Jodohku Di Tangan Duda Somplak

Jodohku Di Tangan Duda Somplak
BAB 19. Mak De, Mau Kawin


__ADS_3

Masih membahas Dia yang mau tak mau harus mau menikah dengan duda berumur itu.


Ya tadi akhirnya Ibunya Adi telepon untuk cepat segera pulang.


Dan sesampai di rumahnya, ternyata orang-orang itu sudah menyiapkan tanggal.


Benar-benar gila, apa iya cukup sampai di sini saat-saat masa muda gue, aish menyebalkan.


Batin Dia berontak namun mulutnya keluh untuk menolak.


.


.


.


.


.


Keesokan paginya.


Tidak mungkin Dia tak membicarakan akan hal ini pada keluarganya, Dia bingung, Dia galau, mengapa dirinya harus cepat-cepat menikah di usianya yang baru akan menginjak angka 18.


Dan kenapa pula dirinya harus menikah dengan duda berumur, sangat-sangat tidak adil bukan.


Dia tak henti-hentinya memaki laki-laki itu, karena dirinya ikut terjerumus dalam suatu ikatan yang rumit.


"Mak!" kebiasaan Dia, jika tak teriak serasa ada yang kurang.


"Kebiasaan kamu itu! Gak pakai teriak kenapa sih," sungut Emaknya.


"Ada yang kurang Mak." Sambil nyengir kuda Dia berkata.


"Noh sekalian pakai toa masjid biar ke dengeran."


"Nanti saja Mak, kalau ada acara nikahan ku aku bakal siarin biar sekampung kondangan sambil bawa amplop."


"Huh." Emaknya terkejut dong, orang Abangnya belum nikah masa ia dirinya main comot.


"Emang ada yang mau sama kek model kamu," ejek Emaknya sambil di iringi senyuman.


"Wah, emak ngeraguin aku, tentunya gak ada dong."


"Eh buset, bangga amat neng, hahaha."


"Itulah istimewa nya De, Mak."


Mak gak tau saja, ada yang ngotot pengen jadi suami De, sayangnya De, kagak suka Mak, dan siap-siap dah Emak bakal punya mantu. Sambil tersenyum geli Dia membayangkan, dan tanpa di sadari sosok Mak ita sedari tadi terus memperhatikan gerak gerik anaknya.


Bugh.


"Ngelamun saja sono."


"Aduh Mak, sakit tau Mak." keluh Dia, yang baru saja mendapat hantaman bantal dari emaknya.


"Lagian itu ngapa mulut di monyongin sambil geleng-geleng, huh."


"Ah Emak pengen tahu."


"Adanya tempe."


"Emakkk!"


"Teriak lagi Mak timpuk pakai sandal lu."


De, diam, tapi bibirnya jadi satu meter gara-gara di monyongin.


"Mak, De mau nikah,"


Uhuk.

__ADS_1


Uhuk.


Hacihhh.


"Apa lu kata,"


"Nikah."


Hacihh.


"Denger kamu ngomong hidung Mak kagak percaya, enak bener kalau ngomong nikah-nikah, noh nikah sama kambing."


"Emak nyebelin."


"Lagian ada-ada saja, orang pacar kagak punya mau nikah."


Hahahaha.


Mak Ita tertawa lepas, menertawakan Dia, sedangkan yang ditertawakan menahan kepulan asap yang berada di kupingnya agar tak sampai keluar, dengan menghela nafas dalam-dalam lalu di keluarkan dengan pelan.


Terlihat Kakaknya De, baru masuk dan mengerutkan keningnya karena merasa aneh dengan Emaknya yang tertawa terpingkal-pingkal sambil berguling-guling di hambal yang berada di ruangan TV.


"Mak kenapa De?" tanya Kakaknya karena penasaran dengan Emaknya.


"Kesurupan."


"Kok bisa,"


"Ya bisa."


"Habis dari mana emang."


"Dari denger gue yang bilang mau nikah."


Hahahaha.


Kini ganti Edo yang terpingkal-pingkal setelah mendengar Adiknya berbicara.


"Sumpah ngakak gue."


"Terus saja ketawa, ntar kalau ada yang ngelamar beneran bungkam dah itu mulut."


Kini mereka berdua sama-sama diam, yang Edo tau De, tak punya pacar, menurutnya tak masuk di akal, tak punya kekasih tapi minta kawin.


Setelah mereka berdua diam sejenak, kini Ibu dan anak itu kembali tertawa.


"guling-guling noh di depan bila perlu, atau gak di lapangan biar tampah enak, kagak percaya banget kalau gue bakal nikah" Gerutunya. Karena Ibu serta Kakaknya sama sekali tak mempercayai nya.


Kesal melihat tingkah mereka berdua, akhirnya Dia memilih meninggalkan mereka karena mendapat telepon dari bosnya itu.


["Halo, share lok, rumah kamu. Saya mau menjemput kamu karena ada hal yang perlu kita bicarakan."]


Tut.


Tut.


Tut.


Setelah itu sambungan terputus.


Resek banget itu orang, udah telepon gak pakek salam, main matiin pula, bener-bener duda edan. Dalam hatinya De, terus mengeluarkan umpatan.


Tak berapa lama lama terlihat mobil berwarna hitam yang cukup mengkilat terparkir di depan rumah De, dan semua itu membuat Edo, dan emaknya buru-buru keluar untuk melihat siapa pemilik dari mobil tersebut.


Terkejut jelas, siapa yang tak terkejut melihat De, masuk kedalam mobil itu, dan mulut mereka berkomat kamit karena kesal De, yang pergi menaiki mobil mewah sama sekali tak berpamitan pada mereka berdua.


Di dalam mobil.


"Apa ada yang penting," tanya De, tapi tatapannya masih fokus di layar gawai.


"Ada, dan bisa kah kamu meletakkan Handphone murahan itu."

__ADS_1


"Apa ada masalah dengan gawai murahan saya,"


"Ada, membuat mata saya perih."


Sombong. Gumam Dia.


"Apa kamu bilang sesuatu,"


"Iya, jika mata Bapak perih, berarti mata Bapak yang bermasalah dan itu bukan di sebabkan oleh gawai saya, paham."


Adi tercekat kala mendengar ucapan Dia, bocah tapi kalau bicara mirip cabe, seperti itulah kira-kira yang ada di pikiran Adi sekarang.


"Kenapa Bapak,"


"Belum jadi istri saya kamu udah berani ngelawan, bagaimana kalau sudah, terus pas itu tu, kelihatannya kamu ganas banget deh."


"Ulangi lagi coba,"


Hehehe. "Becanda kok."


"Dasar gendeng."


"Ngomong-ngomong itu artinya apa?"


Gusti ini orang kagak tau artinya gendeng, ah gue kerjain lu ya. Dalam hatinya dirinya bersorak ria, karena ini adalah sebuah kesempatan. Dan kesempatan itu tak akan datang untuk kedua kalinya.


"Artinya Bapak tampan."


"Sudah dari sananya saya tampan."


"Wah iya kah Pak,"


"Iya lah."


Ih sok kepedan ini orang, padahal mah kalau tau artinya bisa-bisa setruk. Gumam Dia di dalam hatinya.


"Ya sudah yuk turun uda sampai."


Lalu mereka berdua turun dan masuk ke dalam Cafe, dan mulai lah mereka saling menawar satu sama lain, yang pasti bukan barang ya yang di tawarin.


"Siapa yang akan mulai duluan," ucap Dia.


"Kamu saja yang duluan, saya kan menghormati perempuan."


Ciih..


Menyebalkan. Umpatnya dalam hati.


"Baik."


"Poin pertama Bapak jangan terlalu ikut campur."


"Poin kedua, ini nih yang paling penting, Bapak di larang menuntut hak, kepada saya."


"Dan yang ketiga, nafkahi saya dengan layak."


"Poin pertama, setuju."


"Poin kedua kalau enggak khilaf."


"Poin ketiga setuju." Jawab Adi. Dan dirinya sudah sepakat untuk poin satu dan tiga, untuk poin ke dua, entah lah apa iya bisa tak tergoda dengan Dia, yang sebentar lagi menjadi istrinya. Sedangkan dirinya normal.


"Makanya Bapak jangan dekat-dekat dengan saya."


"Kalau begitu ngapain saya punya istri." Keluh Adi.


"Udah tau saya ogah ngapain juga di paksa."


"Eh, tapi kalau kamu udah tau rasanya, isst emmm. Pasti kamu bakal nagih dan minta tambah, hujan-hujan berdua di kamar bercocok tanam, pasti enak."


"Mau coba," sambungnya lagi.

__ADS_1


"Bapakkkkk! mesum."


__ADS_2