Jodohku Di Tangan Duda Somplak

Jodohku Di Tangan Duda Somplak
124. SALAH PAHAM


__ADS_3

"Kopi," kata Dia dengan melirik ke arah di mana cangkir itu berada.


"Aku akan meminum kopi dulu," ucap Adi.


"Makannya?" tanya Dia pada sang suami.


"Tadi kan sudah makan, dobel pula." Adi berkata dengan bibir yang terangkat.


"Kapan," Dia merasa jika suaminya sewaktu sarapan tadi tidak menambah.


“Masa kau lupa? apa kita akan mengulang lagi atraksi yang berada di atas kasur,” ucap Adi dengan diiringi gelak tawa dan seketika membuat wajah Dia merona bagaikan tomat.


“Dasar mesum,” tukas Dia.


“tapi kamu menikmatinya bukan,” goda Adi pada sang istri.


“Kamu ingin minum kopi atau memang berniat mengejekku,” kata Dia dengan wajah kesalnya.


“Minum kopi dong,” ujarnya Adi.


“Aku harap kamu tidak banyak tingkah,” sergah Dia pada suaminya.


“Setelah itu Adi tidak bicara lagi dn segera menyeruput kopi hitamnya, yang masih terlihat mengepul.


“Setelah itu makanlah, lalu kita akan ke restoran sambil menunggu Cahaya di sana.” Setelah berkata Dia langsung meninggalkan Adi dengan memegang cangkir tersebut.


Sedangkan Dia sudah turun ke bawah untuk berpamitan kepada anak buahnya.


Di dapur pukul Setengah dua siang.


“Rika, Mbak mau pulang kalian bekerjalah dengan semangat.”


“Iya, itu tentu.” Balas Rika.


Setelah itu Dia kembali ke atas untuk melihat suaminya yang berada di dalam ruangan.


“Sayang sudah makannya?” tanya Dia pada Adi,


“Aku masih kenyang, kalau mau berikan anak-anak yang berada di bawah.” Adi merasa sudah kenyang maka dari itu dirinya tidak berniat untuk memakan nasi, yang dibeli oleh istrinya.


“Ya sudah nanti biar aku berikan pada Rika biar di bawah pulang. Toh lauknya tidak jadi satu dan itu dipisah,” ujar Dia.


“Terserah kamu saja, sudah selesai belum?” tanya Adi pada sang istri.

__ADS_1


“Sudah, sekarang kita ke restoran.” Dia lalu mengajak suaminya untuk melihat restorannya.


“Yuk.” Lalu Adi beranjak dari tempat duduknya dan segera meraih kunci mobil yang berada dinakas.


tak berapa lama mereka berdua sudah turun dari lantai atas dan segera keluar untuk menuju ke tempat parkir.


Sekitar satu setengah jam, mereka berdua sampai di mana restorannya berada.


“sayang, memangnya kamu tadi menyuruh Cahaya untuk datang ke sini?” tanya Adi yang baru saja ia teringat.


“Iya, aku kan gak ada di rumah. Lagian aku gak ada sisa makanan, makanya aku nyuruh anak kamu buat makan di sini.” Jawab Dia menjelaskan.


Dia lupa jika stok makanan di kulkas tidak ada dan rencananya setelah pulang dari restoran, ia akan ke pasar untuk berbelanja sayur mayur. Di pasar jauh lebih murah daripada dirinya harus membeli di swalayan.


Mereka berdua sudah keluar dari mobil dan berjalan untuk masuk ke dalam.


Keadaan cukup ramai dan para pengunjung sedang menikmati acara makannya, ada yang bersama pasangan dan apa pula yang bersama keluarga tercinta.


"Sayang aku tunggu di ruangan kamu ya," kata Adi berbicara dengan sang istri saat Dia sedang, bertegur sapa dengan para pegawainya.


Jika lelaki lain sesudah mengantarkan sang istri ke tempat usahanya. Berbeda dengan Adi, Adi memilih lebih menunggu sampai istri tercintanya menyelesaikan pekerjaan. Lalu pulang bersama dengan orang yang sangat dicintainya.


Tadi Dia sempat menghubungi Cahaya untuk memintanya datang ke restoran. Sekalian ingin ada yang dibahasnya.


Sedangkan di sisi lain.


Cahaya yang sedang berjalan-jalan dengan Rury. Tanpa sengaja melihat Riki bersama dengan seorang wanita. Untuk memastikan jika penglihatannya salah dan berharap jika itu bukanlah Riki. Cahaya dan Rury mengintai setiap gerak-geriknya.


"Ry, apa menurut elu itu adalah om Riki?" takut jika Cahaya salah lihat, untuk memastikan dirinya bertanya pada Rury.


"Dari wajahnya sepertinya iya, tapi … Aku juga ragu untuk mengatakan jika itu betul-betul om kesayangan elu," tandas Rury pada Cahaya.


"Kalau memang betul, aku tidak akan mau kenal sama dia lagi. Cukup membuktikan kalau om Riki seorang pembohong," dengan meremas kedua tangannya Cahaya berbicara.


"Alangkah baiknya kalau elu mendengarkan penjelasannya dulu, elu jangan buru-buru mengambil kesimpulan yang nantinya akan merugikan diri sendiri." Suara tegas Rury tidak dihiraukan. Cahaya sepertinya sudah tersulut emosi sehingga tidak mau mendengar apa yang dikatakan oleh Rury.


"Ay, Aya. Tunggu!" Cahaya berjalan dengan langkah yang cepat untuk bisa segera menghampiri Riki.


Sedangkan panggilan dan teriakan Rury tidak di gubris sama sekali.


PLAK.


Satu tamparan mendarat di pipi mulus Rik, sehingga membuat Riki merasakan panas serta keterkejutannya akan kedatangan Cahaya, secara tiba-tiba dan memberikan tamparan yang cukup keras.

__ADS_1


"Kenapa kamu tiba-tiba menampar saya!" seru Riki dengan tangan yang masih berada di pipi.


"Dasar laki-laki brengsek! ternyata begini kelakuan elu di belakang gue ya," Cahaya sangat marah dan rasa hormat pun pada Riki sudah hilang seketika.


"Ay, kamu salah paham." Jawab Riki dengan memegang tangannya.


"Nyata-nyata gue lihat kalau elu sedang jalan berdua sama ini perempuan! masih mau ngelak," Gertak Cahaya yang sudah ke hababisan kesabaran dan sekarang. Hanya ada emosi yang yang sedang menguasainya.


"Makanya dengar penjelasan dari saya dulu," sergah Riki pada Cahaya yang kini sedang diliputi oleh amarah.


"Denger apa lagi, ini sudah jelas dan jangan ganggu gue lagi mulai sekarang!" dengan isakan Cahaya berlalu pergi meninggalkan Riki dengan perempuan yang terbilang cukup cantik dengan setelan blazer yang dikenakannya.


Argh.


Riki mengacak rambutnya secara kasar karena, rencananya berantakan hanya gara-gara salah paham.


Cahaya pergi dengan laju di atas rata-rata dan itu bisa saja membahayakan nyawanya.


"Pak, Bapak pergi saja dan kejar calon istri Bapak! maaf pertemuan kita sementara kita batalkan dan saya mohon undur diri untuk pamit kembali bekerja." Kata-kata yang di ucapkan oleh perempuan itu ada benarnya juga pikir Riki.


"Maaf, jika ada kesalahpahaman. Saya akan mengejar calon istri saya. Permisi," setelah berucap Riki pun langsung masuk ke dalan mobil dan segera mengejar Cahaya, ia tidak mau gadis yang dicintainya kenapa-kenapa itu karena ia harus mengejarnya.


Di dalam mobil Riki terus mengumpat, acara yang sudah di dusun hancur seketika dan Cahaya pergi tanpa mendengar penjelasannya.


Riki bisa bernafas lega karena Cahaya ternyata membelokkan mobilnya ke arah restoran dan juga, wanita yang amat berarti ternyata baik-baik saja.


Sedangkan Cahaya yang sudah turun dari mobil berlari guna menghampiri orang tuanya.


Cahaya berlari dan menuju ke ruang kerja sang mama.


Ceklek.


"Mama, Ayah!"


Huhuhuhu.


Cahaya langsung memeluk sang mama dengan sangat erat.


APA YANG TERJADI!


Suara sang ayah terdengar menggelegar di saat Cahaya masih berada di pelukan Dia.


"CEPAT KATAKAN, APA YANG TERJADI!"

__ADS_1


__ADS_2