
"Maaf ku kira kamu laki, eh ternyata kamu gadis." Dengan senyuman yang mengembang membuat nya semakin tampan.
"Makanya jangan lihat dari sampulnya, malu kan." Seru Dia.
"Sendirian kamu?" tanya pemuda yang tadi pagi sempat meneleponnya.
"Apa elu buta," Dia menatap jengah pada laki-laki yang berada di sampingnya.
"Oh iya, maaf."
"Untuk yang waktu kemarin mengapa telepon kamu matikan secara sepihak." Ujarnya lagi.
"Kemarin Handphone gue mati, kehabisan daya jadinya ko'it deh." Dia sengaja berbohong dan tak ingin seseorang tau kalau ia sudah menikah.
"Ya sudah mumpung kita bertemu di sini sekalian kita makan bareng," ajak Riki, kepada Dia.
"Boleh, tapi elu yang bayar ya," ucap Dia.
"Kan aku yang ngajak kamu." Jawab Riki.
"Masalahnya gue mau bungkus." Daripada berat sebelah lebih baik dirinya jujur kan.
"Tak masalah." Dengan wajah cool nya ia berkata.
Akhirnya mereka makan bersama. Dan Riki sesekali mencuri pandang ke arah Dia.
Ternyata cantik, dan gak kemayu, tapi bar-bar. Biasanya kalau ketemu cewek dan kalau di lihat dari jarak dekat pasti kelihatan bedaknya sekarung, ini mah benar-benar ciptaan tuhan. Meski gak makai bedak tetep cantik. Otak Riki sedang healing rupanya.. Membayangkan wajah Dia yang imut, tanpa memperdulikan piringnya yang masih penuh oleh nasi goreng.
"Woi..Woi.. Elu kesurupan ya." Tak di hiraukan meski Dia memanggil-manggil Riki, karena Riki sedang asik berkelana di dunia khayal.
"Wah bener kesambet ini anak." Gumam Dia lagi.
...----------------...
Wah kamu cantik sekali sayang pakai gaun ini.
Iya dong, Dia gitu lho.
Sayang gak nyangka deh bisa nikah sama kamu.
Iya aku juga, kamu malam ini terlihat tampan dan menawan Riki ku sayang.
__ADS_1
Wah iya kah.
Heem.
Boleh dong aku cium kamu dikit aja.
Tentu dong, apa sih yang gak buat Riki sayang.
Asik.
Siap.
Siap dong.
Gubrak.
Huaaaaa..
"Lho sayang mau kemana, katanya mau nyium aku, sini dong.. Aku uda gak tahan nih."
"Dia tolong!" Riki berteriak meminta tolong karena di kejar mahluk jadi-jadian.
"Makanya jadi orang itu jangan terlalu berkhayal." Ujar Dia, sambil menahan sakit perut karena melihat tingkah konyol Riki yang di sosor Angsa jantan.
Dia dan orang-orang tak henti-hentinya tertawa, sampai ada yang memegang perut karena sakit, ada yang memegang dadanya saking lucunya hingga terbatuk, dan ada juga yang sampai kentut akibat tertawa hingga yang bawa ikut tertawa juga.
Alih-alih membayangkan jadi manten dengan Dia, Riki malah apes di pepet sama produk gagal, alias bencong. Dan saat mereka sudah masuk di adegan ciuman, eh kursi kayu terbalik hingga membuat Riki terjatuh dan sadar...
Hu..hu..hu..
Terdengar deru nafas yang tak beraturan dari lelaki yang bernama Riki, lolos dari kejaran produk gagal tersebut.
"Eh Mas, membayangkan itu gak masalah, tapi Mbok yo lihat-lihat siapa yang mau di pepet, masa ia pisang ketemu pisang kan bikin geli." Ternya tukang nasi goreng yang berbicara pada Riki, dan Dia hanya tertawa membayangkan kejadian tadi.
"Bang, udah tau itu orang produk gagal, ngapa gak ngingetin saya, kamu juga De! Kan saya malu kalau kek gini." Sungut Riki yang sempat marah dan kesal pada penjual nasi goreng dan juga Dia.
"Yeah, siapa suruh ngelamun sambil senyum-senyum gak gak jelas, kan di samperin cewek cantik itu harusnya bersyukur elu itu." Ujar Dia yang masih tak bisa berhenti untuk tertawa.
"Cantik apanya, orang badan kek samson tapi gemulai, terigu sekarung buat bedak." Riki bergidik ngeri saat teringat tadi yang di kejar-kejar oleh mahluk jadi-jadian.
"Eh Mas, sampean gak boleh ngomong seperti itu, ngunu-ngunu laris yen nang pangkalan." ( kamu gak boleh bilang seperti itu, gitu-gitu laris lho di pangkalan) dengan di iringi gelak tawa, penjual nasi goreng itu masih saja teringat kejadian yang memalukan.
__ADS_1
"Yo ora ngnu kui pisan Bang, mosok iyo toh aku seneng karo seng model ngunu kui, koyo ora ono wong wadon ae." Papar Riki.
( Ya gak gitu juga Bang, masa ia aku suka sama yang model seperti itu, kayak gak ada perempuan saja)
"Wes, wes, ojo di baleni meneh, makae tah awakmu iku lak kate menghayal ojo di sembarang nggon, yo wes iki wes bengi aku kate pamit muleh, suwon lho yo wes di bayari, oh yo awas kegowo ngipi." ( Sudah, sudah, jangan di ulangi lagi. Makanya kalau kamu mau menghayal jangan di di sembarang tempat. Ya sudah makasih ya udah di bayarin, ya sudah ini udah malam aku pamit pulang, makasih lho ya uda di bayarin oh iya, awas nanti kebawa mimpi) Dia berkata sambil berlalu menuju ke parkiran di mana ucup berada.
"Ya sudah Bang, aku mau pamit juga, cewek incaran ku udah pulang." Lantas Riki pun pamit pada tukang penjual nasi goreng.
.
.
.
.
.
SEDANGKAN DI SISI LAIN.
Adi kebingungan mencari istri kecilnya saat keluar tanpa pamit, mau menghubungi pun juga percuma, karena gawai nya tak ikut serta di bawa.
"Aduh bocah, saya mau cari kamu kemana lagi, masa iya gara-gara soto mie kamu sampai kabur, aduh jangan dong." Sepanjang jalan Adi tak henti-hentinya berbicara sendiri sambil netra nya melihat ke kiri dan ke kanan siapa tahu nantinya akan bertemu dengan istri kecilnya.
"Uda malem, kamu kabur kemana sih sama si ucup, saya janji deh nanti kalau kamu udah gak marah lagi, besok aku yang masak." Gumam Adi lagi.
Sedikit jauh namun dirinya bisa mengenali plat motornya dari pantulan cahaya yang terdapat dari mobilnya, dan ia yakin kalau itu si ucup.
Sudah agak dekat akhirnya Adi memutuskan turun, untuk menghampiri Dia.
Bocah tengil ini, meski bar-bar tapi hatinya baik, gak salah kalau tuhan memberikan jodoh ku lewat peristiwa yang memalukan itu. Adi tak jadi menghampirinya dia hanya bersandar di mobil dengan menyilang kan kedua tangannya, dan matanya memancarkan keharuan saat dirinya melihat pemandangan indah, karena baginya tak semua orang akan peduli dengan sesama.
Dan terlihat Dia, sudah memasang helm bertanda bahwa ia akan pergi meninggalkan lelaki yang sudah rentan di makan usia, namun masih gagah memikul entah apa yang ia bawa.
Dia yang tak melihat keberadaan Adi, langsung saja menancap gas dan pergi memecah jalanan yang lumayan sepi.
Sedangkan Adi juga sudah masuk ke dalam mobil dan menjalankan mesin beroda empat tersebut.
DI RUMAH.
Dia mengerutkan keningnya, karena saat membuka pagar tak di temukan sosok orang yang menyebalkan.
__ADS_1
"Kemana Om duda, kok mobilnya gak ada." Gumam Dia.