
Acara pernikahan mereka semakin dekat, itu tandanya Cahaya harus benar-benar sudah mempersiapkan dalam segala hal, terutama hati dan jiwanya.
"Ay, gak kerasa elu bakal nikah dan ninggalin gue." Rury pun berkata seakan dirinya tidak rela dengan Cahaya yang tiba-tiba saja, akan menjadi istri orang.
"Elu tenang saja, meski gue jadi istri orang. Gue gak bakal ngelupain persahabatan kita," ucap Cahaya yang menenangkan Rury yang sedang bersedih, akibat dirinya yang akan menikah.
"Kamu bisa janji," kata Rury dengan wajah serta tatapan sendunya.
"Iya, elu tenang saja."
Stelah itu mereka berbaring di atas tempat tidur dengan posisi tangan sebagai bantalan. Mereka menatap langit-langit atap dengan bayangan masing-masing.
Entah berapa lama mereka berdua larut dalam bayangan mereka sendiri, hingga suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya.
"Ay, siapa itu yang ngetuk pintu." Rury berkata sembari membenarkan lengannya.
"Bentar gue buka ya," ujar Cahaya dan setelah itu Cahaya bangun untuk membuka pintu.
Ceklek.
"Mama!"
Ternyata yang mengetuk pintu adalah Dia, mama dari Cahaya.
"Apa kalian tidak merasakan lapar sampai-sampai terus menikmati tempat tidur," gerutu Dia.
"Memangnya itu tempat tidur itu makanan apa!" sahut Cahaya dengan kesal.
"Terus kenapa tidak keluar untuk makan siang," ucap sang mama.
"Iya bentar lagi makan kok." Jawab Cahaya dengan wajah datar.
"Ya sudah buruan turun karena Mama sebentar lagi akan ke restoran," kata Dia pada sang anak.
"Iya Ma, ini kita mau turun." Jawab Cahaya lalu menutup pintu itu lagi dan memanggil Rury. Untuk makan karena sekarang sudah pukul sembilan pagi menjelang siang.
"Ry, yuk turun sarapan daripada mama terus mengomel." Cahaya pun membangunkan Rury untuk segera bangun dan makan.
"Iya lima menit lagi," tawar Rury pada Cahaya.
__ADS_1
"Tidak ada tawar menawar. Sekarang elu buruan bangun," sergah Cahaya pada Rury.
"Iya-iya."
Akhirnya mereka pun bangun dan segera keluar dari kamar dan akan turun, untuk menuju dapur.
Sesampainya mereka berada di dapur. Masing masing mengambil piring untuk mereka makan. Terlihat lauk yang sangat menggugah selera, akhirnya dengan cekatan Rury dan Cahaya mengambil nasi dan lauk lalu, di letakkan di piring.
"Ay, mungkin kelak kita gak bisa makan bareng seperti ini." Mendengar penuturan dari Rury, membuat hati Cahaya sedikit ngilu.
Cahaya menatap sendu ke arah Rury, sendok yang sebelumnya terisi kini di letakkan lagi.
Cahaya masih memandangi lekat ke arah Rury, ia tidak dapat menjawab apa yang di katakan oleh Rury. Diam adalah pilihan yang tepat.
"Ah, sudah lah. Itu hanya gurauan jangan berlebihan untuk berpikir," ujar Rury mengubah suana yang tadinya hening kini ia coba hangatkan.
Selera makan Cahaya tiba-tiba hilang. Dari yang tadinya lapar kini berubah menjadi kenyang. Ia hanya berpikir kenapa dirinya memilih menikah muda. Nyatanya ia juga tidak tahu dengan dirinya sendirinya. Baru lulus dari sekolah dan sekarang usianya masih terlalu muda untuk urusan pernikahan. Akan tetapi, mengapa dirinya bisa mengambil keputusan dengan menikahi pria yang sudah berumur.
"Kita ke taman saja," ucap Cahaya datar.
"Oke." Jawab Rury dengan jemari yang membentuk huruf O.
Di rumah hanya ada Rury dan Cahaya. Sedangkan Dia dan Adi sudah berangkat ke tempat kerja masing-masing.
Sedangkan di lain tempat. Riki duduk termenung seorang diri. Di meja ruang kerjanya, dengan jemari berada di dagu. Ia sedang memikirkan akan pernikahannya yang akan sebentar lagi di laksanakan.
Perasaan takut tiba-tiba menyerbu relung hatinya. Riki sebentar lagi akan menikahi gadis yang baru saja lulus SMK. Sebenarnya bukan masalah pernikahannya yang ada dalam pikirannya, melainkan usia yang terpaut sangat jauh. Membuat dirinya takut jika suatu saat Cahaya akan berpaling darinya.
Dua tahun atau bisa lima tahun kemudian. Riki akan semakin menua, sedangkan Cahaya tumbuh menjadi perempuan yang sangat cantik, itu mengapa perasaan takut selalu menghantui dan selalu hinggap di pikirannya.
"Ay, apa kamu akan selalu setia padaku. Aku takut, takut jika kamu berpaling dariku dan mencari sosok yang lebih dari aku." Dengan memainkan pulpen ia berkata lirih.
"Apa kamu bisa menjaga hatimu hanya untukku saja, Ay. Aku harap kamu bisa dan tak pernah mendua di saat rambutku yang mulai beruban. Lalu kulit ini perlahan menjadi keriput," ucap Riki lagi karena ia sangat takut dan teramat takut akan hal itu.
Saat Riki sedang memikirkan akan nasib pernikahannya untuk ke depannya. Ia dikagetkan dengan suara pintu yang terbuka dengan sangat keras.
BRAKH.
"Apa kau sudah gila! Sampai-sampai membuka pintu dengan kasar dan apa kau juga, tidak bisa mengetuk pintu terlebih dahulu jika ingin masuk." Riki mendengus kesal dengan sang asisten karena ia tidak mengetuk pintu terlebih dulu.
__ADS_1
"Kau saja yang kebanyakan ngelamun, awas kau jika berlebihan karena itu akan membuatmu sedikit gila!" suara ketus dari asistennya yang bernama Rudi. Membuyarkan sebuah bayangan yang selalu menghantui Riki.
"Apa kau berharap jika aku akab gila!" seru Riki dengan nada berdecih akan ucapan Rudi.
"Jika kau terus membayangkan hal-hal yang tidak berguna, tanpa aku doakan kamu pun akan menjadi gila." Rudi menyerang balik ucapan Riki yang tidak terima.
Riki diam tidak menjawab, namun ia menyimpan kekesalannya pada Rudi hingga.
Pakh.
"Dasar kau benar-benar sudah gila," sergah Rudi yang tengah mendapat lemparan pulpen dan itu, tepat mengenai jidat Rudi
Dengan mengusap jidatnya yang terasa perih ia mendumal karena sakit.
"Jika kau tak ada perlu, mending kamu keluar dari ruangan ku. Agar mataku bebas dari bakteri," ucap Riki dengan membuang muka.
"Apa menurutmu aku ini sebuah kuman! Sampai-sampai kau berkata seperti itu,",sungut Rudi mencabik kesal.
"Jika kau seperti itu, terlihat layaknya seorang gadis yang sedang merajuk." Ucapan Riki membuat Rudi bertambah kesal.
Ck ... Ck.
"Dasar sialan," umpat Rudi pada Riki, lalu Rudi pun duduk di depan Riki.
"Kenapa?" Rudi tahu jika Riki sedang dilema akibat mendekati acara pernikahannya.
"Apa pernikahan yang belum terlaksana bisa di batalkan...."
BRAKH.
"Apa kau sudah gila! Otakmu di mana sampai akan membatalkan acara pernikahan yang akan di gelar sebentar lagi," Rudi marah dan menggebrak meja. Ia tahu kalau ada kekuatiran tersendiri dari dalam diri Riki. Namun, bukan berarti bisa semaunya sampai harus membatalkan segalanya yang sudah, di siapkan jauh sebelumnya. Hanya karena ia takut jika Cahaya akan meninggalkannya di saat usianya bertambah tua. Membuat Riki menyerah sebelum menjalaninya.
"A-aku takut." Hanya itu yang di sampaikan oleh Riki.
"Kau pun belum menjalaninya mengapa bisa menyerah terlebih dulu! Kau itu lelaki apa bencong sampai pikiran tidak jelas kau timbun," Rudi benar marah dan tidak mengerti akan jalan pikiran Riki. Sampai segitunya ia berpikir.
Terdengar helaan nafas berat di telinga Rudi.
"Jika kau belum siap mengapa harus menjajikan kebahagian," tutur Rudi dan kini suara itu terdengar rendah dan tidak meninggi seperti saat tadi. Rudi berusaha meredam amarahnya karena ia tidak ingin Riki semakin bersedih. Ia pun mengerti akan ketakutan yang di alami oleh temannya namun ia berusaha untuk menyakinkan semuanya dan akan, berjalan baik-baik saja tanpa ada rintangan yang akan mengganggunya nanti.
__ADS_1
Sesaat mata Riki menatap nanar ke arah Rudi dan yang di tatap pun sepertinya tahu dan mencoba menenangkannya.
"Yakin adalah kunci utama."