna.


Tapi itu hanya ada dalam angan-angan Cahaya yang tak pernah bisa terwujud karena saat mendengar ayahnya bercerita tentang dirinya waktu dilahirkan. Membuat keinginannya hanya bisa di tahannya.


“Sayang kamu ngelamunin apa?” tanya Adi pada sang anak.


“Tidak sedang melamunkan apa-apa ko,Yah.” Jawab Cahaya.


“Ya sudah kalau begitu,” ucap Adi. Lalu dirinya melanjutkan meminum kopi yang tinggal separuh itu.


Sedangkan di tempat lain.


Riki yang berada di kamar rasanya enggan untuk beranjak walau itu hanya sekedar untuk ke kamar mandi.


Riki terpaksa harus mengajak Cahaya untuk acara nanti sore. Sejujurnya ia tidak tega untuk menyeret Cahaya dalam masalah pribadinya, tapi … Dirinya terpaksa melakukan itu semua demi namanya agar tidak jatuh.


Yah, keluarganya serta temannya-temannya selalu mengolok-olok dirinya yang mengatakan tidak normal, maka dari itu dirinya membuktikannya kalau ia nasi sangat-sangat normal.


“Ay, maaf ya sudah membuat kamu ikut terseret ke dalam masalahku,” gumam Riki yang masih tetap berada di atas kasur.


Dilihatnya berulang kali jam yang bertengger di dinding sudah menunjukkan di angka delapan pagi. Akhirnya Riki bangun juga.


Tidak beberapa lama kemudian Riki sudah bersih-bersih dan sekarang dirinya akan keluar, untuk mencari sarapan karena ia sudah sangat lapar.

__ADS_1


Mungkin sekitar setengah jam, dirinya sudah berada dalam warung namun siapa sangka jika dirinya bertemu dengan temannya.


“Bagaimana apa nanti kamu sudah menemukan apa yang kami bicarakan semalam?” tanya teman Riki.


“Kamu tenang saja karena aku memang lelaki normal.” Jawab Riki dengan nada malas untuk menyahuti.


“Bagus dong kalau begitu, itu tandanya kamu masih normal. Eh tapi belum tentu sih, kalau kamu belum berani untuk menikahinya.” Dengan nada mengejek teman Riki berkata.


“Kamu sabar saja, Nanti juga undangannya sampai di rumah kamu.” Riki menyahuti tidak suka.


“Ya sudah kalau begitu selamat menikmati sarapan pagi kamu,” ucap teman Riki.


“Tentu.” Jawab Riki singkat.


Setelah kepergian temannya, Riki langsung melahap habis nasi yang berada di piringnya.


“Baik akan aku tunjukan jika aku normal dan dengan wanita,” umpat Riki yang sangat kesal pada semua orang.


SORE HARI.


Waktu yang ditunggu-tunggu sudah datang, setelah rapi dan dirasa penampilannya sudah sempurna. Riki langsung menyalakan mobil dan segera menjemput Cahya di kediamannya.


“Semoga De mengizinkan anaknya kubawa,” gumam Riki yang sekarang berada di dalam mobil.


Mungkin sekitar satu jam akhirnya Riki sampai juga di rumah orang tua Cahaya. Riki segera turun dari mobil dan segera mengetuk pintu karena pagar rumah suda terbuka.


Sedikit grogi namun ia juga harus berusa untuk tetap tenang karena ini kali pertama, bagi seorang Riki bertamu ke rumah seorang wanita. Apalagi ini adalah rumah wanita dalam masa lalunya.


Dari dalam rumah tidak ada yang menyahut tapi … Terdengar suara pintu dibuka.


Ceklek.


“Kamu!” Dia sangat terkejut yang tengah mendapati sosok yang bertamu saat ini.


Mata Dia seakan-akan ingin melompat dari tempatnya karena sangat terkejut, dengan apa yang dilihatnya sekarang.


“Aku ke sini untuk menjemput Cahaya,” ujar Riki dengan sedikit rasa yang entah karena hanya dia saja, yang bisa merasakan.


“Apa kalian sudah membuat janji?” tanya Dia pada Riki karena Cahaya tidak cerita sama sekali kepadanya.


“Ku kira anak kamu sudah cerita soal aku yang ingin menjemput,” ujar Riki pada Dia selaku orang tua dari Cahaya.


“Memangnya kalian mau ke mana?” tanya Dia lagi yang sedikit penasaran.

__ADS_1


“Mau ajak dia makan saja, apa kamu akan mengizinkannya?”


“Kalau tidak memangnya kenapa!” seru Dia yang memang masih ragu untuk anaknya mengizinkan, keluar dengan lelaki yang berada di depannya saat ini.


“Oh ayolah De, apa kamu tega membiarkan aku yang terus membujang.” Riki harus berpura-pura mengeluarkan air mata buaya agar Dia, mengizinkannya.


“Itu kan bukan urusanku,” sungut Dia dengan tangan yang disilangkan di dada.


“Memangnya kamu tidak kasihan denganku yang dibilang tidak normal!”


“Tinggal bilang kalau kamu normal kan beres,” Dia menyahuti dengan nada santai.


“Ayolah demi pertemanan kita.” dengan suara memelas Riki berkata.


Sebetulnya Dia tidak tega pada Riki. Akan tetapi, Dia masih takut untuk memberikan celah pada kedua, mereka baru kenal beberapa bulan jadi belum sepenuh nya tau akan sifat masing-masing.


Cahaya belum pulang, kalau kamu mau menunggu silahkan. Kalau mau pulang ya monggo,” ucap Dia.


“Memangnya ke mana anak kamu?” tanya Riki, bukannya mereka sudah janjian jam empat lantas mengapa, di saat dirinya menjemput malah tidak ada di rumah.


“Sepertinya ke minimarket karena, Cahaya tadi bilang kalau ada yang ingin dibelinya.” Jawab Dia.


“Baiklah aku akan menunggunya kalau begitu,” ujar Riki.


“Terserah.” Setelah itu Dia meninggalkan Riki yang berada di ruang tamu.


Sebetulnya Dia berbohong mengenai Cahaya yang pergi, nyatanya sekarang berada dalam kamar sedang bersiap-siap untuk pergi dengan om Riki, lelaki yang sangat di puja-puja.


Dirasa sudah sempurna akan tampilannya ia pun langsung keluar dari kamar dan pada saat dirinya turun, terlihat mamanya sedang berjalan dan menuju ruang TV.


“Ma,” sapa Cahaya.


Seketika Dia yang melihat penampilan anaknya begitu sangat terkejut.


“Kenapa tidak bilang pada Mama kalau sedang ada janji,” ujar Dia.


“Lupa,Ma.” Jawab Cahaya cengengesan.


“Ya sudah itu di tunggu.” Dia berkata datar dan setelah itu tidak ada percakapan lagi, setelah itu Cahaya keluar untuk menemui om Riki.


Sesampainya Cahaya di ruang tamu. Tanpa sengaja mata mereka saling beradu pandang.


DEG

__ADS_1


“Kenapa ini, kenapa dengan jantungku,”


__ADS_2