Jodohku Di Tangan Duda Somplak

Jodohku Di Tangan Duda Somplak
95. UTAMAKAN SARAPAN 21+


__ADS_3

Waktu bergulir dengan cepat, Cahaya sudah berusia satu tahun. Tangisan dan kehebohan Dia, membuat Adi pusing. Namun ia sangat bahagia dengan itu semua, hari-hari yang mereka lewati begitu menyenangkan, di tambah Cahaya mulai bisa berjalan dan menyebut nama mereka meski tidak begitu jelas akan bahasa yang ia gunakan.


Pagi ini, Adi sudah memasak untuk sarapan istri serta anaknya dan kini ia sedang menghampiri istrinya yang berada di dalam kamar.


"Hye anak Ayah yang paling cantik," ucap Adi pada sang putri yang sedang asik bermain bersama sang ibu.


"Uat lumah-lumahan, tantik kan uatan aya." Jawab Cahaya dengan bahasa kas balita.


"Aduh, pinter banget sih anak Ayah." Adi memuji sang anak yang sedang bermain bongkar pasang di dalam kamar.


"Kenapa By?" tanya Dia.


"Sayang, yuk sarapan. Biar Aya sama si Mbak," ucap Adi pada sang istri.


Yah, Adi sengaja menyewa suster untuk sekedar membantu mengurusi si kecil, karena Adi tidak tega kalau istrinya kecapean.


Tidak berapa lama mbak yang mengasuh Cahaya datang.


"Nyah, non Aya saya bawa ke taman belakang ya sambil saya suapi." Suster Ella membawa Cahaya dan di bawanya keluar setelah mendapat anggukan dari Dia.


Sekarang di kamar hanya ada mereka berdua, lantas Adi juga mengajak Dia untuk keluar dari kamar putrinya.


"Sayang, sarapan yuk." Adi mengajak Dia untuk sarapan karena sekarang sudah pukul setengah tujuh pagi.


"Boleh, yuk." Jawab Dia dengan senyuman yang yang tersungging di sudut bibirnya.


Tidak banyak omong, Adi langsung menggendong Dia, dan itu membuat Dia berteriak.


"By turunkan aku!" Dia berteriak karena Adi membawanya berlari.


Bukan kah tadi suaminya mengajak sarapan? lantas mengapa dirinya malah di bawah ke dalam kamar?


Sepertinya yang tahu jawabannya hanya pasangan pasutri tersebut.


"By, mengapa kamu membawaku ke kamar. Apa kamu sengaja mengerjaiku?" tanya Dia dengan wajah polosnya.


"Suamimu tadi kan sudah mengatakan kalau ingin sarapan denganmu kan," ucap Adi dengan tatapan menggoda.


"Karena aku juga lapar, makanya aku mau." Jawab Dia.


"Iya dan sekarang mari kita sarapan," ujar Adi dengan langsung membekap bibir Dia dengan bibirnya.


"Sayang bibir ini sangat nikmat." Adi berkata sembari menyusuri setiap inci dari tubuh sang istri.

__ADS_1


Akhirnya Dia terperangkap oleh jebakan suaminya yang bernamakan sarapan. Hingga pada akhirnya Dia sekarang berada di kungkungan lelaki yang selama dua tahun menjadi suaminya. Hanya suara ******* yang terdengar saat ini.


Ahhhhhh.


Emmhh.


Lenguhan demi lenguhan di rengkuh oleh kedua pasangan yang sedang menikmati surga kenikmatan.


"Oh By, kenapa kamu semakin kuat ... Ah," ucap Dia dengan suara berat.


"Sayang ... Milikmu ini yang membuat juniorku bertambah kuat," balas Adi dengan nafas yang memburu.


"Sayang, lebih keras lagi ... Ahh, sayang." Dia terus berteriak menikmati setiap sentuhan serta benda yang berdiri tegak memasuki gua kenikmatan, dan itu membuat Adi memompa lebih cepat karena ia juga sangat bersemangat kala mendengar rengekan sang istri.


"Sayang, aku gak ... Kuat,"


Aaaah.


Tubuh Dia menegang begitupula dengan Adi, mereka sedang berada di puncak kenikmatan. Olahraga yang membuat badan lebih fresh dan enteng, di tambah menu sarapan yang sangat nikmat.


Saat ini mereka sedang berada di puncak lembah kenikmatan, setelah pertarungan antara Dia dan Adi di atas kasur. Mereka sekarang sedang mengatur nafas, keringat yang membasahi tanda mereka telah usai setelah setengah jam lamanya.


Adi ambruk, dengan wajah lelahnya. Begitupun dengan Dia.


"Sayang, terimakasih untuk sarapannya." Adi mencium pucuk kepala Dia, setelah mengucap kata terimakasih.


"Sayang tungguin!" saat Adi pun memanggil Dia tidak menggubris.


Akhirnya, Adi duduk di tepi ranjang dengan berte**njang dada. Menunggu istrinya selesai untuk bersih-bersih.


Sekitar lima belas menit, Dia telah keluar dari tempat ritualnya. Sekarang berganti Adi yang masuk, guna membersihkan keringat serta bau khas dari hasil percintaannya dengan Dia.


Sedangkan Dia yang berada di depan cermin menyisir rambut panjangnya.


Tidak begitu lama, suaminya datang dan merangkul dari arah belakang. Dengan masih menggunakan lilitan handuk.


Seketika Dia menelan ludah, karena matanya melihat penampakan yang sangat indah.


"Sayang, apa kamu ingin menambah sarapan lagi." Ucapan Adi membuat Dia seketika mendelik kan matanya.


"Apa kamu ingin membuatku tidak bisa berjalan!" suara ketus Dia membuat Adi justru tersenyum.


"Kalau bisa kamu akan ku kurung dalam kamar seharian." Jawaban yang membuat Dia langsung menjadi gemas.

__ADS_1


"Tidak terasa usia pernikahan kita sudah dua tahun," ucap Adi lagi.


Ucapan Adi membuat Dia seketika teringat saat awal-awal bertemu, dan selalu berantem. Namun siapa sangka hujan telah mempersatukan mereka hingga menjadi pasangan suami istri.


"Iya, By. Terus kamu juga bertambah cerewet," ucap Dia menimpali.


"Kamu ini, menghancurkan momen romantis kita saja." Adi mendengus kesal karena nyatanya istrinya tetap saja tidak bisa di ajak romantis seperti pasangan pada umumnya.


"Halah, aku ngunu wong jowo. Jadi yo ra seneng dandan lebay," ucap Dia sembari berdiri meninggalkan suaminya yang masih berdiri mematung.


(Halah, aku itu orang jawa. Jadi ya tidak suka lebay)


"Haduh, punya bini gini amat ya." Adi berkata lirih.


...----------------...


Di bawah Dia sudah berada di meja makan, akibat di buat suaminya sarapan pagi. Dirinya pun sekarang merasakan lapar, sambil menunggu sang suami datang ia meminum teh yang sudah dingin.


"Sayang, belum sarapan juga?" tanya Adi secara tiba-tiba.


"Nungguin kamu, By. Jawab Dia.


" Uhui, ada yang nungguin." Adi bersorak gembira layaknya bocah yang sedang memenangkan lomba.


"Apa mau aku tinggal," ucap Dia dengan muka kesal.


"Ya jangan dong sayang." Adi menimpali ucapan Dia sembari meletakkan bokongnya di kursi.


Astoge, gini amat ya punya suami. Kelakuan dah kayak ABG saja, dengus Dia dalam hatinya. Lagipula ia tidak bisa membayangkan kalau anaknya melihat kelakuan bapaknya.


"Sayang ngelamun saja." Adi menegur istrinya yang tengah terdiam dan meletakkan tangannya di dagu.


"Eh, iya kenapa sayang." Dia tersentak kaget karena mendapat tepukan dari sang suami.


"Kamu kenapa?" tanya Adi pada Dia.


"Eum, itu kemarin Indah bilang kalau hari ini mau datang. Dia memberi tahu soal kedatangan Indah pada suaminya.


" Tumben, ada acara apa?" Adi bertanya lagi karena ia sedikit heran.


Sedangkan Dia mengernyitkan keningnya.


Bukan kah Haikal itu asisten, plus temannya? tapi mengapa suaminya tidak tahu soal rencana mereka yang akan datang ke rumah.

__ADS_1


"Memangnya kamu tidak tahu, By." Ucapan Dia membuat Adi sedikit penasaran, kenapa bisa dirinya tidak tahu sama sekali tentang ini semua.


Dasar asisten gila, bisa-bisanya saya tidak tahu tentang rencananya apa? apa dia sudah tidak membutuhkan saya sebagai sahabat. Awas saja jika nanti bertemu, Adi terus mengumpat dalam hati dan akan membuat perhitungan pada Haikal.


__ADS_2