Jodohku Di Tangan Duda Somplak

Jodohku Di Tangan Duda Somplak
BAB 42. Tidak 'Tahan'


__ADS_3

Ahhh...


"Kau ini ingin meracuni ku ya," ucap Adi dengan wajah yang merah merah serta keringan yang bercucuran.


"Aku hanya menuangkan cabai tujuh sendok Om, masa gitu uda tepar." Timpal Dia tanpa dosa.


"APA! Tujuh sendok, dasar bocah tengil. Memangnya kau ingin punya predikat janda ya," Adi sungguh kesal oleh ulah Dia, yang memberikan cabai ke mangkok bakso nya sampai tujuh sendok.


"Ya gak apa jadi janda, kan masih prawan juga, terus di mana salahnya." Dengan mulut yang masih mengunyah bakso, Dia berkata dengan santai.


"Ngunu ae kok yo di gawe ribet." Gumam Dia, dan terlihat Indah tersenyum dan ingin sekali tertawa, namun ia tahan. Karena takut dengan bosnya.


(Gitu kok di bikin repot)


Wah gak nyangka ya, ternyata konyol juga tingkah si bos, kek nya julukan yang cocok, bos somplak kali ya.


Dalam diam Indah membatin karena baru kali ini dirinya melihat tingkah konyol bosnya, apalagi jika sudah berdebat bos nya akan kalah telak dengan sahabatnya Dia.


"Kamu ngomong apa?" Adi bertanya tentang apa yang baru saja di ucapkan Dia.


"Ora omong opo-opo, dadi samean ojo kepo."


(Gak bilang apa-apa jadi kamu jangan kepo)


"Wes De, ngesakne bojomu, dilok talah, koyok manuk kuk."


(Sudah De, kasian suami mu, lihat lah sudah mirip seperti burung hantu)


"Bisa gak kalian ngomong pakai bahasa yang saya mengerti." Adi bingung mendengar celoteh dua perempuan di hadapannya, apa yang di obrolkan mereka adi sama sekali tak mengerti bahasa antara Dia, dan Intan.


"Bisa." Jawab Dia dan Indah.


"Bagus."


"Kita pulang, karena saya sudah tidak tahan."


Dengan wajah blingsatan Adi berkata, dan itu membuat Indah sedikit tidak nyaman, mendengat kata-kata tidak 'tahan' hingga otak nya traveling.


Apa bos sedang ingin anu-anu makanya si bos pengen cepet-cepet karena udah enggak tahan.


"Otak elu jangan ngeres ya, gue tau apa yang lagi elu pikirin." Dia bisa membaca dari raut wajah Indah, kalau sahabatnya itu sedang traveling ke puncak gunung.


Kenaps De, bisa tau ya. Kalau gue sekarang mikirin itu.

__ADS_1


"Sudah jangan berdebat, ayo buruan. Memang kamu gak kasian ngelihat saya yang udah keringetan begini akibat..nahan sesuatu."


Setelah melirik ke arah Indah, Adi berdiri dan hendak mengambil uang untuk membayar tiga porsi bakso, dan empat botol fruit tea.


"Saya tunggu kamu di rumah, dan segera antar kan teman mu itu yang berotak mesum." Adi berkata sembari masuk ke dalam mobilnya,


Sedangkan Dia sedikit terkejut dengan apa yang di katan oleh suaminya. Ternyata suaminya cukup peka juga dengan keadaan di cafe saat dirinya mengatakan kata tidak 'tahan'. Dan Dia pun sudah tahu akan kata-kata itu, jadi dirinya tak terlalu menanggapinya, tetapi. Tetapi temannya cara berpikirnya terlalu jauh.


Saat Dia sudah berada di depan rumah Indah, dan hendak akan pulang, namun suara dari Indah membuatnya tercekat. Dengan apa yang ia dengar saat ini.


"De, suami elu lagi pengen ya?" Dia yang tak mengerti maksud dari Indah, mengerutkan sebelah alisnya.


"Pengen apa?" Dia balik bertanya pada Indah karena Dia memang benar-benar tidak mengerti.


"Itu tadi, masa kamu gak denger sih." Indah kesal karena Dia belum juga mengerti apa yang ia maksud.


"Yang mana? Memang gue gak ngerti apa yang kamu maksud dodol." Dia mendengus kesal karena dirinya merasa jadi perempuan tulalit karena tak mengerti.


"Itu, pas Pak Adi bilang kalau beliau sedang tidak tahan." Akhirnya Indah pun menjelaskan.


"Dasar bodoh! Makanya jangan kebanyakan nonton vidio mesum dodol." Dia tak habis pikir kenapa temannya bisa berpikir sejauh itu.


Dasar ogeb, otak langsung nyantol kalau denger kata-kata tidak tahan, memangnya tidak tahan hanya ada satu yang ia tahu. Oneng-oneng gue gak habis pikir sama cara kerja otak elu.


Bumm.....


Dia meninggalkan Indah yang masih tertegun di depan rumah.


"Apa yang salah sama kata-kata gue ya? Gue kan cuma memastikan." Indah masih mencerna apa yang di katakan Dia padanya, dan mengatainya otak mesum.


Menurutnya kata tidak 'tahan' itu menjurus ke sana, tapi kok dirinya malah di katai dan Dia marah.


Ah sudah lah, bodoh amat. Mending masuk. Gumam nya sambil kakinya melangkah ke arah pelataran rumahnya yang sederhana.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


SEDANGKAN DI RUMAH.


Adi setelah sampai di rumah, buru-buru masuk ke kamar mandi karena dirinya sudah tak mampu menahan panggilan dari alam tersebut.


Tak berapa lama kemudian, dirinya sudah keluar dan menemui Dia yang berada di ruang tamu sambil meletakkan tangannya di wajahnya, bisa di sebut tangan yang menutupi wajahnya.


"Untung enggak diare." gumam nya sambil berjalan menuju di mana Dia berbaring.

__ADS_1


"Ini juga, udah sore belum juga mandi malah tidur." Adi menggerutu karena jam sudah hampir masuk bada magrib tapi istri kecilnya itu malah tidur.


Makan bakso tidak membuatnya kenyang, ia memutuskan untuk mencari makanan di dapur.


"Gak ada apa-apa, hem mie instan. Sepertinya enak." Gumam Adi, lalu dirinya memasak mie instan yang ada di laci dapur.


Tak membutuhkan waktu lama, telor ceplok dan mie sudah siap ia santap.


Aroma mie dan telor ceplok membuat hidung Dia kembang kempis maju mundur. Dan setelah itu dirinya bangkit dari sofa panjang untuk menghampiri bau itu berasal.


DI DAPUR.


"Hem gitu ya, makan mie gak pakai menawari istrinya,"


"Eh, kamu sudah sadar ya kalau kamu itu istrinya Om suami."


Ck..ck..ck...


"Auh ah, bagi dong mienya," Lalu dengan segera Dia meletakkan bokongnya di kursi.


"Siapa yang lagi makan mie sih," ujar Adi.


"Lha itu apa? Kalau bukan mie, cacing ya." Cetus Dia.


"Jorok ah kamu, saya lagi makan rendang, dan gak makan mie." Jawab Adi tak mau kalah.


"Apa Om suami buta, gak bisa melihat itu mie atau bukan." Dia yang mulai terbawa emosi, nyata-nyata yang di hadapannya itu adalah mie. Masih saja mengelak dan berkata jika dirinya tidak sedang makan mie, tapi sedang makan rendang.


"Kamu itu salah tapi ngeyel." Adi tentunya tak mau mengalah, karena yang di makan adalah rendang sesuai apa yang tertulis di bungkusnya


"Mana buktinya kalau Om sedang makan rendang," akhirnya Dia mengalah.


"Nih baca."


"Huh." syok, tentu. Terkejut, jelas. Dan hatinya mengumpat habis-habisan karena sudah di bodohi oleh suaminya.


"Gak usah terkejut, coba baca. Terus di mana salahku."


Dengan hati yang dongkol, Dia menurutinya untuk membaca keterangan yang ada di bungkus tersebut.


INDOMIE RASA RENDANG...


"Ommmm!"

__ADS_1


Hap.


__ADS_2