
HUFFF..
"Akhirnya sampai juga di rumah." Gumam Dia, dan Adi mendengar apa yang di ucapkan oleh nya.
"Maaf kesayangan Om duda, istrinya om suami, tadi sempat buat kamu salah paham." Adi yang merasa tidak enak akhirnya meminta maaf pada Dia, atas kejadian tadi di restoran di mana dirinya sempat tidak membela.
"Iyah." Dia menjawab singkat, lalu dirinya berjalan ke arah sofa untuk merentangkan badannya yang sedikit remuk.
Ada-ada saja, main tuduh ngambil ponsel segala. Di kira gue enggak mampu beli dengan harga mahal, sekarang gue kan jadi orang kaya! bulanan gue saja lebih dari 5juta, masa iya nyuri. Dia membayangkan kejadian tadi, karena menurutnya itu sangat memalukan.
Sombong dikit kagak apa-apa kali ya, biarpun itu halu😁
Beberapa saat, laman-laman Dia mendengarkan suara adzan di kumandangkan. Hingga akhirnya ia mengerjapkan mata dengan perlahan.
Uh...
"Ternyata sudah magrib." Gumam Dia, lalu dirinya bergegas bangun untuk mandi setelah itu menjalankan ibadah shalat magrib.
Saat dirinya hendak melangkah, tiba-tiba Dia berhenti. Karena melihat sang suami ikut tertidur di ruang TV.
Ya, Adi berbaring di bawah. Yang hanya beralaskan kasur lipat untuk di buat tidurnya, dalam diam Dia memuji ketampanan lelaki berusia 36 tahun tersebut.
"Tampan, dan juga gagah. Meski kadang membuat kesal, aish apaan sih gue." Dia merutuki dirinya sendiri karena memuji Adi, sang suami.
Karena matahari akan segera tengelam, Dia berinisiatif untuk membangunkan suaminya, Adi.
"Om, bangun Om." Dia menepuk-nepuk bahunya berharap Adi akan segera bangun.
"Om, apa kau ingin tidur terus dan tak ingin bangun." Ujar Dia lagi.
Aaa..
Dia tersenyum, dan ingin membangunkan dengan cara lain.
Dia beralih menatap kaki sang suami, dan mengangkat celana kerjanya dengan pelan-pelan lalu.
Aaaaaaaaaa...
"Maling, maling tolong ada maling." Sesaat setelah Adi bangun ia terus berteriak maling.
"Woi, ini saya Om." Dengan hati yang tersenyum puas telah mengerjai sang suami, lalu dirinya menepuk-nepuk pipi Adi.
"Eh, kirain ada maling." Adi menyengir dengan kepala di garuk-garuk.
"Aish, menyebalkan." Dia menimpali.
"Ini udah mau magrib, makanya tadi saya bangunin." Ujar Dia.
__ADS_1
Dan setelah itu Dia berlalu meninggalkan suami nya di ruang tengah, karena Dia ingin segera mandi di sebabkan seluruh badannya terasa lengket.
Tak berapa lama kemudian, Dia sudah menyelesaikan mandi dan juga sudah melakukan tugasnya sebagai umat muslim, tapi belum melakukan tugasnya menjadi seorang istri.
"De, kamu mau makan apa?" tanya Adi yang masih memakai Boxser, dan rambut masih basah. Bau harum sampo menyeruak ke dalam hidung Dia, hingga larut dalam khayal.
"De," panggil Adi lagi.
"Eh, iya kenapa?" Dia bertanya balik kepada Adi.
"Di tanya kok bali tanya, atau jangan-jangan kamu nafsu ya lihat badan saya." Ujar Adi dengan PD.
"Eh ela, narsis amat jadi orang." Dia menimpali dengan membuang muka ke arah jendela.
"Ngaku kamu." Adi begitu senang menggoda Dia.
"Terserah, mau turun haus." Lalu Dia melangkahkan kaki untuk keluar dari kamar, agar otak nya tetap bersih dari pikiran kotornya.
"Tunggu," Adi memanggil.
"Apa!" Dia menoleh ke arah Adi.
Benar-benar mahluk tuhan yang paling seksi, ah." Ucap Dia dalam hati.
"Tolong bawakan juga untuk saya." Adi berkata sambil menggosok-gosok rambutnya dengan handuk.
"Wah, orang tua yang sangat pengertian." Dia berbicara pada diri sendiri dengan tangan masih memegang gelas untuk jus tersebut.
"Di kasih es, sepertinya enak." Ujar nya lagi.
Di tangan Dia sudah ada dua gelas jus jeruk dan siap untuk di minum.
"Om," panggil Dia.
"Makasih sayang," ucap Adi.
"Sama-sama."
Sesaat setelah meminum jus.
"Om, kenapa rasanya kok panas banget ya?" Dia bertanya pada Adi, apakah Adi juga merasakan hal yang sama atau hanya dirinya saja yang merasa gerah.
Sial, kenapa aliran darahku seperti ini. Adi mengumpat pasalnya dirinya juga merasakan apa yang di rasakan Dia.
"Kuat Adi, kuat."
"Om tadi bilang apa," Dia sedikit mendengar kalimat yang di ucapkan oleh Adi.
__ADS_1
"Bukan apa-apa." Ujar Adi.
" Om, apa Om tidak menyalakan AC. Sehingga hawanya terasa benar-benar panas, dan lagipula ini kan malam bukan siang." Adi sedari tadi tidak memperdulikan Dia yang sudah ngelantur ke mana-mana.
"Kamu mau apa!" seru Adi pada Dia, karena melihat Dia yang ingin melepas bajunya.
"Gerah, Om." Wajah Dia sudah memerah menahan sesuatu yang begitu dahsyat.
"De, kamu mau apa lagi?" tanya Adi pada Dia, karena Dia terus saja mendekati Adi. Meski Adi sudah menjauh hingga mentok di tembok.
"Ingin mainin bulu, Om. Yang ada di dada," Dia sudah kehilangan akal, tapi tidak dengan Adi. Adi mencoba menahan desiran yang ada di dalam dirinya.
"De, jangan macam-macam, atau gak kamu tau akibatnya." Adi sedikit berkata tegas, karena dirinya tak kau seperti ini.
Kenapa jadi seperti ini, argh sial. Umpat Adi di dalam hatinya.
"Panas, gue udah gak kuat." Dia lantas menaikan bajunya lalu dengan kilat membuangnya di sembarang arah.
"Tahan Di, tahan." Rutuknya, sembari mengusap kasar wajah nya.
"Om, aku udah enggak tahan. Seluruh badan ku panas," Dia mengeluh pada sang suami akan keadaan tubuh nya saat ini.
"Kita ke kamar mandi ya, supaya rasa panas yang ada di tubuh kamu hilang." Adi menarik Dia untuk masuk ke dalam kamar mandi agar efek obat itu hilang.
"Enggak mau, Om." Dia menolak, dan sekarang tak ada lagi kata kau dan saya di antara keduanya.
"Tapi, dengan begini tidak akan membuat kita kuat, De." Adi benar-benar frustasi.
Sedikit hilang kendali, namun Dia masih sedikit sadar juga, tentang apa yang dirasakannya sekarang.
"De, kamu mau apa?" tanya Adi dengan wajah yang sudah tak bisa di kontrol akibat Dia yang melepas baju nya.
Dia sudah melepas baju, dan sekarang celana. Dan saat ini yang tertinggal hanya lah Bra dan Cd.
"Om, tolong aku. Aku sudah tidak..."
Dengan cepat Adi membungkam mulut Dia dengan mulutnya, dan kini keduanya saling bertukar slavia.
Eummmm..
Dia melenguh menikmati sentuhan demi sentuhan yang di berikan oleh Adi, dan itu membuat Dia semakin menjadi.
Maaf, tapi aku saya juga tidak tahan dengan rasa ini, rasa yang sungguh membuat aku tersiksa. Batin Adi.
Adi melepaskan tautannya, dan memberi ruang untuk Dia bernafas sejenak.
Tapi tanpa di duga, Dia mendorong Adi hingga jatuh di atas kasur dan..
__ADS_1