
"Dasar suami kagak ada akhlak kamu ya," sungut Dia dengan wajah merah padam, akibat di buat kesal oleh suami dewasa itu.
"Habisnya kamu tidur mirip kek orang mati saja." Ujar Adi masih dengan sisa-sisa tawanya sambil memegang perut, karena dirinya berhasil mengerjai istrinya.
"Apa gak ada cara lain buat bangunin, sampai-sampai mukaku harus yang jadi sasarannya." Dia berkata sambil bersendakap dada, dan sorot matanya yang tajam, membuat Adi menelan ludahnya dengan kasar.
"Maaf sayang, suamimu ini khilaf." Ujar Adi.
Ck ... Ck ... Ck.
Dia berdecik lalu meninggalkan Adi dengan perasan kesal bercampur marah, karena sudah dikerjai suaminya yang teramat menyebalkan itu.
Adi baru ingat kalau istrinya tadi minta di belikan testpack atau (alat tes kehamilan) yang di pesan oleh istrinya.
Kenapa tiba-tiba De, minta di belikan alat tes ya? apa memang benar-benar hamil. Batin Adi tidak sabar karena segera ingin tahu jika betul istrinya sedang hamil.
Dia yang berada di kamar juga teringat akan pesanannya tadi, buru-buru membuka pintu kamar mandi. Berniat untuk memakainya setelah ini, agar dirinya bisa cepat mengetahuinya.
"Om, Om suami!" Dia celingukan mencari suaminya, namun tidak kunjung melihatnya.
Akhirnya Dia, memilih turun karena siapa tahu suaminya ada di lantai bawah.
Setelah berada di bawah. Mata Dia menelisir di setiap sudut ruangan namun suaminya masih belum juga terlihat batang hidungnya.
Langkah selanjutnya, Dia menuju ke arah dapur.
Benar saja Adi berada di dapur sedang menyiapkan makan malam untuk dirinya dan juga untuk istrinya.
Dengan lihai Adi menyiapkan semua dengan cekatan. Menata menu di atas meja, tidak lupa dengan segelas air putih di setiap meja, sesuai penghuninya.
Sedang Dia dengan senyuman liciknya, akan ganti mengerjainya.
TANG.
TANG.
TANG.
SREK.
__ADS_1
PAKH.
Atah ... Tah ... Tah... "Mak sakitttt," Adi langsung berteriak kesakitan saat teflon itu terjatuh dan mengenai kakinya.
"Huaaaa ... Sungguh kau tega De, lihat lah kakiku seperti terong warnanya ungu." Ujar Adi dengan posisi bersila dan meniupi kakinya.
"Gak sengaja maaf," Dia berkata sambil meringis.
"Gak sengaja kok bisa pas, apa kamu memang ingin balas dendam." Ucap Adi dengan tangan memegang tutup panci sebagai kipas, fungsinya untuk kakinya yang tertimpa wajan tadi, dan tutup panci itu gunanya untuk meredakan rasa sakit dengan cara di kipasi.
He ... He ... He.
"Dasar istri kagak ada akhlak," ketus Adi. Lalu ia berdiri karena rasanya tidak seperti tadi.
"Bodoh amat, salah siapa ngerjain orang dulu, ganti di kerjain sewot, yek." Setelah itu Dia meraih gelas dan meminum air yang ada di gelas itu hingga tandas.
"Iya, iya maaf." Lalu Adi berdiri menyelesaikan pekerjaannya yang sempat tertunda akibat ulah istri kecilnya itu.
"Oh iya, kamu tadi nitip alat tes buat apa?" tanya Adi dengan memandangi wajah istrinya dengan serius.
"Katanya sih buat ngetes kalau aku sedang bunting apa kagak."
"Gunting itukan yang buat gunting-gunting kertas."
"Alah sama saja, cuma beda huruf doang." Adi berkata dengan suara datar.
"Ya gak bisa gitu dong, gunting sama bunting itu beda jauh." Ujar Dia menjelaskan.
"Memangnya apa itu bunting, baru denger." Adi berbicara dengan rasa penasaran untuk saat ini.
"Bunting itu, orang hamil" Dia mencoba menjelaskan.
"Wah benarkah kalau istri kecilku ini sedang hami." Ujar Adi dengan wajah serta hati yang sangat berbunga-bunga.
"Belum di tes, jadi mana ku tahu." Dia menimpali perkataan Adi, karena ia juga sama seperti suaminya. Sama-sama ingin tahu hasilnya.
"Ya sudah buruan tes," titah Adi pada Dia dengan rasa tidak sabar.
"Tapi aku enggak bisa cara gunainnya," tukas Dia.
__ADS_1
"Baik lah, tunggu sebentar." Perintah Adi agar Istrinya tidak meninggalkan tempat nya sekarang.
Sedangkan Adi sudah berlari menaiki tangga untuk mengambil bungkusan yang sempat ia beli sewaktu pulang kerja tadi.
"Ah, ini dia." Adi bergumam seraya mengambil bungkusan tersebut dari dalam tas yang selalu ia bawa di saat kerja.
Dengan cepat Adi menyobek bungkusnya, tapi sebelum itu dirinya membaca keterangan yang ada di balik bungkus. Setelah cukup mengerti Di pun bergegas keluar dari kamar untuk memberikannya pada Dia.
SESAAT.
"De, coba buruan cek deh." Adi memberikan alat kecil dan panjang tersebut pada Dia.
"Aku enggak bisa caranya," tukas Dia.
"Kamu kencing lah dulu, terus kanu taruh di wadah kecil terus kamu celupin itu nya. Kalau garis dua bertanda positif, tapi kalau satu berarti kita harus bekerja keras lagi." Setelah Adi menjelaskan perihal cara menggunakan alat tes tersebut. Dia bergegas menuju kamar mandi untuk mencobanya sesuai yang di katakan oleh suaminya.
Adi duduk di kursi meja makan menanti kabar yang di bawakan oleh sang istri. Berharap akan segera menjadi sosok seorang ayah. Dalam doanya dirinya juga berharap kalau istrinya benar hamil.
Sedangkan Dia yang berada di dalam kamar mandi, telah melakukan seperti yang sudah di jelaskan oleh suaminya. Menaruh alat di tempat wadah kecil.
"Duh di mana kalau beneran hamil ya, gue kan belum siap jadi Mak." Ucap Dia pada dirinya sendiri.
Setelah 5 menit kemudian, Dia mengangkat alat berbentuk stik itu. Dengan mata terpejam Dia berharap kalau apa yang di takutkan tidak akan terjadi untuk sekarang.
Bukan tidak mau dengan anugrah yang di berikan oleh Tuhan untuk ia jaga bersama suami. Dia hanya belum siap mental untuk menjadi sosok Ibu karena secara umur dirinya belum bisa menjadi dewasa.
Alat tes kehamilan di pegang nya erat, lalu di buka dengan perlahan..
Setelah tau dengan hasilnya, Dia terduduk lemas di close. Melihat kenyataanya tidak sesuai ekspetasi nya.
Sesudah tau dengan hasilnya, Dia berjalan dengan muka yang murung, akibat mengetahui kalo ternyata dirinya benar-benar hamil.
Adi yang melihat itu lekas bertanya. Dalam hatinya ia bertanya-tanya? bukannya tadi istrinya itu ceria, tapi sekarang mengapa terlihat murung.
"De, kamu kenapa?" tanya Adi, lalu ia menatap wajah cantik sang istri. Dalam penglihatannya Dia sedang merakan kegalauan tapi Adi tidak tahu, karena ia juga bukan dukun. Jadi dirinya hanya mengira-ngira saja.
Dia tidak menjawab melainkan ikut duduk di depan Adi. Dengan wajah galaunya ia menatap sang suami lekat-lekat, sehingga membuat suaminya menjadi risih.
"Jangan melihatku dengan tatapan membunuh, De." Ujar Adi.
__ADS_1
Lagi-lagi Dia tidak menjawab, namun dirinya menyodorkan alat tes kehamilan pada Adi.
Adi meraihnya lalu dipandang dengan seksama. Kini mata Adi ingin sekali lompat dari kelopaknya karena sangat terkejut.