
Keesokan paginya.
Seperti biasanya Dia membantu Emaknya di dapur untuk menyiapkan untuk sarapan.
Kring..kring..
Dari arah dapur terdengar suara gawai milik Dia sedang berteriak memanggil sang empu.
"De, telepon kamu bunyi noh,"
"Iya Mak, ini mau di samperin." Jawab Dia.
Dan Dia pun berjalan ke arah kamarnya, karena antara kamar dan Dapur saling bersebelahan hanya ada tembok sebagai pembatas.
["Iya halo An, ada apa?"] Dia yang langsung menggeser tombol warna hijau, tanpa mengucap salam langsung saja ke pokok intinya.
["Assalamualaikum, dulu,"] ucap suara yang berada di sebrang telepon.
["Waalaikumsalam, maaf,"] sehabis di tegur Dia pun mengucap salam.
["De, hari ini kita tukeran sif ya,"] Andira meminta Dia menggantikan sif nya karena memang dirinya sedang ada acara dadakan, jadi setalah Andira mendapat kabar, dirinya pun mengabari Dia.
["Kenapa?"] tanya Dia penasaran.
["Ada kepentingan, mau kan kamu,"] Andira lega karena Dia mau menggantikannya.
["Baiklah,"] akhirnya mereka pun setuju.
["Ya sudah kita deal ya."]
["Yes,"]
["Assalamualaikum."]
["Waalaikumsalam."] Setelah menutup telepon Dia pun kembali ke dapur untuk melanjutkan membantu Emaknya.
Dan sekarang yang ada di pikiran Dia, tertuju pada makanan yang nanti akan diantarkan di rumah si duren(duda keren).
__ADS_1
"Ganteng sih tapi nyebelin" Gerutunya.
Jika teringat akan momen yang memalukan ingin rasanya Dia mencelupkan kepalanya di baskom.
Emang muat ya thor pakai baskom, bak mandi kan juga bisa kali.😒😒
Tak terasa pagi telah berganti siang, dan hari ini dimana hari pertamanya untuk memasak makanan yang di pinta oleh bosnya yang rada-rada.
"Mak, De mau keluar ya ada yang mau di cari," ucap Dia yang hendak berpamitan pada Emaknya.
"Di rumah ada karung gak ya, De?" Tanya Emaknya.
Namun Dia bukannya cepat menjawab melainkan berpikir keras, Emaknya mencari karung untuk apa, sedang kan beli beras saja kiloan mana ada karung.
Aduh thor kok nyesek ya kamu bilang kalau beli beras cuma kiloan🥺🥺🥺. Iya lah thor Emang emak ku kalau beli kiloan, kecuali bantuan turun baru dah karungan, Emak ku kan kismin thor jadi manusiawi lha. Oh gitu ya thor, moga deh ntar bisa beli karungan, dan jangan lupa beri ke aku satu zakat ya thor..Elah belum juga kebeli uda main minta, ya udahlah daripada saya ngomong sendiri, mending lanjutin nulis.
"Buat apa Mak, karungnya," jawab Dia, karena memang Dia begitu penasaran.
"Haduh, ini anak mah uda pikun kali ya," ujar Emaknya.
"Lha emang aku kagak ngerti Mak!" Sambil menghentakkan kaki Dia berkata.
"Mau nyari barang karena ada yang mau di beli," Dia pun mengulang ucapan yang hendak pamit ingin keluar.
"Apa hubungannya Mak, nyari barang sama karung," ucap Dia lagi, karena dirinya benar-benar tidak tahu, dan serasa menjadi gadis bodoh sedunia karena tak bisa memecahkan misteri antara jakarta dan pena. Aduh ini lidah emang bener-bener minta di iket biar kagak keluyuran. Maksudnya Author itu, antara nyari barang dan karung.
"Katanya mau cari barang, Emak Ikut ya sambil bawa karung,"
"Astaga Mak, geleng udah punya Emak modal begini," sambil berjalan ke arah keluar aku menepuk jidatku, karena geleng akan kelakuan Emak ku yang super.
"Lha emang ada yang salah ya," ucapnya tanpa dosa, seakan-akan Emak tak pernah berkata apa-apa.
"Karungnya enggak salah Mak, yang salah itu omongan Emak,"
"Gini amat ya punya orang tua modal gini, tuhan jangan ada lagi orang yang kayak Emak, cukup satu aja Ya Allah" Aku merutuki nasibku karena merasa apes, tapi biarpun begitu aku selalu menyayanginya. Dengan senyuman yang mengembang Emak lalu meninggalkan aku di ruang TV.
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
Pukul 12 siang. Di tempat Adi berada.
Adi yang sedari tadi uring-uringan karena sedang menunggu Dia yang tak kunjung datang membawa apa yang ia perintah kan kemarin siang. Di usapnya dengan kasar wajah karena Adi yang sudah kelaparan, itu dikarenakan sewaktu tadi pagi dirinya hanya meminum kopi dan memakan dua pisang goreng kesukaannya. Dan Ibunya hanya sesekali mengunjunginya karena rumah mereka terpisah, dan hidup masing-masing. Itulah alasannya mengapa Dia di suruh untuk mengantar makanan ke tempat di mana Adi tinggal.
Mana sih itu bocah, apa memang sengaja membuat saya mati kelaparan. Karena jam segini belum juga datang, awas kau ya jika sudah berada di sini. Adi yang terus saja mengumpat, karena memang perutnya segera minta di isi.
Sedangkan di dapur di mana yang kini Dia dengan peralatan dapur yang hendak di bawanya ke wastafel untuk di cuci, namun temannya menegurnya supaya perkakas kotor di biarkan dan temannya pun sudah menawarkan diri untuk mencucinya, namun Dia yang tak enak hati terus saja menolak karena merasa tak enak.
"Sudahlah De, biarkan di situ. Nanti gue yang akan membereskannya, nanti kalau kamu telat ngasih makan anak orang. Bisa-bisa nanti yang ada kamu di pecat." ujar Desita, karena ia merasa kasihan pada Dia jika harus memasak dan mengantarkan makanan dan juga harus membereskan peralatan yang di gunakan barusan.
"Tapi Sit, gue gak enak,"
"Tapi nyawa elu yang sekarang terpenting, cepat lah segera elu antar keburu orangnya mati karena tersedak ludahnya, karena ini sudah lewat di jam makannya." Desita terus saja memperingati Dia, karena Desita tak mau kalau Dia kenapa-kenapa.
"Ya sudah, makasih ya,"
"Iya sama-sama, elu hati-hati di jalan."
"Assalamualaikum." Ucap Dia yang berpamitan dan mengucap salam.
"Waalaikumsalam." balas Desita.
Kini Dia sudah menaiki kendaraanya dan sesekali bersenandung menirukan lagu favoritnya. Westlife, yang berjudul (My love) lagu kesukaannya, yang di bawakan Boyband tercintanya.
Tak berapa lama sampailah Dia pada rumah yang bercat hijau daun, dengan pagar tak terlalu tinggi, jadi bisa terlihat isi di baliknya itu. Yah sebelumya Dia sudah di beri kertas berisikan alamat lengkap, jadi bagi Dia tak terlalu sulit untuk menemukan alamat yang ia tuju sekarang. Di rasa benar dan sesuai dengan alamat yang tertera di kertas yang sekarang di pegang olehnya. Setelah benar-benar yakin Dia pun berdiri dan berjalan untuk menghampiri menuju gerbang.
Seakan Adi tau akan kedatangan Dia, Adi pun berjalan untuk menuju pintu gerbang. Berharap Dia sudah berada di sini, dengan membawa makanan.
__ADS_1
"Eh bocah, coba lihat sekarang jam berapa? Kamu sengaja mau buat saya mati kelaparan," cerocos Adi yang berada di pintu gerbang, tak di sangka niat ingin menunggu, namun malah dirinya yang di buat terkejut karena tiba-tiba saja Dia sudah berada di hadapannya.