
Puas ku mencoba mempertahankan cinta ini. Betapa aku menyayangimu sepenuh hatiku, cintamu slalu ku kenang, walau belum engkau rasakan. Namun percayalah aku selalu setia.
🌸
🌸
🌸
🌸
Ya, Adi mencoba mengabaikan Dia. Berharap sang istri bisa menyadari bawa Adi sudah menautkan hatinya hanya untuk sang istri.
"Om, apa Om enggak sarapan dulu." Ucap Dia yang sudah menaruh makanan di atas meja dan menatanya.
"Tidak!" suara ketus Adi membuat hati Dia merasa sakit, karena sedari tadi dirinya di abaikan oleh sang suami.
"Kamu kenapa sih Om, sensi amat. Lagi datang bulan ya?" tanya Dia dengan suara lirihnya.
"Bukan urusan kamu." Lalu Adi bergegas mencari kunci mobil untuk di bawa entah kemana.
"Kamu hari ini dan seterusnya berangkat sendiri dan jangan menunggu aku," cetus Adi lagi.
Dia merasakan hatinya hancur karena suami dewasanya itu sudah tidak peduli dengannya. Dengan mata yang berkaca-kaca serta wajah yang lesu, lalu dirinya duduk di kursi yang ada di meja makan. Lalu menopang kan dagunya serta memikirkan tentang kesalahan apa yang sudah diperbuat olehnya. Sehingga suaminya marah padanya dan tentunya sikap yang menjadi dingin.
Jika Dia memikirkan akan hal itu, lain halnya dengan Adi. Adi yang berada di mobil sesungguhnya tidak tega untuk berbuat seperti itu. Akan tetapi itu harus dilakukan olehnya, agar Dia tau kalau Adi tidak sedang bercanda dengan rasa cinta yang di berikan olehnya, rasa sayang yang teramat tinggi, dan rasa ingin memiliki yang begitu besar, tapi. Perjuangan itu masih belum di raihnya.
Sedangkan di rumah. Dia sejenak untuk tidak memikirkan tentang perubahan sang suami secara tiba-tiba. Saat ini Dia sudah bersiap untuk berangkat bekerja meski rasa malas itu kini hinggap di dirinya.
"Saat ini sepertinya gue membutuhkan bantuan Indah," ujar nya pada dirinya sendiri.
...----------------...
Di restoran Dia benar-benar kehilangan Moodnya untuk melakukan aktivitas seperti biasanya. Hingga memutuskan untuk memanggil indah karena saat ini dirinya perlu teman curhat.
"Ndah, keruangan gue bentar." Dia memanggil Indah untuk menemuinya di ruangan pribadinya.
"Saya tinggal sebentar ya," ujar Dia pada semua karyawan yang ada di dapur.
__ADS_1
"Baik Mbak." Jawab mereka serempak.
"Ndah, jangan lupa." Setelah berkata Dia pergi meninggalkan dapur.
SETELAH ITU.
"Lu ada apa manggil gue, De?" Indah yang berada di ambang pintu pun bertanya dengan badan yang bersandar di daun pintu.
"Tutup dulu pintunya." Pinta Dia pada Indah.
"Ada apa, apa ada masalah yang penting?" tanya Indah sekali lagi.
"Suami gue tiba-tiba bersikap dingin sama gue, terus udah enggak banyak bicara juga. Menurut elu harus bagaimana," ucap Dia dilema dengan yang sudah terjadi terhadapnya.
"Elu merasa ada salah gak, sama si bos?" Indah bertanya sambil menopang kan dagunya di antara kedua tangannya.
"Kek nya enggak ada." Ucap Dia dengan penuh rasa yakin.
"Kamu yakin,"
"Yakin." Dia menimpali.
"Tadi pagi masih seperti biasa, tak berselang lama saat gue menghampiri di taman belakang untuk menawarinya sarapan, tetapi malah jawabannya membuat hati gue sakit." Dia mencoba menjelaskan tentang dirinya dengan sang suami tadi pagi.
"Apa elu sempet ngebentak Pak bos, dan membuatnya sedikit tidak nyaman."
Dia diam sejenak untuk mencari apa yang membuat suaminya itu berubah dengan sekejap.
Lebih dari sepuluh menit untuk mencari semua itu, tetapi belum juga di temukan.
"De, kurasa kamu harus memberikan kesempatan untuk suamimu." Ujar Indah.
"Maksudnya, gue sama sekali gak ngerti apa yang elu omongin." Ucap Dia menyimak dengan serius.
"Maksud gue. Pak Adi tulus sama elu dan gue bisa melihat dari cara bicaranya, cara memperlakukan elu, dan cara bagaimana menyikapi elu yang tergolong masih bocah, dari situ gue bisa menyimpulkan kalau Pak Adi memang sangat mencintai elu."
"Gue berharap elu bakal ngasih kesempatan untuk suami elu, untuk membuktikan jika dugaan gue itu benar. De, sebagai anak buah elu dan sebagai sahabat elu harapan gue, elu gak bakal nyia-nyian lelaki sebaik Pak Adi." Indah memberikan wejangan cukup panjang pada Dia. Dia pun hanya mendengarkan tanpa menyela ucapan Indah sama sekali.
__ADS_1
"Apa itu benar, Ndah?" Dia bertanya akan keraguannya.
"Yang bisa merasakan elu De, bukan gue. Benar atau gak lu juga harus bisa melihat, tentang tulus gak nya. Tapi yang gue lihat itu bener. Kalau suami elu beneran mencintai elu," sungut Indah pada Dia, dikarenakan Dia masih belum percaya dan itu membuat Indah sedikit gemes.
"Lantas sekarang gue harus apa," ucap Dia dengan wajah bingungnya.
"Boleh gue tanya." Timpal Indah.
"Silahkan." Jawab Indah.
"Apa elu mencintai suami elu?" tanya Indah pada Dia dengan rasa yang begitu penasaran.
Dia bukannya menjawab tetapi malah menggaruk kepala.
"Memangnya aku bisa mencintainya." Dengan tampang bodohnya, Dia malah menyerang balik pertanyaan itu.
"Mati saja kau, De." Geram Indah.
"Memangnya selama kalian menikah apa yang elu rasakan saat bersamanya. Misalnya saat sedang duduk atau mengobrol, bisa juga saat tidur bodoh!" Indah sudah tidak tahan hingga berteriak menyebut Dia bodoh.
Dia hanya tersenyum saat temannya sudah kehilangan kesabaran, saat harus berhadapan dengannya.
"Biasa aja ... Akan tetapi saat Om duda gak ada di rumah, sedikit merasa kesepian. Contohnya tadi pagi saat gue di acuhkan dan gue di bentak merasa sakit banget, terus sewaktu bersamanya sedikit rasa nyaman itu ada." Indah yang mendengar penjelasan dari Dia sedikit melebarkan senyum.
"Kenapa elu senyum-senyum gitu. Sudah mirip kek orang gila saja," seru Dia pada Indah lagi.
"Artinya elu uda punya perasaan yang sama, sama seperti Pak Adi. Sayangnya elu belum menyadari akan hal itu. Mulut elu berkata tidak! tapi berbeda dengan hati elu, De." Ujar Indah menjelaskan.
"Akan kah itu terjadi, Ndah. Pasalnya gue gak ada rasa cinta sama sekali dengannya," Dia menjelaskan.
"Gak ada rasa cinta, namun elu punya rasa nyaman saat bersamanya bukan." Ujar Indah.
"I-iya." Dia menjawab dengan terbata.
"Datangnya cinta, itu berawal dari rasa nyaman. Cuma elu masih belum sepenuhnya menyadari akan hal itu! pesan gue baik-baikin laki yang kek gitu. Soalnya kalau kadung sakit takutnya dia bakal pergi, elu mau seperti itu." Tegas Indah pada Dia, berharap Dia mau merubah sikap bar-bar nya sedikit saja.
"Gue gak mau." Jawab Dia.
__ADS_1
"Udah kelihatan dari wajah elu, ogeb." Indah tertawa karena melihat sikap Dia yang terlalu munafik menurutnya.